20 Mei 2014

Anak Panah (Part 02)

Berita kematian Archie segera menjadi headline semua koran di seluruh dunia. Sprig tersenyum, dia bukan senang dengan kematian ini. Siapa pula yang bisa mentertawakan kematian?. Ia sedang dalam tugas kemari, menyelidiki sesuatu. Dan kasus ini, sangat membantu sekali. Tugasnya memang jadi lebih banyak, tapi akan menyamarkan tugasnya yang sesungguhnya. Apalagi, jika misi ini sukses, mungkin akan meningkatkan karirnya (?). Sprig, memang tidak punya jabatan tinggi. Reputasinya juga tidak bagus. Meski begitu, menjadi polisi adalah cita-citanya sejak kecil. Ia ingat dulu pernah membuat kelompok detektif sewaktu di Asrama, bukan.. Bukan akademi polisi. Semacam sekolah menengah. Ia juga ingat dengan orang itu, orang yang suka pura-pura tidak mau ikut campur, tapi malah menyelesaikan semuanya sendiri.

Ah, lupakan orang itu. Ia harus cepat-cepat membuat laporan. Sprig memandang tape-nya. Aneh juga dia menggunakannya untuk interogasi kemarin, tape itu sudah kuno. Dan lagi, bukankah lebih baik menggunakan kamera? Seseorang tidak bisa menyembunyikan gerak tubuh ketika berbohong, seperti menggaruk hidung, melirik ke kiri, meminum banyak air.

"Yah, seharusnya aku menggunakan kamera. Bukan tape.." Sesalnya.

Ia memutarnya. Pertama ia mendengar introgasinya dengan Eddy Brood


***

Differ, kini duduk di tempat yang sama di lapangan panahan. Ia menyaksikan Flo dan Theo yang sedang berlatih. Hana duduk di sampingnya, sepertinya ia sudah berlatih sejak pagi. Sementara Emily, Eddy dan Rene absen. Walau sebenarnya, tak ada jadwal khusus untuk latihan. Seperti yang kita tau, Rene baru saja melihat manusia meninggal di depannya, ia pasti shock. Apalagi, Eddy, kakaknya meninggal, dia pasti sibuk dan sedih (meski hubungan kakak-adik ini memang aneh). Dan, Emily, sepertinya ia memang ada perasaan spesial pada Archie, jadi yah..

"Cukup untuk hari ini" Hana bangun dan mengajak semuanya minum teh.

"Teh yang enak Miss Hana, boleh ku minta beberapa? Untuk temanku di kota?" Kata Differ

"Tentu, biar ku ambilkan" Hana masuk kedalam, melewati ruangan penuh kilauan menuju dapur. Differ memperhatikannya dari teras, tunggu... ada yang salah.

"Kemana anak panah dalam kotak kaca itu?" Tanyanya pada Flo

"Disita polisi Miss Differ" jawab Flo

"Kenapa?"

Theo menelan ludah, lalu menjawab pertanyaan itu. "Karena anak panah itulah yang membunuh Archie"

Differ terperangah mendengarnnya dan baru menyadari satu hal.

"Ini Miss Differ, semoga teman anda suka" Hana memberikan beberapa bungkus teh hijau. Differ menatap mereka bergantian, tatapan takut.

"Ada apa Miss Differ? Kenapa memandang kami seperti itu?"

"Ah maaf," Differ memasukkan teh-teh itu ke tasnya.

"Yah, sudah waktunya makan siang. Di pondok ini, tak ada apapun selain camilan. Kau mau ikut Maurice?" Tanya Theo

"Kemana?"

"Makan siang, ke rumah Flo"

"Hei! Tak ada yang mengundangmu!" seru Flo

Maka mereka pergi ke rumah Flo alias rumah Hana alias rumah Emily alias rumah Rene juga. Rumah besar yang hanya terpisah beberapa rumah dari rumah Theo itu adalah warisan dari paman Rene. Ya, keluarganya memang kaya di tambah Rene adalah keturunan terakhir keluarga Coney. Semua uang dari sanak-saudara selalu jatuh ke tangannya. Hal itu membuatnya merasa tidak perlu bekerja.

Suasana rumah begitu sepi. Sepertinya Emily dan Rene sedang tidur. Mereka mulai memasak, ada ayam yang siap dipanggang di kulkas.

"Anda punya banyak sekali teh hijau ya.." Tanya Differ seraya melihat ke arah lemari kaca yana tertempel di dinding

"Ya, aku menyukainya"

"Apakah di negara anda juga ada tradisi minum teh?"

"Oh ya, Ada. Hanya saja kami tidak menyukai teh yang kental sebagaimana anda"

Differ, mengangguk-angguk. Puas dengan jawaban Hana, perkiraannya selama ini benar.

"Tidakkah kita harus mengundang Rene dan Emily juga? Theo, bagaimana menurutmu?"

"Ya, itu ide bagus. Aku akan ke atas mengundang mereka"

Semuanya sudah berkumpul di meja makan. Walau dengan perasaan tidak enak. Bahkan duo cerewet Theo dan Flo tidak bisa mencairkan suasana. Sebagaimana kita tau, Archie tewas ter/dipanah oleh seseorang, dan Anak Panah 'spesial' yang kini disita polisi adalah anak panah yang sama dengan anak panah dalam kotak kaca. Hal ini berarti, salah satu dari anggota klub panahan-lah yang membunuh Archie.

Rene selesai lebih dulu, Ia langsung pergi ke kamarnya. Begitu pun Emily. Hana, Theo, Flo dan Differ kini duduk di meja makan, mereka juga sudah selesai tapi tak ada yang beranjak

"Menyebalkan!" Seru Flo, semua mata langsung tertuju padanya. "Sikap apa itu? Pergi begitu saja, tidak tau sopan santun!" lanjutnya ketus

"Mereka sedang berduka" jawab Hana bijak "Kehilangan seorang teman, apa kau tidak sedih?"

"Archie juga temanku, tapi ia tidak seharusnya ditangisi terus-menerus"

"Ya" kata Differ "kejadian ini baru kemarin, mereka akan baik nanti" Semua orang mengangguk setuju.

"Nah Theo, karna kau diam saja.. Lebih baik kau cuci piring!" Seru Flo

"Hah? Eh, Maurice! Ayo kita pulang! Bibi Jane pasti sudah menunggu" katanya sambil beranjak, Differ mengikutinya dari belakang

"Huh!" Flo mendengus lagi "dia sama menyebalkannya"

Sikap seseorang yang langsung pergi setelah makan memang menyebalkan. Tapi, bagaimana jika itu sebuah pertanda. Misalnya, akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan? Seperti yang terjadi pada Rene. Beberapa saat setelah makan siang yang tidak nyaman itu.. Ia mengalami kejang dan sesuatu yang di sebut Flo dan hipotensi juga aritmia. Ia keracunan, mungkin karna kokain atau amfetamin bisa juga MDMA, dekongestan, Intoksitasi teofilin dan Intoksikasi kafein. Istilah yang aneh, tapi bagi Flo yang notabene seorang apoteker, Rene keracunan kokain. Untungnya ia masih bisa selamat, pertanyaannya siapa yang meracuninya? Apa ini bunuh diri atau semacam pembunuhan berantai? Yang jelas, hal ini akan membuatnya banyak diam, ketakutan.

***

Hari ini ia, Theo dan Bibi Jane sedang sarapan dengan segelas kopi. Theo memilah-milah beberapa surat, dan menyerahkannya pada Bibi Jane.

"Ada surat untukku Theo?" Tanya Differ

"Hmm" Theo memilah-milah surat lagi. "Tidak ada" katanya. Differ menganggukan kepalanya.

"Theo!" Katanya tiba-tiba.

"Ya!" Theo agak kaget

"Ceritakan padaku lebih detail tentang anak panah itu, anak panah dalam kotak kaca" katanya

"Oh.." Theo melepas kacamatanya. Tidak sulit menyuruh Theo bercerita, dia memang senang bercerita.

"Panah itu merupakan panah spesial. Konon pernah direndam air suci. Karena ke-sakral-annya, beberapa kali pernah hampir dicuri, maka kami memasukkannya dalam kotak kaca yang terkunci. Kuncinya sendiri, seperti yang kau tau, hanya diketahui anggota senior di mana letaknya. Semua orang boleh menggunakannya, terutama ketika merasa akan menggapai suatu prestasi paling besar dalam hidupnya. Sebagai kenangan dan penyeimbang, di sisi lain ukiran "keberuntungan" itu diukir pula inisial nama penggunanya. Bisa nama keluarga ataupun nama kecil"

"Nah," kata Differ, merendahkan suaranya "Bagaimana kabar terakhir anak panah spesial ini?"

Theo menelan ludah, ia tidak suka topik ini "Yah, ada inisial baru di anak panah itu"

"Oh, ya?" Differ heran, seharusnya si pembunuh tidak meninggalkan jejak, atau itu jebakan?

"E. Inisialnya E. Ditulis setelah enam huruf sebelumnya" katanya

E? Differ mengingat anggota Klub berinisial E. Emilia dan Edison. Eh, tapi seperti katanya tadi, ini bisa saja jebakan bukan?

"Ya ampun!" Seru Theo. "Aku tak percaya ini!" Katanya lagi

"Jangan ribut Theo!" Kata Bibi Jane

"Millicent, Armstrong, Ursula, Rockburry, Illy..."

"Aku tau mereka, mereka pemanah profesional kan?" Kata Differ

"Coney, dan sekarang E!" Theo melanjutkan. "Mereka juga pengguna anak panah ini" Theo bersemangat

"Aku tidak tau Miss Coney pernah mencapai prestasi paling tinggi dalam hidupnya"

"Inisial mereka Differ! Inisial mereka!!" Kata Theo

"Kau kenapa sih Theo?" Differ heran melihat dia begitu menggebu-gebu

"Inisial! M, A, U, R, I, C, dan sekarang E!!" Kata Theo. Maurice Differ tersedak. Theo tersenyum. "Ini aneh sekali" katanya lagi. "Baiklah, aku harus pergi" Theo berdiri dan keluar rumah dengan pakaian formalnya

Differ meminum segelas air putih.

"Itu benar-benar aneh. Bibi, apa yang dikatakan Theo tadi benar?"

"Mana aku tau"

"Ah, Bibi ini.. Eh, Theo akan kemana dengan pakaian se-rapi itu?"

"Bekerja.."

"Dia bekerja?"

"Tentu saja, seorang pria harus bekerja" kemudian dia melanjutkan "aku tidak yakin apa nama pekerjaannya. Dia mengurus imigrasi, izin tinggal.. Seperti itulah"

"Aku hanya tidak percaya dia bisa bekerja"

"Dia cukup efisien. Mengerjakan sesuatu dengan cepat bahkan hampir tidak terlihat. Lihat, surat yang tadi diberikannya padaku. Ini formulir, dia sudah mengisinya, aku hanya perlu menandatanganinya"

"Formulir apa itu?"

"Panti jompo"

"Bibi akan masuk panti jompo!?" Differ kaget

"Ya, beberapa bulan lagi"

"Tapi, Bibi masih muda.."

"Ohya? Aku tersanjung mendengarnya. Tapi, aku cukup waras untuk mengetahui kondisiku"

Setelah selesai sarapan Differ, pergi ke kantor pos untuk mengirim sesuatu lagi pada temannya. Kali ini bukan pada Ashley juga bukan hanya surat. Ia ingat akan seorang temannya yang sangat suka budaya Asia, maka ia mengirimkannya beberapa bungkus teh hijau. Differ, menanyakan apa saja kandungan gizi yang membuat teh hijau menyehatkan. Sebenarnya Differ tidak bersungguh-sungguh menanyakannya. Ia hanya ingin membuat temannya yang seorang ahli kimia itu senang karena mendapat pekerjaan "Meneliti Teh Hijau"

Di kantor pos, Differ bertemu dengan Emily. Wajahnya terlihat semakin sedih setelah kejadian tempo hari.

"Apa yang ingin anda kirim Miss Dye?" Tanyanya

"Oh, ini beberapa surat warisan"

"Beberapa? surat warisan?"

"Aku, Rene, Flo juga Hana pernah bersama-sama membuat surat warisan. Dan Flo bilang ini saatnya mengirimkannya ke pengacara"

"Apa dia takut akan sesuatu?"

"Entahlah, ia memang mempunyai insting yang tajam"

"Begitukah?"

"Ya, aku rasa"

Differ bertanya-tanya apa benar Flo memiliki insting yang tajam atau mengetahui akan sesuatu? Seperti Robbie misalnya. Ia selalu bilang kalau dirinya mempunyai insting yang tajam, padahal dia hanya sudah tau dengan apa yang terjadi, tau dengan cara yang wajar. Apalagi, setelah kejadian keracunan kemarin, jangan-jangan Flo khawatir kalau kalau mereka akan mati

Differ dan Emily pulang bersama-sama.

"Kalau boleh tahu, maaf jika saya lancang.." Tanya Differ

"Ya?"

"Kepada siapa akan diberikan warisan anda?"

"Apa?!"

"Eh, anda tidak harus menjawabnya"

Emily berpikir sebentar, "anda bisa dipercaya kan?"

Differ membuat gerakkan di depan mulutnya. Tanda dia akan mengunci mulutnya soal itu

"Bukan hal besar" katanya "kami semua sepakat, akan memberikannya sebagian pada keluarga terdekat, juga Klub panahan dan anggotanya"

"Terdengar wajar" kata Differ "udara hari ini, dingin sekali.. Aku tidak mengerti, padahal ini musim panas"

"Masa sih" Emily melihat sekitarnya. Ia tidak memakai mantel. Differ hampir lupa, Emily tidak peka pada cuaca. "Dingin itu kemarin.. Saat kematian Archie, anginnya berhembus kencang sekali" lanjutnya

Ternyata ia tidak benar-benar tidak peka pada cuaca pikirnya.

Bersambung~

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^