Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

Penempuhan Badge Ambalan SMAN1C 2014-2015 (Hari Kedua)

Gambar
(Hari Pertama)
Kami dibangunkan jam 4 (ngaret -_-) dengan senter, dan diminta berbaris di lapangan. Kebanyakan langsung bergegas sikat gigi dan cuci muka namun panitia bilang hal itu bisa dilakukan nanti setelah subuh--jadi saya tidak sikat gigi pagi itu--. Pagi itu, kami diberi kertas berisi petunjuk mengenai suatu tempat, ditempat itu kami akan menemukan badge ambalan. Mungkin inilah inti acara 'Penempuhan Badge Ambalan' ini.
Sangga saya mendapat petunjuk "Jam Dunia". Tentu saja kelompok saya langsung menuju meja piket dimana ada jam yang menjadi patokan seluruh sekolah.

Penempuhan Badge Ambalan SMAN1C 2014-2015 (Hari Pertama)

Okelah, memang rasanya aneh bikin cerita kehidupan pribadi saya di sini. Sesuatu yang selalu amat saya hindari, tapi kini saya lakukan. Tapi yah, gak apa-apa lah, sekali-kali. Sekarang udah susah nemu orang yang mau dengerin cerita saya yang panjang lebar (mungkin belum), so let me tell you a storyJ
Penempuhan Badge Ambalan SMA Negeri 01 Ciawi, bisa dibilang adalah kegiatan camping di sekolah selama dua hari satu malam. Ini bukan definisi sebenarnya karena arti kata Penempuhan Badge Ambalan sendiri terdengar seperti usaha untuk mendapat Badge Ambalan, iya kan? Oke, langsung aja, saya berangkat dari rumah jam 11.00 WIB dengan asumsi akan tiba pukul tepat 12.30 (menjelang weekend, siang, dan puncak. Kalian tau bagaimana keadaanya) Membawa tas gendong berisi kebutuhan pribadi dan tas jinjing berisi natura, serta berpakaian pramuka lengkap.

Pencuri di Asrama - 1

Saat itu sudah pukul 9 malam, kebanyakan siswa sudah di kamarnya, walau sebenarnya mereka masih boleh berkeliaran di lingkungan asrama sebelum jam tidur pukul 10 malam nanti. Langit cerah malam itu, bintang akan terlihat indah andai saja asrama itu tidak terlalu terang. Maurice sedang dikamarnya bersama Ashley, mereka membicarakan hal-hal yang tidak penting tapi menyenangkan. Walau disaat yang sama, Maurice sedang menunggu sesuatu yang menurut Robbie akan datang pada pukul 9:30. 
"Makanya kubilang mangkuk itu lebih berguna--" Kata Differ 
"Tapi tugas piring yang utama adalah menampung makanan kering!" Sahut Ashley
"Aku kan sudah bilang kalau mangkuk juga bisa melakukannya, dan piring tidak bisa menampung makanan basah" 
"Bisa saja, kalau makanan itu tidak terlalu basah. Piring masih memiliki cekungan" 
"'kalau' tidak dihitung" Maurice merasa sudah menang 
"Eh, aku ingat! Bagaimana dengan pizza? Mangkuk tidak cukup luas un…

Bahaya

Gambar
Baru beberapa bulan aku bekerja di perusahaan ini, sebelumnya aku menganggur dan menggantungkan hidupku pada ayah. Ayah memang baik, walau ia sedikit mengekangku, melarangku bersosialisasi dengan orang-orang yang bisa berlaku buruk padaku. Tapi kini ayah sudah meninggal, dan aku harus membiayai diri sendiri. Untungnya melalui Gerry, aku bisa mendapat pekerjaan ini dengan mudah, dan disini banyak teman-temanku sewaktu SMA.
Hanya saja, akhir-akhir ini ada hal aneh yang menimpa kantorku. Selama sebulan, ada dua orang meninggal. Yah, tak masalah sih jika saja mereka bukan rekan kerjaku dan tidak meninggal di gedung ini. Entahlah, rasanya seperti ada yang meneror kami.
Yang pertama adalah Bu Feni, ia adalah bosku. Orangnya tinggi dan cantik walau harus diakui dia sering sekali marah-marah padaku, juga agak sombong. Lalu Mara, ia juga cantik tapi kelakuannya seperti pelacur saja, terakhir dia memamerkan tas baru dari perancis yang membuat panas wanita seisi kantor, terakhir sebelum ia meni…

Bunga Hitam

Gambar
Terdengar suara bedebum ketika aku sampai di rumah. Dan yang kulihat di depan mataku kini adalah kakekku diantara reruntuhan tembok. Di sebrangnya seorang pria mengangkat tangannya ke depan.

"Kakek!" Seruku, kakek tidak bergerak. Malah pria itu menengok kearahku dengan pandangan tajam. Aku kaget bukan kepalang ketika mengetahui siapa dia, lebih kaget lagi melihat pola bunga hitam di sudut-sudut matanya.

Anak Panah (Part 05)

Warning : Ini adalah part terakhir dari cerbung Anak Panah, jika anda pembaca baru. Saya sarankan membaca dari Part 1 di sini. Anda telah diperingatkan *jadi serem gini* Theo sedang menonton televisi ketika Differ pulang pukul sembilan. Ia memandangi Theo sedih, lalu ikut duduk menonton televisi

"Dari mana Maurice?" Tanyanya
"Mrs. Beauchamp" katanya tegas
"Eh, apa yang kau lakukan?"
"Hanya berkunjung" jawab Differ lagi
"Berkunjung?"
Differ tidak menggubrisnya dan memandang Theo kasihan. "Theo," panggilnya
"Ya?"
"Lebih baik kau jauhi Flo"
"Eh, kenapa tiba-tiba membahas Flo?"
"Kalian tidak akan cocok, dan dia tidak pantas untukmu"
"Apa?"
"Aku sudah tau, aku sudah tau siapa yang membunuh Archie, juga meracuni Rene"
"Apa maksudmu kau sudah tau?" Theo benar-benar heran
"Aku sudah tau, perempuan itu, bisa-bisanya dia membohongiku. Aku sudah tau, jadi kau ha…

Anak Panah (Part 04)

Begitu Differ sampai di rumah, lagi-lagi ia mendapati suasana lengang. Ia tidak menemukan bibi Jane di manapun, tapi ia tidak yakin jika Theo bekerja. Ia ingin mengobrol sekarang, maka ia pergi ke Klub Panahan untuk memastikan apa ada orang di sana. Benar saja, setidaknya ia melihat ada dua orang yang sedang berlatih dan seseorang yang duduk di kursi panjang. Awalnya ia pikir yang duduk itu adalah Hana, ternyata dia Flo.
"Anda tidak berlatih Miss Slicker?" Tanyanya Differ. Bukannya menjawab, Flo malah menatapnya marah
"Bisa anda memanggil saya dengan Flo saja?"
"Eh, maaf saya tidak tahu anda tidak suka"
"Akhir-akhir ini semua orang menyebalkan"
"Ada apa?"
"Lihatlah, kami bahkan hanya berlatih bertiga"
"Lalu? Aku kira bahkan klub ini sebentar lagi bubar" Differ lalu tertawa sejenak
Flo memandangi Differ lagi, "kami tidak akan bubar Miss Differ, bahkan walau anggotanya hanya tinggal bertiga-pun kami tidak akan b…

Anak Panah (Part 03)

Ada pemandangan aneh di ruang tamu rumah Theo. Eddy duduk disana seperti menunggu sesuatu, di depannya duduk juga Differ yang menunggu dia bicara. Eddy sudah ada disana sejak Differ sampai setelah ia mengirim surat. Dia tidak mungkin menunggu Theo karena pasti dia tau Theo sedang bekerja.
Dari sana Differ bisa melihat betapa anehnya Eddy. Dia benar-benar terlihat seperti orang kurang gizi. Matanya terlihat agak mengantuk juga acuh, dia juga punya tangan yang panjang yang membuatnya sedikit proporsional dengan tubuhnya yang tinggi tapi kurus itu.
"Maaf Mr. Brood" Differ mulai berbicara, muak dengan kesunyian tidak berarti ini. "Anda tidak akan membuat saya membuang waktu dengan diam menunggu apa maksud anda datang kemari-kan?"
"Saya tidak akan melakukannya" katanya, dengan suara berat yang aneh "saya sudah melakukannya" baiklah, sepertinya Eddy mencoba membuat lelucon. Tapi ya ampun, tidak dengan suara se-menyeramkan itu
"Jadi?" Jawab …

Anak Panah (Part 02)

Berita kematian Archie segera menjadi headline semua koran di seluruh dunia. Sprig tersenyum, dia bukan senang dengan kematian ini. Siapa pula yang bisa mentertawakan kematian?. Ia sedang dalam tugas kemari, menyelidiki sesuatu. Dan kasus ini, sangat membantu sekali. Tugasnya memang jadi lebih banyak, tapi akan menyamarkan tugasnya yang sesungguhnya. Apalagi, jika misi ini sukses, mungkin akan meningkatkan karirnya (?). Sprig, memang tidak punya jabatan tinggi. Reputasinya juga tidak bagus. Meski begitu, menjadi polisi adalah cita-citanya sejak kecil. Ia ingat dulu pernah membuat kelompok detektif sewaktu di Asrama, bukan.. Bukan akademi polisi. Semacam sekolah menengah. Ia juga ingat dengan orang itu, orang yang suka pura-pura tidak mau ikut campur, tapi malah menyelesaikan semuanya sendiri.
Ah, lupakan orang itu. Ia harus cepat-cepat membuat laporan. Sprig memandang tape-nya. Aneh juga dia menggunakannya untuk interogasi kemarin, tape itu sudah kuno. Dan lagi, bukankah lebih baik m…