26 Desember 2014

Penempuhan Badge Ambalan SMAN1C 2014-2015 (Hari Kedua)


Kami dibangunkan jam 4 (ngaret -_-) dengan senter, dan diminta berbaris di lapangan. Kebanyakan langsung bergegas sikat gigi dan cuci muka namun panitia bilang hal itu bisa dilakukan nanti setelah subuh--jadi saya tidak sikat gigi pagi itu--. Pagi itu, kami diberi kertas berisi petunjuk mengenai suatu tempat, ditempat itu kami akan menemukan badge ambalan. Mungkin inilah inti acara 'Penempuhan Badge Ambalan' ini.

Sangga saya mendapat petunjuk "Jam Dunia". Tentu saja kelompok saya langsung menuju meja piket dimana ada jam yang menjadi patokan seluruh sekolah.

25 Desember 2014

Penempuhan Badge Ambalan SMAN1C 2014-2015 (Hari Pertama)

Okelah, memang rasanya aneh bikin cerita kehidupan pribadi saya di sini. Sesuatu yang selalu amat saya hindari, tapi kini saya lakukan. Tapi yah, gak apa-apa lah, sekali-kali. Sekarang udah susah nemu orang yang mau dengerin cerita saya yang panjang lebar (mungkin belum), so let me tell you a story J

Penempuhan Badge Ambalan SMA Negeri 01 Ciawi, bisa dibilang adalah kegiatan camping di sekolah selama dua hari satu malam. Ini bukan definisi sebenarnya karena arti kata Penempuhan Badge Ambalan sendiri terdengar seperti usaha untuk mendapat Badge Ambalan, iya kan? Oke, langsung aja, saya berangkat dari rumah jam 11.00 WIB dengan asumsi akan tiba pukul tepat 12.30 (menjelang weekend, siang, dan puncak. Kalian tau bagaimana keadaanya) Membawa tas gendong berisi kebutuhan pribadi dan tas jinjing berisi natura, serta berpakaian pramuka lengkap.

11 November 2014

Pencuri di Asrama - 1

Saat itu sudah pukul 9 malam, kebanyakan siswa sudah di kamarnya, walau sebenarnya mereka masih boleh berkeliaran di lingkungan asrama sebelum jam tidur pukul 10 malam nanti. Langit cerah malam itu, bintang akan terlihat indah andai saja asrama itu tidak terlalu terang. Maurice sedang dikamarnya bersama Ashley, mereka membicarakan hal-hal yang tidak penting tapi menyenangkan. Walau disaat yang sama, Maurice sedang menunggu sesuatu yang menurut Robbie akan datang pada pukul 9:30. 

"Makanya kubilang mangkuk itu lebih berguna--" Kata Differ 

"Tapi tugas piring yang utama adalah menampung makanan kering!" Sahut Ashley

"Aku kan sudah bilang kalau mangkuk juga bisa melakukannya, dan piring tidak bisa menampung makanan basah" 

"Bisa saja, kalau makanan itu tidak terlalu basah. Piring masih memiliki cekungan" 

"'kalau' tidak dihitung" Maurice merasa sudah menang 

"Eh, aku ingat! Bagaimana dengan pizza? Mangkuk tidak cukup luas untuk menampung pizza! Sudah kubilang mereka punya tugas masing-masing!!" 

Differ tidak menjawab, ada suara ketukan di pintu. Ia menatap jam dinding, 21:37. Baiklah, apapun itu ia terlambat tujuh menit. Ashley buru-buru membuka pintu dan menemukan amplop besar di depan kakinya, ia menengok ke lorong, seorang anak lelaki berlari menjauh. Ashley memanggilnya, namun anak laki-laki itu tidak menengok sedikitpun. Kemudian gadis itu membawa amplop besar itu masuk. 

"Untukmu Maurice, dari Sprig umm ketua satuan penyidik asrama bagian D?" Ashley terkekeh sambil menyerahkan berkas itu pada Differ. 

"Kali ini diantar, baik sekali" kata Differ. Kemudian ia membuka dan mengeluarkan isi amplop itu. Seperti yang diduga, ada sobekan-sobekan koran sekolah, Sebuah catatan kecil dan beberapa lembar--, eh tunggu, uang itu tidak ada. 


"Apa ini Differ?" Ashley mengambil suatu kertas berwarna merah menakutkan. 

Hai 
Mencari sesuatu Maurice? Mungkin beberapa lembar uang atau sesuatu yang berharga? Maaf soal itu. Aku punya cara yang lebih ampuh agar kau mau membantuku menyelesaikan kasus ini. Apa itu? Singkatnya, kau juga salah satu tersangka, maka buktikan kalau kau bukan penjahat. Jangan abaikan kasus ini Maurice, kau tau? Di Amerika, polisi putus asa menjadikan orang tak bersalah sebagai terdakwa, tentu kau tidak ingin maju dalam sidang sekolah kan? 

"Sial!" Kata Ashley "Ini pemerasan namanya!" Katanya lagi 

Maurice mengangkat bahu, tidak peduli dengan ancaman Sprig. Kasus yang biasa ditanganinya kan seringkali tidak berat, mana mungkin masuk sidang sekolah. 

"Ini kacau!" Kata Ashley lagi, ia menaruh catatan-catatan itu "Kasus pencurian selama dua tahun terakhir! Dan kita jadi tersangka!" 

Differ menelan ludah. 

Jangan heran jika selama dua tahun terakhir terjadi pencurian terhadap barang-barang siswa dan tidak ada keributan polisi sama sekali. Pihak sekolah memiliki gengsi yang terlalu tinggi untuk memanggil polisi dan memberitahu masyarakat bahwa di asrama mereka ada murid yang berkelakuan buruk. Paling-paling laporan ketidak-adilan itu hanya sampai ke koran sekolah yang dalam memuat berita-pun harus disetujui oleh komite sekolah dan tidak boleh menjelek-jelekkan siswa. Dan kemudian di abaikan begitu saja. 

Itulah kenapa ada orang-orang macam Sprig. Mereka yang tidak terima akan ketidak-adilan, secara alami ditambah rasa penasaran, mencoba membuat kelompok detektif amatir. Mereka menyelidiki lalu ketika semuanya tuntas, pada tengah malam para korban dan tersangka akan dikumpulkan di ruang olahraga untuk pembuktian. Inilah yang disebut sidang sekolah, walau yang menjalankannya para siswa. Setidaknya, selama bertahun-tahun kegiatan di luar aturan belum ketahuan. Mungkin sudah ketahuan, tapi dibiarkan saja. Entahlah. Hukuman yang diberikan biasanya laporan kepada guru, atau jika tidak parah hanya diberi peringatan. Namun justru peringatan ini lebih sulit diatasi daripada dilaporkan pada guru. Karna semua orang tahu kalau ia bukan anak baik dan ia akan dijauhi semua orang. 

Differ berkali-kali di ajak untuk bergabung dalam kelompok ini. Dan berkali-kali pula ia menolaknya, menurutnya itu amat konyol. Meski begitu ia tidak segan untuk membantu. Sprig biasanya akan menaruh berkas kejahatan itu di suatu tempat tersembunyi. Lalu dengan bantuan Robbie, Differ bisa mengetahuinya. Dan untuk membuat Differ mau membantu pun tidak mudah, ia harus mengeluarkan beberapa shilling sebagai upah. Differ bukan orang yang materialistis, tapi menurut Robbie hal itu perlu dilakukan agar Sprig tidak meremehkannya. Pernah Sprig melakukannya (tidak memberi upah), dan Robbie bilang ia tidak perlu membantunnya. Differ memang tidak membantunya, tapi tetap menyelidikinya, toh ia memang suka melakukannya 

"Apa yang akan kau lakukan sekarang Maurice?" Ashley menatapnya kasihan 

"Robbie bilang..." 

"Persetan dengan yang Robbie katakan! Kakakmu itu pembisnis, ia tak mengerti tentang harga diri. Kau tidak tau apa yang akan dikatakan orang-orang jika kau masuk sidang sekolah" Kata Ashley memotong kalimat Differ. 

Differ menghempaskan dirinya ke kasur "Kalau begitu aku harus menyukai kasus ini" katanya kemudian ia membaca surat itu lagi, "'jangan abaikan kasus ini, Maurice'" 

*** 

Keesokkan harinya, Differ melihat Sprig dengan mata lebam. Memang aneh, mengingat ia penjilat paling unggul di asrama, sehingga sulit menemukan alasan mengapa ia babak belur begitu. Namun Differ segera tau alasanya ketika mereka berjalan bersisian, lalu Sprig berbisik padanya. 

"Pengadu!" 

Jelas ia dipukuli Robbie. Entah bagaimana Robbie mengetahui tentang pemerasan itu, ia punya banyak kaki tangan. Tapi yang pasti bukan Differ yang memberitahunya, ia tidak akan berbuat serendah itu. Lagipula, Differ bahkan tidak bertemu dengannya semalam atau pagi tadi. Mungkin teman-teman Sprig saja yang berkhianat, entahlah. 

Sudah tiga hari sejak Differ menerima berkas itu, namun sampai hari ini ia juga belum membacanya. Lagipula keadaannya tidak terlalu mendesak. Ia malas sekali, apalagi ini pemaksaan. Dan mungkin ia akan menundanya lagi kalau bukan karna kejadian hari ini. Saat selesai pelajaran olahraga dan seluruh teman asrama satu blok Maurice berganti pakaian. 

"Cincin ku hilang!" Kata Ashley. Sontak, seluruh orang di ruang ganti menengok kearahnya. "Cincin, peninggalan ibuku!" Katanya lagi. 

"Kau yakin menaruhnya di loker?" Tanya Differ 

"Aku menaruhnya dikantung seragam" suara Ashley seperti hendak menangis. 

"Ooh, loker itu" Jenny tiba-tiba saja angkat bicara. "Loker itu, memang banyak memakan korban" 

Semua orang mengerutkan dahi. 

Jenny tampak canggung. "Kau belum diberitahu Sprig, Maurice? Aku kira ia akan meminta bantuanmu, seperti biasanya" 

"Kau sepertinya tahu banyak, Jenny" kata Differ

Bersambung~

27 Agustus 2014

Bahaya

Baru beberapa bulan aku bekerja di perusahaan ini, sebelumnya aku menganggur dan menggantungkan hidupku pada ayah. Ayah memang baik, walau ia sedikit mengekangku, melarangku bersosialisasi dengan orang-orang yang bisa berlaku buruk padaku. Tapi kini ayah sudah meninggal, dan aku harus membiayai diri sendiri. Untungnya melalui Gerry, aku bisa mendapat pekerjaan ini dengan mudah, dan disini banyak teman-temanku sewaktu SMA.

Hanya saja, akhir-akhir ini ada hal aneh yang menimpa kantorku. Selama sebulan, ada dua orang meninggal. Yah, tak masalah sih jika saja mereka bukan rekan kerjaku dan tidak meninggal di gedung ini. Entahlah, rasanya seperti ada yang meneror kami.

Yang pertama adalah Bu Feni, ia adalah bosku. Orangnya tinggi dan cantik walau harus diakui dia sering sekali marah-marah padaku, juga agak sombong. Lalu Mara, ia juga cantik tapi kelakuannya seperti pelacur saja, terakhir dia memamerkan tas baru dari perancis yang membuat panas wanita seisi kantor, terakhir sebelum ia meninggal. Aneh juga, kebetulan sekali mereka yang meninggal adalah orang-orang yang tidak terlalu kusukai. Bu Feni tewas diracun sedang Mara ia ditemukan ditikam di kamar mandi.

Aku menunggu Gerry di foodcourt saat jam makan siang, ia bilang kami akan makan siang bersama. Tapi sudah setengah jam dia tidak datang, Gerry memang sering terlambat akhir-akhir ini.

"Sayang, dimana?"

"On the way kok, tunggu ya"

Jawabannya tidak jauh dari itu setiap aku menanyainya. Mungkin lebih baik aku pesan makanan duluan. Tepat saat itulah Gerry datang. Mengenakan jaket dan membawa helm motornya.


"Darimana sih?"

"Ada janji dulu sama temen" katanya


"Ooh" kataku malas.

Gerry segera memesan makanan yang sama denganku. Ia begitu serius dengan makanannya, hingga tidak bicara padaku. Aku menatapnya lamat-lamat, kenapa dia sering terlambat jika kami hendak bertemu? Pertanyaan itu tiba-tiba muncul dikepalaku, disertai pikiran buruk mengenai alasannya, mungkinkah? Aku menggelengkan kepala membuang pikiran buruk itu. Gerry bahkan tidak heran melihat aku bertingkah aneh di depannya. Kenapa sih dia?



"Yuk, ke kantor lagi" katanya. Aku mengangguk, apalagi yang bisa kulakukan?

Padahal, pekerjaanku hanya tinggal sedikit saja. Kenapa pula harus buru-buru? Dan sepertinya semua orang begitu. Kebanyakan dari mereka hanya mengobrol dan mengindahkan pekerjaan mereka.

"Kenapa sih say" Mareta mengejutkanku dari lamunan. "Awas kesurupan" katanya sambil tertawa.

Aku tersenyum. Mareta, sahabatku sejak SMP. Dia seperti sahabat lainnya, sempurna.

"Kerjaan numpuk tuh, malah main kesini" kataku menatap gundukan berkas di mejanya mungkin 5 cm tebalnya

"Ah" katanya "Aku lembur deh nanti, di rumah juga gak ada siapa-siapa"

"Eh? Sekarang kan malem jum'at" kataku menakuti. Tapi Mareta bukan penakut. Ia mengibaskan tangan meremehkan.

"Ha! Pizzanya datang!" katanya seraya beranjak dari tempatku.

Aku kembali pada laptopku. Tapi aku tidak bisa berpikir, pikiran soal kemungkinan Gerry berselingkuh terus mengangguku. Ah, Sial.

Gerry, Mareta sekarang mereka sedang saling menyuapi Pizza. Gerry dan Mareta, pikiran gila itu merasuki otakku. Ah tidak! Tidak mungkin! Gerry dan Mareta, bayangan mereka yang tertawa dibelakangku semakin membuat hatiku sakit. Gerry dan Mareta, mereka memang pernah berpacaran waktu SMA, bisa saja. Tapi tidak mungkin! Oh hentikan! Hentikan pikiran bodoh ini.

"Da?" Suatu suara mengagetkanku. Itu Gerry. "Kamu kenapa? Dari tadi geleng-geleng mulu"

"Aku pusing" kataku

"Aku anter pulang ya? Izin sama Bu Hania" aku mengangguk. Apalagi yang bisa kulakukan? "Ta! Pinjem mobil dong, takut Milda keanginan"

"Oke sip" Mareta melempar kunci mobilnya. Gerry dan Mareta, kenapa mereka begitu akrab?

Kami berdua diam saja selama perjalanan pulang, Gerry oh Gerry kenapa sih dia?

"Da" katanya pelan. Ah, akhirnya dia bicara!

"Hmm" kataku malas, padahal senang

"Nanti aku lembur ya?" lembur? Kenapa ia harus lembur?

"Ya udah, ngapain izin sama aku" kataku

"Aku lemburnya jagain Mareta" petir menggelegar, aneh. Tapi kalimat itu memang mengejutkan, dan kenapa aku senang ya? "Kamu tau kan Bu Feni sama Mara? Mereka meninggalnya pas lembur sampe malem sendirian. Yaa, aku takut aja"

"Iya gak apa-apa" kataku datar

"Kamu gak marah?"

"Kenapa aku harus marah?" mobil Mareta menepi.

***

Aku bersiap dengan pakaian hangatku, sarung tangan wol, jaket, syal, penutup kepala yang kebesara dan sepatu bot ayah. Sepatu bot itu sangat pas untuk malam ini. Di luar hujan baru reda, rumput-rumput basah dan orang akan mengira jejak yang aku tinggalkan adalah jejak kaki pria, itu lucu.

Sudah sepuluh kali aku menelpon Gerry, ia tidak menjawab. Aku menolak alasan baterai habis, Gerry selalu membawa keempat power bank-nya. Malam ini aku harus melihat sendiri, benarkah ada hubungan antara Gerry dan Mareta.

Aku menatap penampilanku di cermin kamar mandi. Tiba-tiba mataku melihat benang gigi di pinggir cermin. Dulu ayah suka memakainya. Kini tinggal sedikit, lebih baik kubuang saja.

Aku naik sepeda motor dari rumah. Dan sampai setengah jam kemudian. Aku sudah mempersiapkan diri, jika nanti melihat dugaanku ternyata benar, aku tidak akan kaget. Aku mengendap-endap masuk ke kantor, tidak ada satpam yang berjaga, kantor ini memang konyol setelah ini aku akan re-sign dan pergi ke luar negeri.

Gerry pasti ada dilantai dua, di kantor kami bersama Mareta. Disana ada cahaya, ya, pasti mereka ada disana! Aku menahan nafas, mempersiapkan diri. Mereka ada di dalam sedang mengkhianatiku dan tak pernah terpikir akan dipergoki olehku.

Aku melangkah pelan-pelan menuju kantor kami yang bercahaya itu.

***

Gerry jatuh didepan kakiku. Aku membuang benang gigi ayah tadi, dan menendang-nendang wajahnya dengan ujung sepatu bot. Yah, Gerry sudah mati. Tercekik saat kami berpelukan, ia pikir aku akan memaafkannya setelah selingkuh dengan Bu Feni, Mara dan kini dengan sahabatku sendiri, dasar bodoh.

Saat aku berbalik Mareta sedang menatapku ketakutan, lucu sekali, padahal aku baru menyelamatkannya dari bajingan. Aku menepuk-nepuk kepalanya seperti anak kecil, tubuhnya gemetar. Kemudian mendekatkan mulutku ketelinganya, hanya membisikkan peringatan. Tapi, wajahnya semakin pucat lalu ia pingsan.

Aku jadi ingat pesan Ayah pada Mareta dan Gerry "Jangan biarkan orang-orang menyakitinya, itu berbahaya"

22 Juli 2014

Bunga Hitam

Terdengar suara bedebum ketika aku sampai di rumah. Dan yang kulihat di depan mataku kini adalah kakekku diantara reruntuhan tembok. Di sebrangnya seorang pria mengangkat tangannya ke depan.

"Kakek!" Seruku, kakek tidak bergerak. Malah pria itu menengok kearahku dengan pandangan tajam. Aku kaget bukan kepalang ketika mengetahui siapa dia, lebih kaget lagi melihat pola bunga hitam di sudut-sudut matanya.

23 Juni 2014

Anak Panah (Part 05)

Warning : Ini adalah part terakhir dari cerbung Anak Panah, jika anda pembaca baru. Saya sarankan membaca dari Part 1 di sini. Anda telah diperingatkan *jadi serem gini*
Theo sedang menonton televisi ketika Differ pulang pukul sembilan. Ia memandangi Theo sedih, lalu ikut duduk menonton televisi

"Dari mana Maurice?" Tanyanya

"Mrs. Beauchamp" katanya tegas

"Eh, apa yang kau lakukan?"

"Hanya berkunjung" jawab Differ lagi

"Berkunjung?"

Differ tidak menggubrisnya dan memandang Theo kasihan. "Theo," panggilnya

"Ya?"

"Lebih baik kau jauhi Flo"

"Eh, kenapa tiba-tiba membahas Flo?"

"Kalian tidak akan cocok, dan dia tidak pantas untukmu"

"Apa?"

"Aku sudah tau, aku sudah tau siapa yang membunuh Archie, juga meracuni Rene"

"Apa maksudmu kau sudah tau?" Theo benar-benar heran

"Aku sudah tau, perempuan itu, bisa-bisanya dia membohongiku. Aku sudah tau, jadi kau harus menjauhi Flo"

"Maksudmu, kau sudah tau. Kau sudah tau semuanya?"

"Semuanya. Aku tau dia mengkhianati kakaknya, ya ampun, setelah apa yang kakaknya berikan selama ini, dia mengkhianatinya hanya karna cemburu!, aku juga tau kenapa kau begitu pucat ketika tau isi teh itu bukan teh. Itu ganja.. Aku tau dia pengedar narkoba dan obat bius, aku tau dia adalah otak dari semua ini. Aku tau kau berusaha melindunginya sehingga menyembunyikan surat-suratku, kalau tidak kenapa kau tau balasan itu penting? Itulah kenapa kau dan Flo tidak cocok, karena salah satu dari kalian adalah penjahat"

Theo memandangi Differ. Antara tidak percaya dan kesal

"Ini benar-benar menyedihkan, setelah berhari-hari tinggal disini. Seharusnya aku tau sejak awal. Yah selamat malam Theo, besok pagi aku akan menemui Inspektur Sprig dan menceritakan semuanya, aku harap kau tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Bunuh diri misalnya.." Differ tersenyum getir dan pergi meninggalkan Theo.

***

Differ terbangun di ruangan serba putih, ia mencoba duduk tapi kepalanya sakit. Ia mengendus dan sadar akan bau yang tak asing, rupanya ia sedang di rumah sakit. Masuk akal, kepalanya sakit dan ia di rumah sakit. Ia melihat lagi ada sekelilingnya ada bibi Jane menangis tersedu-sedu dan Sprig yang mencoba menenangkannya.

"Hey" Ia mencoba memanggil Sprig "apa yang terjadi?"

"Maurice!" bibi Jane begitu kaget sekaligus senang melihat Differ yang berbicara "Aku pikir kau mati nak, kau pingsan selama enam jam!! Untung polisi ini datang!"

"Tidak bibi Jane, aku tidak sebaik itu untuk mati muda" ia tertawa sebentar "Apa yang terjadi?" Ia bertanya lagi

"Theo! Theo anakku, aku tidak percaya!" Bibi Jane menjadi menggebu-gebu lagi. Differ kini mengerti,

"Bibi pulang saja, bibi pasti lelah" kata Differ

"Nah, sudah kubilangkan? Ayo bi, aku akan mengantarmu" Eddy kemudian menuntun bibi Jane keluar ruangan. Differ baru sadar, di ruangan itu juga ada Flo dan Rene.

"Dengan kejadian ini. Berarti teoriku benarkan Sprig?"

"Untuk urusan tertentu. Kau memang nekat Maurice"

"Apa yang sebenarnya terjadi Miss Differ?, kenapa Theo, Hana dan Emily di tangkap?" Tanya Rene. Ia duduk di kursi yang tadi di tempati bibi Jane

Differ mencoba duduk, kepalanya sudah tidak sakit lagi sekarang. "Itu karena mereka adalah orang jahat Miss Coney"

"Tapi, bagaimana bisa?" Ia tidak mengerti

"Pertama, kejadian di lapangan tembak. Emily-lah yang membunuh Archie. Ya, memang terdengar sangat tidak mungkin. Tapi pada kenyataannya ia tidak ada di kamar mandi saat itu. Saksi yang ada di kamar mandi memang tidak berbohong. Ia memang melihat seseorang bermantel coklat di sana. Tapi itu bukan Miss Dye. Karena pernyataan Miss Donovan yang mengatakan bahwa ada foto Nelson Mandela di koranku, padahal foto yang di maksud adalah Bill Cosby.

"Keduanya memang tampak mirip jika kita tidak teliti. Hal ini membuat saya curiga jangan-jangan Miss Donovan salah menilai orang, jangan-jangan orang di kamar mandi itu bukan Emily. Flo juga bilang kalau Emily menenteng mantelnya kemana-mana, tidak memakainya. Itu cocok karena Emily dikenal tidak terlalu peka pada cuaca. Lalu darimana ia mendapatkan anak panah dan busur? Bukankah ia tidak membawanya? Karena alasan ia masih pemula dan itu berbahaya. Soal anak panahnya, mudah saja.. Anda yang memberitahu dimana kuncinya kan Miss Coney?"

"Eh, itu karena ia adikku Miss Differ" kata Rene

"Nah, ia kemudian mengukirnya dengan inisialnya, ia ingin pembunuhan ini menjadi dramatis. Kepada siapa ia menitipkannya? Dan darimana ia dapat busurnya? Aku tidak tau, yang mana tapi yang pasti salah satu antara milik Flo atau Eddy. Dalam hal ini Hana atau Theo pasti membantunya. Tapi sayang, bukankah sejak awal kita tau Emily adalah pemanah pemula, tidak profesional, dan agak ceroboh? Maka bidikannya meleset"

"Me.. Meleset? Maksud anda, bukan Archie yang ingin dibunuhnya? Tapi.." Flo memandangi Rene

"Tentu saja, bukankah ia amat mencintai Archie? Bahkan meski bertahun-tahun tidak bertemu. Bukankah suaranya bergetar ketika memberi ucapan selamat pada Rene? Ia cemburu, itu motif utamanya"

Rene menutup mulutnya, hendak menangis. Tidak percaya bahwa saudari angkatnya itu...

"Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Rencana selanjutnya tetap dilanjutkan. Theo dan Hana yang sudah bersiap di jalur tengah kemudian membawa estafet kedua busur itu ke sungai. Sehingga kemarin di temukan oleh anak buah Sprig. Juga satu hal lagi yang menguatkan dugaan ini, anak buah Sprig juga menemukan mantel coklat di dalam lubang pohon besar, saya bisa pastikan itu milik Emily, ia tidak mungkin membidik sambil menenteng mantel bukan? Miss Dye agak kekanakan, ia tidak bisa menyalahkan dirinya sendiri pada kematian Archie, ia menyalahkan angin, angin yang tidak pernah ia rasakan"

Rene kini benar-benar menangis. "Jadi semua ini hanya salah paham saja.." Katanya sambil tersedu-sedu

"Salah paham?" Semua orang heran

"Emily kira, Emily kira aku akan menikah denga Archie? Ya Tuhan, semua ini salah paham saja.."

"Apa maksudmu Rene?" Tanya Flo

"Saat aku bilang, aku akan menjadi Mrs. Brood.. Yang aku maksud itu Eddy!! Ya Tuhan! Bagaimana mungkin aku menikah dengan Archie! Aku tau Emily menyukainya, bagaimana mungkin aku menikah dengan Archie!"

Semua orang terdiam, benar-benar menyeramkan ketika orang lain mati hanya karena 'salah-paham'. Emily dan semua orang mengira Rene akan menikah dengan Archie, ia cemburu. Dan satu nyawa melayang.

"Lanjutkan Miss Differ, kenapa Theo dan Hana membantu Emily?"

"Anda tau tidak? Kenapa saya pergi dari desa ini pada usia 13 tahun? Dan tidak pernah kembali selama 17 tahun lamanya? Teman-teman seusia saya disini, bukan teman yang baik. Tapi saya tidak punya teman selain mereka, saya terpaksa berteman dengan mereka, saya tau ini terdengar berlebihan. Tapi, teman-teman saya itu licik, tapi mau-tidak mau saya harus berteman dengan mereka. Saya tidak pernah mengerti cara berpikir mereka, katakanlah saya bingung hingga frustasi. Saya pergi jauh dari sini, ke asrama yang sama dengan Sprig"

"Maksud anda, teman-teman yang licik itu termasuk Theo? Dan Hana juga?"

"Theo, dia sepupu saya, ia lahir dan besar disini. Hana, saya tidak mengenalnya tapi ia berani-beraninya dia bilang lahir dan besar di sini.. Itulah kesalahan fatalnya, ia berbohong pada saya, berbohong dengan santai. Bahkan jika ia benar orang asli sini, ia sama liciknya. Lalu ketika saya tanya "Apakah di negara anda juga ada tradisi minum teh?" Ia menjawab "Oh ya, Ada. Hanya saja kami tidak menyukai teh yang kental sebagaimana anda". Kalau dia memang lahir dan besar di sini seharusnya ia refleks menjawab "Apa maksud anda? Negara kita kan sama". Ia pembohong dan saya tidak suka, saya meragukan pernyataanya bahwa ia pemanah profesional. Saya mengirim surat pada teman saya Ashley, ia sangat suka olahraga kuno, seperti berkuda dan panahan, dan baru membaca jawabannya sore kemarin. Bahwa Hana bukanlah pemanah profesional, ia tidak mengenalnya. Saya juga tidak pernah melihatnya memanah, setiap datang ke klub, ia selalu sedang duduk, bahkan tanpa keringat. Lalu, kenyataan bahwa benda dalam bungkus teh itu bukanlah teh. Miss Hana ceroboh memberikan saya bungkus teh yang salah

"Theo, seperti yang saya bilang tadi dia salah satu teman masa kecil saya. Bibi Jane bilang ia bekerja mengurus imigrasi dan sebagainya. Dan begitulah Ia yang membuat Hana bisa tinggal disini. Saya juga sangat tidak suka ketika ia 'mempengaruhi' bibi Jane untuk ke panti jompo, saya berpikiran buruk tentangnya. Jangan-jangan ia begitu matrealistis sehingga ingin bibi Jane minggat. Lalu, ketika Miss Coney diracuni. Mengapa ia harus diracuni? Karena sejak awal, mereka bertiga ingin anda mati. Tapi, apa untungnya? Hei, bukankah jika salah satu anggota panahan mati, uang mereka akan diberikan sebagian pada keluarga terdekat, juga Klub panahan dan anggotanya?. Itu dia harta, dan Miss Coney, anda adalah yang paling kaya di antara klub panahan"
"Maka, Emily yang cemburu di tambah Hana dan Theo yang sejak lama sudah bersekongkol, merencanakan semuanya"

Semuanya diam, menghela nafas tidak percaya dengan yang sebenarnya terjadi.

"Terakhir saya mengetes Theo, mengatakan saya mengetahui segalanya dan seolah-olah belum memberitahu Sprig. Jika ia bersalah, ia akan bingung dan bertanya "Surat apa? Apa maksudnya ganja? Dan mengira orang yang saya maksud adalah Flo dan Mr. Brood. Tapi ia mengerti apa yang saya katakan, dan saya mendapat pukulan di kepala. Apa tadi bibi bilang? Untung ada polisi ini, kau menguntitku ya? Atau seperti kata para pembual itu, kau punya insting yang tajam? Aku tidak ingat kau pernah mengatakannya, kecuali Robbie dan ..." Kalimat Differ terpotong oleh pernyataan Sprig

"Flo menelponku. Dia bilang perasaannya tidak enak"

Differ kini menatap Flo dengan pandangan bersalah

"Ini benar-benar menyedihkan" Flo murung. "Bagaimana dengan klub panahan kami? Bagaimana klub panahan Slagy Lac bisa menjadi klub panahan Slagy Lac tanpa ada orang asli Slagy Lac di dalamnya?"

"Saya ikut sedih dengan yang terjadi pada Theo" kata Differ "Soal klub panahan, saya ingat seseorang pernah berkata 'kami tidak akan bubar, bahkan walau anggotanya hanya tinggal bertiga-pun kami tidak akan bubar. Tidak sampai kami semua tewas'"

"Anda benar Miss Differ. Ayo Rene, kita pulang. Berlatih esok hari dan memenangkan lomba panahan bulan depan"

~Tamat~

16 Juni 2014

Anak Panah (Part 04)

Begitu Differ sampai di rumah, lagi-lagi ia mendapati suasana lengang. Ia tidak menemukan bibi Jane di manapun, tapi ia tidak yakin jika Theo bekerja. Ia ingin mengobrol sekarang, maka ia pergi ke Klub Panahan untuk memastikan apa ada orang di sana.
Benar saja, setidaknya ia melihat ada dua orang yang sedang berlatih dan seseorang yang duduk di kursi panjang. Awalnya ia pikir yang duduk itu adalah Hana, ternyata dia Flo.

"Anda tidak berlatih Miss Slicker?" Tanyanya Differ. Bukannya menjawab, Flo malah menatapnya marah

"Bisa anda memanggil saya dengan Flo saja?"

"Eh, maaf saya tidak tahu anda tidak suka"

"Akhir-akhir ini semua orang menyebalkan"

"Ada apa?"

"Lihatlah, kami bahkan hanya berlatih bertiga"

"Lalu? Aku kira bahkan klub ini sebentar lagi bubar" Differ lalu tertawa sejenak

Flo memandangi Differ lagi, "kami tidak akan bubar Miss Differ, bahkan walau anggotanya hanya tinggal bertiga-pun kami tidak akan bubar. Tidak sampai kami semua tewas"

"Lalu apa yang anda khawatirkan?"

"Bulan depan akan ada lomba panahan. Tapi dengan kejadian ini, kami jadi jarang latihan. Apalagi Rene, padahal dia bidak utama"

"Apa yang lain tidak ikut?"

"Aku, Eddy dan Theo juga ikut. Hanya kami jarang sekali lolos ke putaran final"

Differ terdiam, sepertinya ada yang kurang "Oh, ya! Apa Miss Hana tidak latihan hari ini?"

"Dia bilang akan menjaga Rene dan Emily di rumah. Alasan konyol. Maksudku, memang apa yang mungkin terjadi?"

"Dia hanya khawatir" Differ mencoba, meredakan amarah Flo "Bagaimana dengan anda, bukankah anda menyuruh Emily mengirimkan surat warisan? Tidakkah itu tanda khawatir?"

"Eh itu" Flo nampak kikuk "Itu benar-benar hanya perasaan saya saja"

Differ tersenyum, mencoba tidak menekan lawan bicaranya. Walau pada kenyataannya tanggapan apapun biasanya tetap akan menekan lawan bicara yang gugup.

"Ohya, Flo ada yang ingin saya tanyakan" kata Differ sedikit berbisik

"Ya?"

"Apa pada hari itu, maksud saya pada hari mengenaskan itu. Anda mengerti kan?"

"Eh, ya saya mengerti. Archie?"

"Iya. Pada hari itu, apa benar Emily memakai pakaian hitam-hitam dan mantel coklat?"

"Ooh.. Iya, saya ingat sekali. Malah, saya menyindirnya karena dia seperti orang yang akan pergi ke pemakaman. Dan mantel itu, Rene memaksa kami semua untuk membawanya. Padahal langit cukup cerah walau sedikit berangin. Jadi Emily membawanya, dia menentengnya kemana-mana. Begitulah, jika Emily adalah orang yang berpikir bahwa cuaca akan cerah sepanjang hari. Rene sebaliknya"

"Dan, apakah 'kecemasan' Rene itu benar?"

"Tentu saja tidak! Kami sudah melihat ramalan cuaca pada malam hari sebelumnya. Dan itulah kenapa kami memutuskan untuk berburu kelinci pada hari itu"

"Aku tidak ingat Theo membawa bahkan seekor kelinci pulang?"

"Ya, itu karena kami tidak mendapat seekor kelinci satu pun"

"Bagaimana bisa? Di hutan itu ada jutaan kelinci! Bahkan jika kalian memanah ke sembarang arah. Paling tidak, kalian itu akan mengenai seekor kelinci ceroboh"

"Saya tidak tau Miss Differ. Sebenarnya, saya hampir tidak ingat apa saja yang terjadi saat itu"

"Apa maksud anda?"

Flo mencondongkan badannya ke samping Differ dan dengan suara pelan ia berkata "Jangan katakan ini pada Theo ya. Saya tidak mau dia khawatir"

Differ mengangguk. Kemudian Flo melanjutkan "saya rasa, ada seseorang yang memukul kepala saya dari belakang saat itu. Saya tidak tau siapa. saat itu kami (Flo, Hana, Theo, dan Eddy) memutuskan berpencar. Saya dengan Hana dan Theo dengan Eddy. Kemudian, saya dan Hana terpisah karena hutan itu sangat gelap. Begitu sadar saya mendengar Rene berteriak, dan semua perlengkapan berburu saya hilang"

Differ sekali lagi mengangguk. Sekarang dia mendapat pengakuan yang sama dengan yang diterimanya dari Eddy. Terlalu sama malah. Apa ini? Mereka berdua bersekongkol? Berbohong demi...

"Dan, saya tidak habis pikir. Siapa yang memasukkan racun pada Rene. Maksud saya kenapa ada racun di sana"

"Saya kira anda tidak khawatir.."

"Tidak, saya hanya bingung. Kokain tidak bisa didapatkan dengan mudah. Bahkan untuk seorang apoteker. Dan saya rasa tidak ada panti rehabilitasi di sekitar sini"

"Menyedihkan memang mengetahui teman kita ternyata tidak seperti yang kita ketahui selama ini"

Flo mengerutkan dahi, tidak mengerti hubungan antara jawaban dan pernyataanya

"Eh, maksud saya kita semua pasti gusar saat ini Flo. Kita semua tau bahwa salah satu di antara kita adalah pembunuh. Dan itu pasti menyakitkan"

"Siapa yang mau membunuh Archie?, kami semua tidak terlalu dekat dengannya. Tidak ada alasan untuk membunuhnya"

"Ya, hampir tidak ada yang punya alasan" katanya sambil memandangi Eddy

Theo datang dengan dahi berkeringat. Ia mengambil botol minumannya dan menenggak isinya.

"Theo, tadi pagi apa ada surat untukku?"

"Tidak" jawab Theo cepat

"Itu aneh" kata Differ

"Tidak juga, butuh berhari-hari untuk sampainya sebuah surat" kata Theo lagi

"Mungkin lebih baik aku mengirimi mereka e-mail"

"Tidak perlu" Theo mencoba menenangkan. "Balasan penting itu akan segera sampai"

"Ya, mungkin saja.." Differ masih ragu

"Flo, kau masak apa hari ini?" Tanya Theo

"Spagheti, jangan bilang kalau kau.." Flo tidak melanjutkan kalimatnya

"Sudah siang, Kau mau ikut Maurice? Makan siang di rumah Flo, Eddy! Kau ikutkan?"

Setelah pertengkaran kecil antara Theo dan Flo akhirnya Eddy memutuskan ikut. Sementara Differ tidak, dengan alasan ingin menemani bibi Jane.

Tapi, begitu ia sampai di rumah. Ia menemukan bibi Jane masih belum pulang. Maka, mau tak mau ia harus makan siang sendirian. Ia tidak mungkin pergi ke rumah Rene, karena pasti akan sangat aneh. Kira-kira kemana Theo akan pergi setelah makan siang? Mungkinkah dia berlatih panahan lagi? Lagipula apa dia punya pekerjaan lain? Karena merasa tidak tau harus melakukan apa, Differ memutuskan untuk berbaring di kamarnya, dan menyusun potongan puzzle yang dimilikinya.

***

Sprig kini merasa frustasi. Ia tidak dapat menemukan jawaban apapun bahkan untuk salah satu pertanyaannya. Ia sudah mendengar wawancaranya berulang-ulang, berpikir apakah ada yang kurang. Ia sudah memeriksa tempat kejadian, bahkan mengerahkan seluruh anak buahnya. Tapi tetap tidak menemukan apapun. Di tambah lagi, ia mulai ragu buronan yang di carinya ada di sini. Tiba-tiba, seseorang mendobrak pintu.

"Pak, kami menemukan sesuatu!" Kata salah satu seorang anak buahnya.

Akhirnya, pikir Sprig. Setelah berhari-hari mencari petunjuk dan berpikir bahwa lawannya adalah pembunuh yang terlalu cerdik. Semoga yang di temukan anak buahnya ini sesuatu yang sering mereka sebut 'kecerobohan' penjahat.

Mereka segera pergi ke hutan dekat lapangan tembak itu. Beberapa orang berkeliling di sekitar pohon besar dan penuh lubang. Sprig hendak berhenti, tapi anak buahnya tadi menariknya lebih jauh ke dalam hutan. Mereka lalu tiba di sungai yang cukup besar. Setelah itu, mereka berjalan kaki hampir sejauh dua kilometer. Dan tiba di air terjun kecil.

"Di sana pak, ada dua busur yang sudah hancur"

Sprig masih diam. Ia tidak tau, apakah petunjuk ini akan berguna. Paling tidak dia sudah tau siapa pemilik busur-busur ini.

***

Differ, tidak yakin. Ia merasa hal-hal yang di ketahuinya belum lengkap. Tentu saja, ia belum berbicara sama-sekali dengan Rene. Ia tidak tau bagaimana Rene, bagaimana orang-orang di sekitarnya menurut pendapatnya. Dan untuk menyelesaikan sebuah gambar, Ia harus punya semua kepingan puzzle-nya, mungkin beberapa palsu. Tapi, kepingan yang benar akan memperjelasnya. Apalagi Rene satu-satunya yang tidak menjadi tersangka saat ini. Ya, setidaknya sampai saat ini.

Setelah memastikan kalau Bibi Jane tidak akan pulang sampai malam nanti. Differ mengunci semua pintu dan jendela juga menyalakan lampu-lampu tidak lupa menutup semua gorden. Ia pergi ke rumah Rene, untuk sekedar berbincang-bincang. Meski mungkin nanti Hana tidak akan membiarkan siapa pun bertemu dengan Rene. Tapi, Differ sependapat dengan Flo bahwa Rene pasti baik-baik saja. Dengan penampilan anggunnya saat pertama kali bertemu, Differ yakin Rene cukup dewasa untuk tidak menangisi Archie terus-menerus.

Perkiraan Differ salah ketika ia berpikir bahwa Hana akan mencegahnya. Jangankan mencegah, ia bahkan tidak ada di rumah. Rene sendirian di ruang tamu, sedang membaca buku sambil mengemil makanan ringan dengan televisi menyala. Ia buru-buru membereskan semuanya ketika Differ datang. Bahkan seberapa pun anggunnya Rene, pikir Differ ia tetap wanita muda yang tidak bekerja. Mereka berbincang-bincang seperti orang biasa, Differ bertanya beberapa hal dan tidak nampak raut sedih di wajah Rene.

"Saya rasa, mengingat ketika sore hari anak panah itu masih ada. Pasti benda itu di curi pada malam hari" Jawab Rene ketika di tanya kapan anak panah itu hilang

"Kira-kira siapa ya, yang mencurinya?"

"Siapa saja anggota klub memanah bisa. Kecuali Emily"

"Eh?" Differ tidak mengerti

"Tentu saja bukan Emily, ia baru bergabung dua bulan lalu. Kami tidak memberi-tahu kuncinya kecuali pada anggota lama"

Differ mengangguk mengerti

"Lagi pula," kata Rene "dia kan tidak membawa alat panahan waktu itu, sekali lagi- karna ia masih pemula"

"Ya, saya mengerti. Ada juga saksi yang bilang bahwa ia di kamar mandi sampai anda berteriak. Intinya, anda yakin Miss Dye tidak bersalah kan?"

"Begitulah. Dia kan adik saya Miss Differ"

"Adik?" Differ lalu teringat pada percakapan di jembatan

"Ya, Adik angkat. Dahulu saya dan orang tua saya tinggal di suatu rumah yang bersebelahan dengan panti asuhan. Saya sangat akrab dengan Emily, jadi ayah saya mengadopsinya"

"Tapi, kenapa ia tidak mengganti namanya?"

"Perasaan sentimental. Sejak dulu, Emily itu agak kekanakan juga mudah terpengaruh. Bahkan di usianya sekarang. Ia sangat menghormati pendiri panti, jadi ia enggan mengganti namanya"

"Kekanakan?"

"Benar, orang tua saya begitu memanjakannya sejak kecil. Kadang ia tidak bisa menerima jika dia salah, atau tergesa-gesa dalam memutuskan sesuatu. Saya punya tugas yang berat, setelah orang tua saya meninggal"

"Ya, kalau begitu Mr. Brood adalah yang paling mungkin"

"Apa?"

"Mr. Brood adalah yang paling mungkin" Differr mengulangi perkataannya

"Tidak, tidak mungkin!"

"Kenapa anda berpikir seperti itu? Jelas ia punya kesempatan dan motif"

"Tapi, dia kan adik Archie.. Dan apa maksud anda dia punya motif?"

"Justru karena dia adik Archie, Miss Coney. Dan motif yang saya maksudkan adalah : pertama, ia tidak suka dengan pembagian warisan yang tidak adil. Kedua, ia cemburu"

"Cemburu? Pada siapa?"

"Tentu saja pada Archie! Archie kan melamar anda, sedang di sisi lain ia juga menyukai anda"

"Eh, begitukah?" meski tidak kentara, wajah Rene terlihat memerah

"Anda tidak tahu?"

"Umm, tidak, bukan begitu. Berarti Archie benar"

"Apa yang anda maksudkan?"

"Saya tidak bisa mengatakannya, tidak sampai urusan ini selesai" Rene mengangkat kepalanya "Tapi, Miss Differ. Eddy tidak mungkin meracuni saya, ia bahkan tidak ada saat itu"

"Hal itu, masih harus diselidiki"

"Apa ada kemungkinan, adanya dua tersangka?"

"Bisa saja, sebenarnya Miss Coney. Saya mencurigai Flo-lah yang meracuni anda"

"Pasti karena dia apoteker ya? Dia pasti mengerti obat-obatan, racun, dan dosisnya. Tapi kan, dia yang menyelamatkan saya"

"Itu-lah yang tidak saya mengerti"

"Bila benar tersangkanya hanya ada satu. Siapa yang paling mungkin?"

"Orang yang ada di dua tempat itu saat dua kejadian.. Theo, Flo, dan Miss Hana"

"Tapi mereka semua tidak punya motif untuk membunuh Archie"

"Ya, tidak ada untuk Archie. Tapi bisa saja untuk anda" kata Differ. Ia tiba-tiba teringat sesuatu, "saya harus pulang Miss Coney, setidaknya sebelum Theo dan Bibi Jane pulang. Rumah di kunci, dan kuncinya ada pada saya. Semoga urusan ini cepat selesai"

"Sampai jumpa Miss Differ, saya juga akan memasak makan malam"

***

Differ memandangi coret-coretan di hadapannya. Beberapa tabel dan daftar kebiasaan anggota memanah. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bertanya-tanya, apakah yang dilakukannya sudah benar?

Theo pulang dan memanggil-manggil nama bibi Jane dan Differ. Differ menyahut dan berkata ia ada di kamarnya. Theo datang dan memasuki kamar Differ, kemudian terkejut melihat betapa berantakannya ruangan itu.

"Ya ampun, apa yang kau lakukan?!"

"Tidak ada" Differ masih terus menulis

"Apa ini, 'Theo, di hutan, pandai memanah, tidak punya motif membunuh Archie tapi punya kesempatan dan kemungkinan. Tidak ada kesempatan tapi punya kemungkinan dan motif meracuni Rene'! Oh ya ampun! Kau mencurigaiku Maurice?!"

"Aku mencurigai semua orang Theo.."

"Aku bersusah payah mencari Eddy. Kami terpisah dan hanya aku yang tau jalannya. Dan kau mencurigaiku?!"
"Dan, ya ampun aku tidak tau Flo pingsan! Di mana? Kapan?!"

"Di hutan, kau berisik sekali. Pergilah! Mandi!"

"Flo pingsan! Ya ampun! Bagaimana bisa!!" Katanya sambil berlalu.

Differ tidak bisa membayangkan jika Flo dan Theo menikah. Hidup mereka akan penuh hiruk-pikuk dan kebisingan. Dan pasti mereka akan mengganggu tetangga, lalu mereka diusir dari tempat manapun di dunia. Uh, menyeramkan.

Ia akhirnya berhenti menulis, dan merasa puas pada dirinya. Sementara kecewa pada yang lainnya. Ya, akhirnya dia tau.. Dia tau semuanya. Differ memutuskan agar segera pergi ke rumah Mrs. Beauchamp, menemui Sprig dan berdiskusi, toh ini masih pukul tujuh malam.

***

"Benar-benar tidak bisa di percaya" Sprig takjub mendengar penjelasan Differ.

"Ya, dia cerdik, licik tapi membuat kesalahan fatal sejak awal"

"Yayaya, kami akan segera menerbitkan surat penangkapan. Kau akan baik-baik saja kan? Maksudku dia tidak tau kau sudah mengetahui identitasnya kan?"

"Aku rasa belum,"

"Belum?"

"Ya, cepat atau lambat dia akan mengetahuinya. Tapi tak usah khawatir, aku yakin aku aman" Differ kemudian pamit,

Bersambung~

27 Mei 2014

Anak Panah (Part 03)

Ada pemandangan aneh di ruang tamu rumah Theo. Eddy duduk disana seperti menunggu sesuatu, di depannya duduk juga Differ yang menunggu dia bicara. Eddy sudah ada disana sejak Differ sampai setelah ia mengirim surat. Dia tidak mungkin menunggu Theo karena pasti dia tau Theo sedang bekerja.

Dari sana Differ bisa melihat betapa anehnya Eddy. Dia benar-benar terlihat seperti orang kurang gizi. Matanya terlihat agak mengantuk juga acuh, dia juga punya tangan yang panjang yang membuatnya sedikit proporsional dengan tubuhnya yang tinggi tapi kurus itu.

"Maaf Mr. Brood" Differ mulai berbicara, muak dengan kesunyian tidak berarti ini. "Anda tidak akan membuat saya membuang waktu dengan diam menunggu apa maksud anda datang kemari-kan?"

"Saya tidak akan melakukannya" katanya, dengan suara berat yang aneh "saya sudah melakukannya" baiklah, sepertinya Eddy mencoba membuat lelucon. Tapi ya ampun, tidak dengan suara se-menyeramkan itu

"Jadi?" Jawab Differ

"Begini Miss Differ," Eddy mulai menegakkan duduknya "sebenarnya ini menyangkut kematian kakak saya.."

Differ menatapnya antusias, menyukai topik ini.

Percakapan panjang itu hampir dikuasai Eddy, Differ nyaris hanya diam mendengarkan. Ya, intinya Eddy mencoba membela diri bahwa dia tidak mungkin membunuh Archie karena ia sudah jauh di dalam hutan. Sebenarnya, semua orang mengaku sudah di dalam hutan, kecuali Emily yang ada di toilet. Dengan kata lain, JIKA Differ percaya semua pengakuan, tidak akan ada yang bersalah. Berarti pembunuhnya berbohong. Bahkan dengan pembelaan panjang Eddy, tidak mengeluarkannya dari daftar tersangka. Lagipula, untuk apa ia membela diri di hadapan Differ?

"Memangnya anda tidak mau tahu?" tanyanya.

"Memangnya saya harus tahu?"

Begitulah, perbincangan panjang itu menambah informasi Differ mengenai pembunuhan itu. Termasuk pengakuan meragukan yang menyatakan bahwa Eddy pingsan di hutan saat kejadian. Differ mempunyai suatu prinsip, "Orang yang rugi bukanlah orang yang tidak membaca buku, tapi orang yang tidak pernah menyelesaikannya". Ibarat sedang membaca buku, Differ sudah membaca setengahnya. Mau tak mau ia tak sabar menyelesaikannya. Ia ingat satu nama, musim semi, Spring, eh tidak. Sprig..

Maka, Differ pergi ke rumah Mrs. Beauchamp tempat dimana Sprig menginap. Ia disuruh duduk di ruang tamu. Mrs. Beauchamp sangat baik, ia begitu senang melihat Differ berkunjung. Suatu kejutan baginya melihat Differ lagi setelah 17 tahun berlalu.. Mrs. Beauchamp sama seperti orang tua di desa ini lainnya, mereka gemuk, baik hati, dan tua. Mereka tidak bekerja dan dinafkahi anak laki-laki nya. Bahkan bagi mereka yang tidak punya anak laki-laki akan dinafkahi menantunya.

Sprig datang dengan penampilan acak-acakan.. Dia bahkan masih memakai piyama, dasar tidak tahu malu. Differ melihat jamnya, Pukul 11.27. Hampir jam makan siang. Differ bertaruh dia begadang semalaman.

"Ada apa Maurice?" Tanyanya tanpa basa-basi. Salah satu sifat yang sangat dihargai Differ.

"Ini tentang kasus kematian Archie" jawabnya. Keduanya saling mempertahankah ekspresi masing-masing, berusaha agar pikirannya tidak terbaca

"Aku tidak mau menolongmu" jawab Sprig ketus

"Ayolah.. Kau pasti bercanda Sprig. Bukan kau yang menolongku, tapi aku yang menolongmu"

"Tidak. Maurice, ini tidak seperti asrama. Ini menyangkut karir-ku!"

"Aku tidak menuntut popularitas Sprig, aku hanya ingin menyelesaikan sebuah buku. Lagipula, kita bisa mengatakan kalau semuanya hasil kerjamu. Kau tentu sudah mewawancarai mereka bukan?"

"Tapi Maurice. Itu tidak jujur"

Differ tertawa kecil. "Kau bicara kejujuran? Tidak ingatkah kau? Dulu, kau menaruh buku catatanmu disembarang tempat dengan beberapa shilling, aku mengambilnya, membacanya, mengembalikannya di tempat semula dengan beberapa catatan tambahan. Dan kau mempresentasikannya dihadapan semua orang, mengaku-ngaku menyelesaikannya sendiri"

"Tapi kau tidak pernah menyelesaikan catatannya. Kau selalu mempermalukanku, menjelaskan bagian rumpang yang tidak pernah kusadari" terdengar nada kesal dalam suara Sprig

"Ya, aku akui itu.."

"Dan sekarang kau menyuruhku percaya padamu?"

"Tidak juga, bahkan kadang aku tidak percaya pada pikiranku sendiri"

"Bagus"

"Tapi, tentu kau bisa memberiku sedikit petunjuk bukan? Hanya sedikit, itu tak akan mengubah apapun"

Sprig menimbang-nimbang, diam sejenak mencoba berpikir. Baiklah, seperti katanya, hanya sedikit, tak akan mengubah apapun

"Baiklah, apa yang kau inginkan?" Jawabnya,

Differ tersenyum, gagal mempertahankan ekspresinya. Jangankan Sprig, semua orang mengerti arti senyum. Kini ia yang terdiam, menimbang-nimbang, memikirkan pertanyaan yang tepat.

"Siapa saksi di toilet?"

Sprig mengerutkan kening, pertanyaan bodoh macam apa itu? Ia kemuadian pergi ke kamarnya memeriksa berkas-berkasnya. Dan menulis pada sebuah kertas.

"Fanny Donovan.." Kata Differ puas. "Wah, kau baik sekali, bahkan ada alamatnya"

"Eh, memang kau tidak memintanya?"

Differ menggeleng pelan. "Kalau begitu, terimakasih. Semoga kau beruntung" ia berdiri lalu membungkuk. Pintu di tutup dari luar, Sprig memejamkan matanya di sofa itu, ia kemudian bergumam

"Tuhan, semoga dia tak menemukan apapun"

***

Differ kadang merasa dirinya mempunyai dua kepribadian. Kadang dia merasa dirinya seorang yang terlihat membosankan, pendiam, tapi juga pendengar yang baik. Disaat yang lain ia merasa dia terlalu bersemangat, berisik, tapi tetap merasa menjadi pendengar yang baik. Meski begitu ia tak pernah menyalahkan dirinya tentang hal itu, ia tau bahwa setiap orang mempunyai dua kepribadian. Biasanya salah satunya dominan dari yang lain, tapi bukan berarti yang lain hilang sama sekali. Kita menyebutnya Introvert dan Ekstrovert.

Differ yakin dirinya adalah Introvert, dan bangga akan hal itu. Meski orang kadang salah mengira tentang kaum minoritas ini. Para Introvert biasanya memiliki teman sedikit dengan kualitas pertemanan yang hebat, mereka lebih suka mengurus satu-dua pohon hingga besar daripada menebar bibit sana-sini namun kadang tidak terurus. Mereka lebih suka diam membaca buku sendirian di kamar daripada reuni dengan teman lama yang tidak terlalu dekat. Mereka kadang sulit berbincang kecil namun jika menemukan topik yang jelas mereka bisa bicara ber-jam-jam

Differ pulang dengan hati yang gembira. Sudah waktunya makan siang, tapi sepertinya Theo belum pulang. Ia tidak mengerti apa jenis pekerjaan Theo ini, walau bibi Jane sudah menjelaskan secara singkat, tapi rasanya aneh ia tak punya jadwal tetap dalam pekerjaannya. Padahal kemarin ia tidak bekerja, tapi tiba-tiba tadi pagi ia pergi bekerja, dan ini musim panas!

Begitu melihat keadaan rumah yang sepi. Differ memutuskan membaca tumpukan koran yang berdebu di ruang tamu, jelas sekali Theo ataupun bibi Jane tidak pernah membacanya. Tak ada yang menarik, koran lama itu hanya memuat berita lama. Beberapa malah bisa dibilang tidak terlalu berguna. Misalnya, mengenai pemainan online yang digemari anak-anak muda. Untuk apa mereka memberitakan ini? Anak-anak muda jaman sekarang tidak membaca koran!, sedang orang tua akan membacanya penuh kebencian karena anak-anak mereka kecanduan akan permainan itu.

Differ melihat beberapa cuplikan gambar permainan itu. Entah mengapa, ia merasa ada yang familiar mengenai penggambaran jalan setapak medan perangnya. Ah, mirip sekali dengan pemetaan jalan setapak hutan! jika markas musuh itu adalah sungai ujung hutan, dan markas kita adalah jalan masuk hutan satu-satunya di lapangan tembak. Ada jalan setapak di sisi kanan, tengah, dan kiri. Jalan setapak itu tidak terlalu kentara, orang asing tidak akan menyadarinya, hanya penduduk asli seperti Differ atau Theo-lah yang tau jalan-jalan itu. Sebenarnya agak berbahaya jika masuk hutan itu tanpa pemandu. Memang hutan itu tidak terlalu luas. Tapi meskipun mayoritas ditumbuhi pohon pinus yang kurus, ada juga pohon-pohon besar yang menghalangi cahaya untuk melihat sekitar. Untungnya hampir tidak ada hewan buas disana, paling hanya ular besar yang tidak berbisa.

Ia membuka beberapa halaman lain, ada berita mengenai orang-orang terkenal seperti Bill Cosby, Alyssa Wolff, Gladys Potter, Lilly Tafloff, dan lainnya

Bibi Jane datang dengan pakaian kotor, bajunya berlumuran tanah, dan membawa keranjang penuh sayuran.

"Bagus, aku bekerja keras di kebun dan kau di sini, membaca" katanya ketus. Bahkan, meski sudah tidak bertemu selama 17 tahun, bibi Jane sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda sayang karena rindu. Tapi Differ menyukainya, itu membuatnya merasa sudah sangat akrab, seakan ia sudah tinggal disana bertahun-tahun. Kita tau kan orang yang saling kenal kadang suka kurang ajar. Differ menanggapinya dengan senyum lebar tanpa perasaan berdosa, lalu pergi ke dapur dan membersihkan sayur-sayur itu.

Sejenak ia kagum dengan banyaknya sayur itu. Lihatlah! Bibi Jane masih kuat untuk mengurus kebun itu sendirian, kenapa ia harus pergi ke panti jompo? Tapi, Differ tidak membahas hal itu padanya. Ia mengerti bagaimana orang yang keras kepala.

Theo pulang pukul 5, tepat saat jam minum teh. Differ berniat menggunakan teh dari Miss Hana, tapi begitu membukanya ia heran kenapa bau dan teksturnya berbeda dari teh hijau yang pernah ia lihat. Saat ia bertanya pada Theo, ia bilang bahwa mungkin itu sudah basi dan harus di buang. Differ tiba-tiba ingat teh yang diberikannya pada temannya si ahli kimia, dan menyatakan hal itu pada Theo. Wajah Theo tiba-tiba pucat pasi dan suaranya bergetar.

"Lalu apa katanya?" Tanyanya

"Entah, aku baru mengirimkannya pagi ini. Mungkin akan ada balasannya besok atau lusa. Apa menurutmu aku harus menulis surat tentang teh itu?"

"Tidak perlu, kalau dia memang ahli kimia. Dia akan tau jika itu teh basi"

"Ya, aku rasa kau benar" Differ menjawab dengan tenang "aneh sekali. Seharusnya aku yang panik Theo, tapi wajahmu pucat sekali"

Akhirnya mereka meminum teh biasa yang kental. Differ bertanya pada Theo mengenai pekerjaannya yang aneh, tapi ia malah menjawab

"Kau tidak akan mengerti, ini jenis pekerjaan yang aku ciptakan sendiri"

Bagus, itu jawaban yang sangat bagus. Ia juga mendiskusikan mengenai pengiriman bibi Jane ke panti jompo, tapi Theo bilang itu sudah keputusannya, tidak ada yang bisa mengubahnya.

"Ia mulai sakit-sakitan Maurice, rematik, osteoporosis dan lainnya"

"Itu bisa diobati oleh dokter secara berkala. Memang berapa sih usianya?"

"Aku tidak bisa membawanya ke dokter terus menerus, di sana akan ada suster sabar yang akan mengurusnya. Dia hampir 60 tahun kau tau?"

"Aku kenal beberapa orang usia lanjut yang masih bekerja"

"Kau sama keras kepalanya dengan bibi Jane" kata Theo

"Begitu juga denganmu" Differ meneguk tehnya.

***

Keesokkan harinya Differ bangun pagi sekali untuk mengunjungi Fanny Donovan yang berada di luar kota. Ia menelpon perusahaan taksi dan menyuruh mereka datang ke stasiun kereta terdekat. Begitu datang, supir taksi itu terlihat sebal karena jauhnya perjalannan dari kota itu. Differ tersenyum dan menyuruhnya ke alamat yang di maksud.

"Maaf Madam, saya tidak tau alamat ini" katanya

Kening Differ berkerut, heran dan kaget. Heran karena pernyataan supir taksi yang sangat aneh itu dan kaget karena.. Ya ampun dia tidak setua itu!. Differ memutuskan tidak menggubris perasaan kagetnya dan menyahut sang supir.

"Oh, jadi apa fungsi GPS itu?"

"Tapi, Madam tempat ini tidak mendapat sinyal satelit yang baik"

"Kalau begitu pergilah ke kota terdekat, dan simsalabim kau mendapat sinyal"

Differ mendengar gumaman kecil bernada umpatan dalam bahasa asing, dan kemudian ia juga mengumpat

"Pemalas!"

Alasan Differ menelpon perusahaan taksi adalah supaya ia tidak pusing memikirkan jalan menuju tempat itu. Pasalnya Differ bukan penghapal jalan yang baik, ia butuh empat-lima kali ke suatu tempat untuk hafal jalannya. Dan ia tidak akan melakukan hal itu kali ini. Perjalanan selama satu jam itu terasa singkat bagi Differ yang asik membaca koran. Dan menyebalkan bagi supir pemalas yang tidak berniat untuk bekerja itu. Differ menyuruh supir itu untuk menunggu di luar. Ia tak akan berlama-lama dengan Fanny, hanya satu pertanyaan dan langsung pulang.

Differ menekan bel beberapa kali namun tak seorang-pun keluar baru di bel ke lima, seseorang anak laki-laki usia 10 tahun dengan piyama bermotif kelinci. Baiklah, Differ mulai muak dengan piyama. Suasana rumah itu ribut sekali, musik diputar keras-keras. Pantas saja butuh bel berkali-kali untuk layanan pembukaan pintu

"Mencari siapa?"

Differ memang tidak suka basa-basi tapi entah mengapa pernyataan langsung itu terdengar tidak sopan "Fanny Donovan" katanya singkat

"FANNYYYYYYYY!!!" Anak itu berteriak mencoba mengalahkan suara musik nan keras itu. Sekarang Differ benar-benar tidak suka anak itu.

Seorang wanita muda keluar sambil menutup telinganya. Menatap Differ heran tapi cepat mengambil tindakan untuk pergi dari sana dan mencari tempat yang lebih sepi untuk bicara. Mereka menyebrang jalan yang padat menuju sebuah kafe yang sepi.

"Maaf atas kekacauannya ..." Kata Fanny

"Anda bisa memanggilku Miss Differ"

"Oh ya dan saya Miss Donovan" mereka berjabat tangan sebentar, dan sebelum Differ sempat menjelaskan apa maksud kedatangannya Fanny sudah lebih dulu berbicara

"Anak jaman sekarang benar-benar mengecewakan. Mereka berteriak dan tidak peduli dengan orang lain. Ini semua pasti karena acara-acara kekerasan itu. Televisi, seharusnya semua orang tua tidak memberikannya pada anak-anak. Itu memberi pengaruh buruk pada mereka"

"Jadi mereka anak-anakmu?"

"Oh, bukan, mereka adik-adikku. Tapi aku pernah merasakan masa ketika kesopanan dan kehormatan di junjung tinggi. Sekarang, lihatlah perempuan-perempuan itu sangat senang dipandangi kotor"

Differ diam saja, ia sebenarnya tidak suka pada orang yang mengeluh, tapi ia tidak bisa menghentikan orang yang sedang berbicara, itu tidak sopan. Maka ia menunggu sampai Fanny selesai empat puluh lima menit kemudian.

"Eh, maaf saya berbicara panjang lebar dan melupakan anda" kata Fanny akhirnya

"Tak apa, saya juga sering begitu" padahal Differ hampir tidak pernah begitu

"Jadi ada apa Miss Differ? Seperti saya tidak pernah melihat anda sebelumnya"

"Tidak, sebenarnya tidak. Saya rekan Inspektur Sprig jika anda ingat, Slagy Lac?"

"Ah ya! Kejadian mengerikan itu!" Katanya dengan nada sedih

"Saya hanya ingin bertanya mengenai kejadian itu"

"Oh, tentu silahkan. Saya akan sangat senang membantu"

"Apa benar anda melihat Miss Dye di toilet saat itu?" Katanya sambil menyerahkan foto Emily

"Ah ya! Saya melihatnya, dia memakai mantel coklat dengan pakaian dan celana hitam" Oh bagus, Differ tidak tau berpakaian seperti apa Miss Dye saat itu

"Dan kalian disana selama dua puluh menit?"

"Rasanya tidak mungkin. Dia memang sudah di sana lebih dulu, baru saya datang. Lalu kami mencuci tangan bersama-sama di wastafel.. Barulah kami mendengar sebuah jeritan dan berlari keluar karena ketakutan"

"Kalau begitu terimakasih"

"Eh begitu saja?"

"Ya, kita sudah bicara cukup lama" Differ mengangkat tangannya, mengecek jam. Otomatis juga mengangkat korannya.

"Oh ya, anda benar. Eh, bukankah itu Nelson Mandela? Saya sedang membuat skripsi tentang dia, segala informasi akan membantu. Bolehkah?"

"Eh, tentu" Differ menyerahkankan koran itu dengan ragu. Nelson Mandela?

Bersambung~

20 Mei 2014

Anak Panah (Part 02)

Berita kematian Archie segera menjadi headline semua koran di seluruh dunia. Sprig tersenyum, dia bukan senang dengan kematian ini. Siapa pula yang bisa mentertawakan kematian?. Ia sedang dalam tugas kemari, menyelidiki sesuatu. Dan kasus ini, sangat membantu sekali. Tugasnya memang jadi lebih banyak, tapi akan menyamarkan tugasnya yang sesungguhnya. Apalagi, jika misi ini sukses, mungkin akan meningkatkan karirnya (?). Sprig, memang tidak punya jabatan tinggi. Reputasinya juga tidak bagus. Meski begitu, menjadi polisi adalah cita-citanya sejak kecil. Ia ingat dulu pernah membuat kelompok detektif sewaktu di Asrama, bukan.. Bukan akademi polisi. Semacam sekolah menengah. Ia juga ingat dengan orang itu, orang yang suka pura-pura tidak mau ikut campur, tapi malah menyelesaikan semuanya sendiri.

Ah, lupakan orang itu. Ia harus cepat-cepat membuat laporan. Sprig memandang tape-nya. Aneh juga dia menggunakannya untuk interogasi kemarin, tape itu sudah kuno. Dan lagi, bukankah lebih baik menggunakan kamera? Seseorang tidak bisa menyembunyikan gerak tubuh ketika berbohong, seperti menggaruk hidung, melirik ke kiri, meminum banyak air.

"Yah, seharusnya aku menggunakan kamera. Bukan tape.." Sesalnya.

Ia memutarnya. Pertama ia mendengar introgasinya dengan Eddy Brood


***

Differ, kini duduk di tempat yang sama di lapangan panahan. Ia menyaksikan Flo dan Theo yang sedang berlatih. Hana duduk di sampingnya, sepertinya ia sudah berlatih sejak pagi. Sementara Emily, Eddy dan Rene absen. Walau sebenarnya, tak ada jadwal khusus untuk latihan. Seperti yang kita tau, Rene baru saja melihat manusia meninggal di depannya, ia pasti shock. Apalagi, Eddy, kakaknya meninggal, dia pasti sibuk dan sedih (meski hubungan kakak-adik ini memang aneh). Dan, Emily, sepertinya ia memang ada perasaan spesial pada Archie, jadi yah..

"Cukup untuk hari ini" Hana bangun dan mengajak semuanya minum teh.

"Teh yang enak Miss Hana, boleh ku minta beberapa? Untuk temanku di kota?" Kata Differ

"Tentu, biar ku ambilkan" Hana masuk kedalam, melewati ruangan penuh kilauan menuju dapur. Differ memperhatikannya dari teras, tunggu... ada yang salah.

"Kemana anak panah dalam kotak kaca itu?" Tanyanya pada Flo

"Disita polisi Miss Differ" jawab Flo

"Kenapa?"

Theo menelan ludah, lalu menjawab pertanyaan itu. "Karena anak panah itulah yang membunuh Archie"

Differ terperangah mendengarnnya dan baru menyadari satu hal.

"Ini Miss Differ, semoga teman anda suka" Hana memberikan beberapa bungkus teh hijau. Differ menatap mereka bergantian, tatapan takut.

"Ada apa Miss Differ? Kenapa memandang kami seperti itu?"

"Ah maaf," Differ memasukkan teh-teh itu ke tasnya.

"Yah, sudah waktunya makan siang. Di pondok ini, tak ada apapun selain camilan. Kau mau ikut Maurice?" Tanya Theo

"Kemana?"

"Makan siang, ke rumah Flo"

"Hei! Tak ada yang mengundangmu!" seru Flo

Maka mereka pergi ke rumah Flo alias rumah Hana alias rumah Emily alias rumah Rene juga. Rumah besar yang hanya terpisah beberapa rumah dari rumah Theo itu adalah warisan dari paman Rene. Ya, keluarganya memang kaya di tambah Rene adalah keturunan terakhir keluarga Coney. Semua uang dari sanak-saudara selalu jatuh ke tangannya. Hal itu membuatnya merasa tidak perlu bekerja.

Suasana rumah begitu sepi. Sepertinya Emily dan Rene sedang tidur. Mereka mulai memasak, ada ayam yang siap dipanggang di kulkas.

"Anda punya banyak sekali teh hijau ya.." Tanya Differ seraya melihat ke arah lemari kaca yana tertempel di dinding

"Ya, aku menyukainya"

"Apakah di negara anda juga ada tradisi minum teh?"

"Oh ya, Ada. Hanya saja kami tidak menyukai teh yang kental sebagaimana anda"

Differ, mengangguk-angguk. Puas dengan jawaban Hana, perkiraannya selama ini benar.

"Tidakkah kita harus mengundang Rene dan Emily juga? Theo, bagaimana menurutmu?"

"Ya, itu ide bagus. Aku akan ke atas mengundang mereka"

Semuanya sudah berkumpul di meja makan. Walau dengan perasaan tidak enak. Bahkan duo cerewet Theo dan Flo tidak bisa mencairkan suasana. Sebagaimana kita tau, Archie tewas ter/dipanah oleh seseorang, dan Anak Panah 'spesial' yang kini disita polisi adalah anak panah yang sama dengan anak panah dalam kotak kaca. Hal ini berarti, salah satu dari anggota klub panahan-lah yang membunuh Archie.

Rene selesai lebih dulu, Ia langsung pergi ke kamarnya. Begitu pun Emily. Hana, Theo, Flo dan Differ kini duduk di meja makan, mereka juga sudah selesai tapi tak ada yang beranjak

"Menyebalkan!" Seru Flo, semua mata langsung tertuju padanya. "Sikap apa itu? Pergi begitu saja, tidak tau sopan santun!" lanjutnya ketus

"Mereka sedang berduka" jawab Hana bijak "Kehilangan seorang teman, apa kau tidak sedih?"

"Archie juga temanku, tapi ia tidak seharusnya ditangisi terus-menerus"

"Ya" kata Differ "kejadian ini baru kemarin, mereka akan baik nanti" Semua orang mengangguk setuju.

"Nah Theo, karna kau diam saja.. Lebih baik kau cuci piring!" Seru Flo

"Hah? Eh, Maurice! Ayo kita pulang! Bibi Jane pasti sudah menunggu" katanya sambil beranjak, Differ mengikutinya dari belakang

"Huh!" Flo mendengus lagi "dia sama menyebalkannya"

Sikap seseorang yang langsung pergi setelah makan memang menyebalkan. Tapi, bagaimana jika itu sebuah pertanda. Misalnya, akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan? Seperti yang terjadi pada Rene. Beberapa saat setelah makan siang yang tidak nyaman itu.. Ia mengalami kejang dan sesuatu yang di sebut Flo dan hipotensi juga aritmia. Ia keracunan, mungkin karna kokain atau amfetamin bisa juga MDMA, dekongestan, Intoksitasi teofilin dan Intoksikasi kafein. Istilah yang aneh, tapi bagi Flo yang notabene seorang apoteker, Rene keracunan kokain. Untungnya ia masih bisa selamat, pertanyaannya siapa yang meracuninya? Apa ini bunuh diri atau semacam pembunuhan berantai? Yang jelas, hal ini akan membuatnya banyak diam, ketakutan.

***

Hari ini ia, Theo dan Bibi Jane sedang sarapan dengan segelas kopi. Theo memilah-milah beberapa surat, dan menyerahkannya pada Bibi Jane.

"Ada surat untukku Theo?" Tanya Differ

"Hmm" Theo memilah-milah surat lagi. "Tidak ada" katanya. Differ menganggukan kepalanya.

"Theo!" Katanya tiba-tiba.

"Ya!" Theo agak kaget

"Ceritakan padaku lebih detail tentang anak panah itu, anak panah dalam kotak kaca" katanya

"Oh.." Theo melepas kacamatanya. Tidak sulit menyuruh Theo bercerita, dia memang senang bercerita.

"Panah itu merupakan panah spesial. Konon pernah direndam air suci. Karena ke-sakral-annya, beberapa kali pernah hampir dicuri, maka kami memasukkannya dalam kotak kaca yang terkunci. Kuncinya sendiri, seperti yang kau tau, hanya diketahui anggota senior di mana letaknya. Semua orang boleh menggunakannya, terutama ketika merasa akan menggapai suatu prestasi paling besar dalam hidupnya. Sebagai kenangan dan penyeimbang, di sisi lain ukiran "keberuntungan" itu diukir pula inisial nama penggunanya. Bisa nama keluarga ataupun nama kecil"

"Nah," kata Differ, merendahkan suaranya "Bagaimana kabar terakhir anak panah spesial ini?"

Theo menelan ludah, ia tidak suka topik ini "Yah, ada inisial baru di anak panah itu"

"Oh, ya?" Differ heran, seharusnya si pembunuh tidak meninggalkan jejak, atau itu jebakan?

"E. Inisialnya E. Ditulis setelah enam huruf sebelumnya" katanya

E? Differ mengingat anggota Klub berinisial E. Emilia dan Edison. Eh, tapi seperti katanya tadi, ini bisa saja jebakan bukan?

"Ya ampun!" Seru Theo. "Aku tak percaya ini!" Katanya lagi

"Jangan ribut Theo!" Kata Bibi Jane

"Millicent, Armstrong, Ursula, Rockburry, Illy..."

"Aku tau mereka, mereka pemanah profesional kan?" Kata Differ

"Coney, dan sekarang E!" Theo melanjutkan. "Mereka juga pengguna anak panah ini" Theo bersemangat

"Aku tidak tau Miss Coney pernah mencapai prestasi paling tinggi dalam hidupnya"

"Inisial mereka Differ! Inisial mereka!!" Kata Theo

"Kau kenapa sih Theo?" Differ heran melihat dia begitu menggebu-gebu

"Inisial! M, A, U, R, I, C, dan sekarang E!!" Kata Theo. Maurice Differ tersedak. Theo tersenyum. "Ini aneh sekali" katanya lagi. "Baiklah, aku harus pergi" Theo berdiri dan keluar rumah dengan pakaian formalnya

Differ meminum segelas air putih.

"Itu benar-benar aneh. Bibi, apa yang dikatakan Theo tadi benar?"

"Mana aku tau"

"Ah, Bibi ini.. Eh, Theo akan kemana dengan pakaian se-rapi itu?"

"Bekerja.."

"Dia bekerja?"

"Tentu saja, seorang pria harus bekerja" kemudian dia melanjutkan "aku tidak yakin apa nama pekerjaannya. Dia mengurus imigrasi, izin tinggal.. Seperti itulah"

"Aku hanya tidak percaya dia bisa bekerja"

"Dia cukup efisien. Mengerjakan sesuatu dengan cepat bahkan hampir tidak terlihat. Lihat, surat yang tadi diberikannya padaku. Ini formulir, dia sudah mengisinya, aku hanya perlu menandatanganinya"

"Formulir apa itu?"

"Panti jompo"

"Bibi akan masuk panti jompo!?" Differ kaget

"Ya, beberapa bulan lagi"

"Tapi, Bibi masih muda.."

"Ohya? Aku tersanjung mendengarnya. Tapi, aku cukup waras untuk mengetahui kondisiku"

Setelah selesai sarapan Differ, pergi ke kantor pos untuk mengirim sesuatu lagi pada temannya. Kali ini bukan pada Ashley juga bukan hanya surat. Ia ingat akan seorang temannya yang sangat suka budaya Asia, maka ia mengirimkannya beberapa bungkus teh hijau. Differ, menanyakan apa saja kandungan gizi yang membuat teh hijau menyehatkan. Sebenarnya Differ tidak bersungguh-sungguh menanyakannya. Ia hanya ingin membuat temannya yang seorang ahli kimia itu senang karena mendapat pekerjaan "Meneliti Teh Hijau"

Di kantor pos, Differ bertemu dengan Emily. Wajahnya terlihat semakin sedih setelah kejadian tempo hari.

"Apa yang ingin anda kirim Miss Dye?" Tanyanya

"Oh, ini beberapa surat warisan"

"Beberapa? surat warisan?"

"Aku, Rene, Flo juga Hana pernah bersama-sama membuat surat warisan. Dan Flo bilang ini saatnya mengirimkannya ke pengacara"

"Apa dia takut akan sesuatu?"

"Entahlah, ia memang mempunyai insting yang tajam"

"Begitukah?"

"Ya, aku rasa"

Differ bertanya-tanya apa benar Flo memiliki insting yang tajam atau mengetahui akan sesuatu? Seperti Robbie misalnya. Ia selalu bilang kalau dirinya mempunyai insting yang tajam, padahal dia hanya sudah tau dengan apa yang terjadi, tau dengan cara yang wajar. Apalagi, setelah kejadian keracunan kemarin, jangan-jangan Flo khawatir kalau kalau mereka akan mati

Differ dan Emily pulang bersama-sama.

"Kalau boleh tahu, maaf jika saya lancang.." Tanya Differ

"Ya?"

"Kepada siapa akan diberikan warisan anda?"

"Apa?!"

"Eh, anda tidak harus menjawabnya"

Emily berpikir sebentar, "anda bisa dipercaya kan?"

Differ membuat gerakkan di depan mulutnya. Tanda dia akan mengunci mulutnya soal itu

"Bukan hal besar" katanya "kami semua sepakat, akan memberikannya sebagian pada keluarga terdekat, juga Klub panahan dan anggotanya"

"Terdengar wajar" kata Differ "udara hari ini, dingin sekali.. Aku tidak mengerti, padahal ini musim panas"

"Masa sih" Emily melihat sekitarnya. Ia tidak memakai mantel. Differ hampir lupa, Emily tidak peka pada cuaca. "Dingin itu kemarin.. Saat kematian Archie, anginnya berhembus kencang sekali" lanjutnya

Ternyata ia tidak benar-benar tidak peka pada cuaca pikirnya.

Bersambung~