21 Januari 2017

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 20

Pukul satu pagi, Alya melirik jam dinding yang ada di lobi. Kepalanya masih terasa berputar mencari informasi tentang apa yang sedang terjadi, meninggalkan ekspresi tidak jelas antara awas dan bingung. Fauzi, jujur saja, selalu ingin tertawa melihat ekspresi itu, ekspresi bangun tidur Alya dalam keterkejutan bisa dikatakan lucu, gadis itu seolah berusaha menipu semua orang bahwa sejak awal ia tidak tidur sama sekali. Yang jelas-jelas gagal.

Tapi itu bukan fokusnya untuk saat ini. Pukul satu pagi, rumah sakit sepi bukan main. Masih terdengar suara kasak-kusuk obolan para perawat yang jaga malam di ruang perawat, tapi selebihnya, hanya suara angin malam dan nyanyian jangkrik yang bisa mereka dengar. Dan Fauzi rasa, empat jam tadi ckup untuk gadis itu tadi beristirahat. Yah, jika mengingat Alya habis menggotong dua pria dewasa, berkeliling rumah sakit membangunkan orang-orang selama enam jam dan tidak lupa jelas-jelas kurang tidur sejak pagi, sepertinya masih kurang, sangat kurang malah. Ia sendiri terkejut, bagaimana gadis ini bisa punya ketahanan fisik sekuat itu?

Dan mengabaikan tatapan kesal Alya—baiklah aku akan tidur satu jam, bangunkan aku, kata Alya empat jam lalu—memberi kode agar mereka segera bergerak. Pukul satu pagi, seharusnya tak akan ada yang sadar kalau mereka pergi. Yah, lagipula, kalau orang seperti Leon dan anak buahnya bisa masuk tanpa kesulitan berarti, kenapa Fauzi dan Alya tak bisa keluar tanpa di curigai?

“Ada rental sepeda sekitar lima puluh meter dari toko swalayan yang kita kunjungi kemarin, kau bawa uang?”

Alya mengangguk,

“Bagus. Kau bisa keluar dengan mudah lewat pintu depan. Lalu cepat pergi ke rental itu dan pinjam dua sepeda, yang ada boncengannya. Sedangkan aku,” Fauzi menghela nafas sebentar “karena statusku saat ini sebagai pasien, tak akan ada yang santai melihatku berjalan malam-malam. Sulitnya, semua orang rumah sakit ini mengenalku, jadi kupikir aku akan ambil rute yang lebih jauh”

“Setelah itu?” Alya bertanya “Aku harap kau ingat kalau aku tak mau ini jadi misi mati konyol”

“Kita akan berusaha sebisa mungkin menipu Leon, tapi aku sendiri tidak yakin” dan hal tersebut terang-terangan terpancar dari wajahnya. Tujuan utama Fauzi saat ini cukup sederhana, ia hanya ingin menyelamatkan Faiza dan Aldo—dan dengan semua nalurinya untuk menghindari bahaya—maka rencananya pun sederhana.

Alya menyadari ini. Tapi kalau mengingat orang-orang ini mengejar mereka terus-menerus, bisa-bisa hidup mereka tak akan pernah tenang sampai kapan pun. Ia juga sadar itu ambisi yang terlalu tinggi, tapi Alya ingin ... setidaknya memastikan kalau mereka tidak akan di buru lagi.

“Soal itu biar aku yang urus” ujar Alya tiba-tiba “pertama-tama kita selamatkan Faiza dan Aldo dulu”

Fauzi mengangguk, dan dengan begitu mereka berdua berpisah.

Hampir semua sudut rumah sakit diberi perlengkapan CCTV. Dan meski kesal jika ia ingat soal penculikkan Faiza yang terkesan sangat mudah akibat pembajakkan frekuensi, Fauzi tetap tidak bisa mengabaikannya. Tujuan utamanya adalah mendapatkan adik dan sahabatnya kembali, tujuan minornya adalah tidak membuat siapapun khawatir, terutama ibunya. Jadi Fauzi memutar otak.

Eh, mereka tak mungkin memasangnya di kamar mandi kan? Fauzi segera memeriksanya, dan mendapati bahwa dirinya benar. Dan senyumnya terkembang ketika melihat jendela kecil di atas dudukkan toilet. Tidak terlalu besar memang, tapi kalau dikira-kira sepertinya ia akan cukup masuk ke sana, lagipula postur tubunhnya juga tidak terlalu besar.

Satu-satunya masalah adalah posisi jendela itu. Fauzi mungkin saja mencapainya dengan berdiri di atas dudukkan toilet dan memanjat. Hanya saja, turun nanti mungkin akan menyakitkan. Dan kalau ia tidak salah ingat, gedung ini dibangun di tanah yang tidak rata. Dengan kata lain ada kemungkinan kalau tanah pijakkannya bisa jadi lebih rendah daripada ruang kamar mandinya.

Fauzi mengurut kening, dia tidak mau ambil resiko tulangnya patah karena jatuh. Setelah ini dia masih harus bersepeda ke rumah Dokter Kamil dan seingatnya medannya sama sekali tidak nyaman untuk dilewati orang patah tulang.

Ia keluar kamar mandi dengan gelisah. Matanya melihat keseliling dan melihat ibunya tidur di sofa tanpa selimut. Perasaan sedih memenuhi dadanya, ia juga bertanya-tanya kenapa hal buruk pada keluarganya. Belum lagi, ayah yang jarang sekali pulang, dalam setahun kepulangannya bisa dihitung jari. Kali ini perasaan bangga menelusup di antara rasa sedihnya. Ibunya wanita yang kuat.

Fauzi berjalan keranjangnya sendiri dan menarik selimut. Ia berniat menyelimuti ibunya, tapi sebuah ide lain tiba-tiba terpikir olehnya. Pelan-pelan diletakkan selimut itu di lantai dan ia mulai menarik spray kasurnya. Selimutnya terlalu tebal untuk ia jadikan tali, tapi spray kasurnya lain.

Fauzi mengendap-endap lagi ke kamar mandi dan mengikat ujung kain itu di selot pengunci jendel yang bentuknya seperti gagang pintu. Ia kemudian kembali untuk menyelimuti ibunya. Saat ia hedak masuk lagi ke kamar mandi, ia mendengar ibunya memanggilnya. Ia menghela nafas, lalu berbalik.

Sebelum ia sempat melontarkan kebohongan, ibunya menyahut.

“Hati-hati”

***

Fauzi meringis, dugaannya benar. Tanahnya tidak rata, dan meski dengan bantuan selimut itu, dia tetap jatuh dengan menyakitkan.

Tapi ia tak bisa berlama-lama berdiri disana sambil mengelus-elus pantatnya. Alya pasti sudah menunggu sekarang, dan begitu juga dengan Aldo dan Faiza. Kata-kata ibunya tadi terdengar aneh, mungkin ia mengigau. Tapi tetap saja ia menjadi lebih tenang setelah mendengarnya. Entah ibunya memang mendukungnya untuk membawa Faiza pulang atau ia sudah lelah dengan semua hal aneh yng menimpa anak-anaknya. Tetap saja, rasanya seolah ibunya bedoa untuk keselamatannya sendiri.

Dan sekarang, ditambah ia sudah tau siapa musuhnya. Fauzi tak akan ragu lagi, ia tidak akan mengabaikan instingnya lagi, ia tak akan mengindahkan rasa takutnya lagi, toh itu membuatnya jadi waspada dan akan menyetirnya pada keberhasilan.

Fauzi berjalan, ia berada di bagian ujung kompleks rumah sakit. Sebuah tembok tinggi berdiri gagah di hadapannya, membatasi dirinya dengan jalanan. Nah, sekarang apa yang harus ia lakukan? Dari arah datangnya, Fauzi tau ia ada di belakang gedung rawat inapnya. Jika ia ke kiri, dan berbelok, ia akan melihat jendela kamarnya sendiri dan jalan utama menuju gerbang. Sama halnya jika ia ke kanan. Dengan kata lain buntu.

Satu-satunya kesempatan adalah tembok di hadapannya ini.  Baiklah, ujarnya dalam hati, tak ada pilihan lain. Fauzi meraba pinggiran tembok itu, cukup kasar dan ada beberapa lekukan yang bisa ia jadikan piakkan. Untung saja bagian atasnya tidak ditempeli benda tajam. Mungkin karena pihak rumah sakit tidak berpikir akan ada pencuri yang memanjat dari sisi lainnya.

Tunggu dulu, Fauzi menelan ludah, mungkin bukan karena tak akan ada yang memanjat, tapi tak ada yang bisa memanjat. Dan sebelum sempat memikirkan alasannya, Fauzi terpaku melihat bagian bawah sisi lain tembok itu. Tentu saja, sama seperti ia mendapati sisi lain kamar mandi lebih rendah dari pada kamar mandinya, bagian lain tembok itu juga begitu.

Dan lebih parah, ada selokan di sana. Fauzi sudah selamat dari kemungkinan patah tulang karena jatuh dari jendela kamar mandi, dan sekarang ia medapat peluang untuk mengerang di selokan. Sungguh tidak elegan.

Persetan! Serunya dalam hati. Fauzi memilih untuk melompat ke depan. Kalau ia beruntung, ia akan sampai di jalanan alih-alih di selokkan. Mungkin rasa sakitnya tidak berbeda, tapi setidaknya ... Fauzi juga tidak tau kenapa berpikir ide itu lebih baik.

Sayang pemilihannya waktunya tidak tepat. Fauzi melompat dan dari sudut lompatanya ia tau ia akan sampai di jalan dengan kaki duluan, hanya saja saat itu sebuah mobil datang dari arah kanannya sambil membunyikan klakson keras-keras.

Fauzi refleks melakukan gerakan berputar begitu sampai di jalan, sehingga ia terduduk di seberang jalan. Pengemudi mobil tadi meneriakkan sumpah serapah sambil bergerak. Sedangkan Fauzi susah payah menenangkan diri. Jantungnya berpacu terlalu cepat sampai ia rasanya lupa caranya bernafas. Tadi itu nyaris sekali.


Tak ada waktu untuk memikirkan bagaimana Fauzi bisa melakukan roll depan sempurna—sementara selama ini selalu gagal dalam tes olahraga—ia harus segera ke Alya.

18 Januari 2017

Kuwalaya (Bagian 11)

“Baiklah tuan dan nyonya!” seru Ruci dengan volume suara yang aku sendiri heran bagaimana dia mengeluarkannya, maksudku matahari baru saja naik, dia pikir apa yang dia lakukan? “Aku harap kalian siap!”

Felisa bangun dengan kebingungan, ia belum sepenuhnya sadar dari mimpi yang baru saja melingkupinya. Sementara Indra sudah sejak tadi menghunuskan pedangnya. Tak ada suara apapun lagi, selain dersik angin yang berembus dengan kencang menerbangkan debu.

“Apa ... apa yang terjadi?” kata Felisa sembari keluar dari reruntuhan rumah itu, ia menutupi wajahnya mencoba menghalangi debu-debu itu.

“Kalian tidak mengira bisa mendapatkan Kuwalaya dengan mudah kan?” Ruci berteriak lagi.

Tanah tiba-tiba berguncang, sangat keras, aku harus terbang bersama merpati lain supaya tidak terganggu. Felisa menoleh ke belakangnya dan melihat rumah itu sudah benar-benar hancur tertabrak angin puyuh yang menari-nari dan kini datang kearahnya. Ia membelalakkan matanya.

“Uh-oh”

“Lari bodoh!” Indra berteriak sambil berlari menjauhi Felisa, menjauhi angin puyuh itu. Dasar pengecut.

“Tunggu!” Felisa berteriak dengan susah payah, nafasnya tersenggal sementara ia berlari “Ada apa ini?!”

“Kau tidak lihat? Kita di serang!” Indra bahkan tidak menoleh saat mengatakkan itu, ia terus saja berlari.

“Tapi kenapa?!”

“Berhenti bertanya!”

Mereka akhirnya berhenti berlari ketika angin itu berhenti berputar dan mengecil hingga menghilang. Felisa langsung jatuh terduduk dan mencoba mengatur nafasnya yang memburu, ia melihat sekelilingnya dan mendapati suasananya sudah lebih kacau dari semalam. Semua bangunan setengah hancur yang kemarin ia lihat kini benar-benar rata dengan tanah, benar-benar hanya tinggal batu-batu besar yang berserakkan.

“Apa-apaan” gumamnya.

“Harusnya aku yang bilang begitu, Yodha macam apa kalian ini?” geram Ruci “Benar-benar menyedihkan” entahlah, tapi aku tersinggung saja mendengar kata-katanya.

“Memangnya aku harus bagaimana?” Felisa berteriak, mencari-cari ke arah langit. “Menghempaskan diri, begitu?”

“Kau tidak sungguh berpikir aku akan memberitahumu, kan?” Suara Ruci tak kalah tinggi.

“Keluar kau, pengecut!”

“Hei” kini Indra yang berbicara, “Aku rasa menghinanya bukan ide yang bagus”

Tanah berguncang lagi, kini lebih keras bahkan mereka berdua tak sanggup berdiri. Felisa melihat ke sekitarnya, masih penasaran siapa yang sejak tadi berteriak padanya. Tapi nihil, tak mungkin ada orang yang bersembunyi di lapangan luas minim pepohonan ini.

“Kita harus kembali ke hutan” seru Indra “tak ada gunanya melawan alam” Indra mencoba berdiri, hendak berlari tapi guncangan itu menjatuhkannya lagi.

“Tapi Bara ada padanya!” Felisa tak mau kalah “Dan dia tak pakai baju semalaman”

“Lantas?” pandangan Indra pada Felisa tak dapat ku artikan, itu seperti gabungan berbagai macam rasa terkejut—toh dia sendiri tidak mengenakkan apapun selain celana dari kulit—

Felisa mendengus kesal “Sungguh? kau tak tau apa artinya itu? Siapa yang menceramahi soal putusnya kepalamu kalau salah satu dari kami mati?”

“Siapa yang sejak kemarin bilang kalau anak itu akan baik-baik saja?”

“Kalian lebih baik tidak mengabaikanku” dan dengan begitu hempasan angin yang keras memukul mereka sampai melesak ke belakang.

Felisa meringis, aku juga.

Aku tidak pernah tau soal rintangan macam apa yang dihadapi para Yodha untuk mengambil Welas. Itu bukan salahku! Maksudku, aku ada di istana, mengurus para Raksa, tak ada waktu untuk mengintip pikiran mereka di sana—bukan berarti jangkauan telepatiku bisa sampai sejauh itu juga—. Lagipula mereka pun tak pernah kembali hidup-hidup untuk menceritakannya. Tapi ini benar-benar konyol, apa Balinda sungguh-sungguh meminta para Pargata untuk membunuh Yodha? Mereka bisa mengakibatkan perang! Dan seingatku itu hal terakhir yang Balinda inginkan. Eh, iya kan?

Sekarang kau paham betapa bodohnya kau memilih mereka, hah? Batin Ruci mengejekku.

Diam!

Aku menarik nafas, posisiku ada di langit saat ini. Dan aku bisa melihat beberapa bongkah batu melayang dengan gerakkan berputar tak jauh dari tempat Indra dan Felisa. Aku tak perlu membaca pikirannya untuk tau apa yang hendak dia lakukan. Gila, Ruci sudah gila!

Ini tidak bisa dibiarkan. Aku tau Raja Manda melarangku melakukan apa pun, tapi dia mengirimku karena khawatir akan hal-hal seperti ini kan? Felisa harus mendapatkan Kuwalaya tidak peduli bagaimana caranya. Di tidak boleh mati karena ini, dia tidak boleh mati sekarang. Benar, aku harus melakukan sesuatu.

Jadi yah, aku melakukan sesuatu. Pusaran angin dengan bongkahan batu itu melambat, dan aku beberapa kali mendengar Ruci mengumpat. Tapi aku tau ini tak akan cukup. Aku harus menghentikkan Ruci, aku harus melumpuh—ASTAGA!

Aku bahkan tak percaya akan mengatakan hal ini, Felisa bodoh! Aku tak mengerti apa yang ia pikirkan, aku bisa membacanya dengan jelas—ia muak, ia ingin menghentikkan angin-angin itu—tapi dia sama sekali tidak berpikir. Ia bangkit dan berlari mendekati pusaran batu itu. Dan dari sakunya, ia mengeluarkan ... apa namanya itu? Sebuah tongkat kayu berbentuk huruf Y dengan karet diantara kepalanya, ia mengambil kerikil dan melontarkannya dengan alat itu. Seolah bongkahan batu yang melayang berputar dihadapannya tak lebih dari buah apel segar yang menanti untuk dipetik.

Indra tidak melakukan apapun. Dia hanya duduk di sana sambil membelalakkan mata sambil membuka mulutnya. Dia sama terkejutnya dengan aku, dia sama tak percayanya denganku.

Ruci tertawa, suara tawanya keras dan jelek. Dia tidak tertawa karena merasa punya kuasa atau berusaha menakut-nakuti, dia tertawa karena merasa apa yang dia saksikan itu lucu. Dia dipenuhi kegelian murni. Kemudian pusaran batu itu berhenti begitu saja.

Felisa berdiri saja di situ. Sama sekali tidak diliputi keraguan, ataupun rasa khawatir tentang apa yang baru saja ia lakukan, tentang apa yang akan terjadi. Dia berdiri di sana, menanti Ruci keluar dari persembunyiannya, dan memang itulah yang terjadi. Sebuah gundukkan batu beberapa puluh meter dari mereka runtuh, dan Ruci melompat dari dalamnya, ia terkekeh.

“Kalian benar-benar kurang persiapan, kan?”

Felisa membungkuk, memungut kerikil lain, lalu memasang kuda-kuda. Dia bersiap kalau ada serangan lain. Aku bisa membaca pikirannya, tapi tidak dapat memahaminya.

“Di mana kau sembunyikan Bara?” desisnya sambil membidik.

“Oh, apa yang akan kau lakukan? Aku takut sekali” Ruci terkekeh lagi. “Aku berlatih bertahun-tahun, dan Yodha yang membalas seranganku adalah gadis kecil dengan ketapel” ia bergumam “omong kosong macam apa ini?”

“Dengar ya, kancil yang bisa bicara” Felisa berucap lagi “Aku sama sekali tidak mengerti kenapa kau begitu ingin membunuhku. Tapi, aku ini cinta damai, jadi bisakah dengan damai kau mengembalikkan Bara?”

Ruci mencebik kesal “Kau tau kali ini aku benar-benar marah dengan Mar” Hey! “Dan kenapa pula kau mau anak itu kembali? Dia sama tidak bergunanya denganmu!”

“Kalau aku sih,” Felisa merendahkan nada suaranya, ia kini lebih santai, meski tidak menurunkan pengawasannya—astaga, untuk apa? Dia takkan menang dengan benda itu—“lebih memilih tidak ditanyai polisi saat pulang nanti”

“Pulang?” Ruci tertawa “Kau sebegitu optimisnya bisa pulang hidup-hidup, ya?” ia melanjutkan. “Kau kira semua ini hanya lelu—”

Ruci memang harus menghentikkan kalimatnya, ia—dan bahkan Felisa juga aku—tidak memperhatikan Indra selama dirinya asik bergosip dengan Felisa. Dan tahu-tahu saja, pria itu sudah ada dibelakang sang kancil sambil melompat mengayunkan pedang. Tak ada gunanya melawan alam, jadi lawan saja penjaga kedamaian alam, eh?

Ruci, tentu saja ia tidak terluka, ia mengalihkan fokusnya tepat waktu dan menghempaskan Indra yang mengancam di belakangnya. Kemudian ia berbalik, dan menampakkan seringai mengerikkan kepada laki-laki itu. Indra bangkit berdiri, memasang wajah sekeras batu lalu menerjang maju. Ruci hendak menunggu sampai ia cukup dekat dengannya sebelum menamparnya dengan kenyataan bahwa pedang tak bisa melawan angin, tapi sebelum Indra memasuki zona itu ia berbelok.

Dan sebelum siapapun sadar, sambil berlari ia menyarungkan pedang dan dengan satu gerakan memanggul Felisa kabur. “Ambil jarum di sakuku” bisiknya pada Felisa sebelum gadis itu protes.

“Kalian pasti bercanda” Ruci tertawa dengan suram, kekecewaannya tak bisa kugambarkan.

Indra kehilangan pijakannya, tapi bukan karena dia tersandung atau menghadapi hempasan angin lainnya. Ia melayang. Dan sesegera ia kehilangan keseimbangan, secepat itu pula ia menjatuhkan Felisa. Untung gadis itu juga turut melayang. Tapi keadaan tidak menjadi lebih baik, mereka mulai berputar seperti halnya batu-batu yang hampir dilemparkan pada mereka tadi. Awalnya memang pelan, tapi kecepatannya mulai naik dan Indra bersyukur ia belum makan apa pun sejak kemarin.

Tak perlu waktu lama hingga akhirnya mereka berdua terlempar dengan kecepatan yang mengerikan. Aku tau Felisa akan mengalami patah tulang jika ia sampai menubruk tanah kalau hal itu dibiarkan, dan jika aku membiarkannya, hal itu malah akan jadi kontradiksi dari niatku untuk menolongnya. Aku membuatnya jatuh dengan lebih manusiawi, tapi Ruci terlalu pelit untuk membiarkanku melakukan penyelamatan begitu saja. Yang aku tau, berikutnya aku berada dalam putaran angin yang memabukkan. Untung saja, aku masih cukup kuat untuk terbang.

Dan jangan khawatirkan Indra, panglima kesayangan Raja itu mendarat dengan mulus dengan gerakkan berputar, dan tak membuang waktu untuk bangkit dan mengayunkan lagi pedangnya. Ruci sudah bersiap untuk menghadapi manuver mendadak yang mungkin akan dilakukannya lagi, ia mengawasi kanan dan kirinya dengan susah payah. Tapi bukan Indra kalau tidak bisa mengecoh Pargata.

Ia melakukan gerakan meluncur, dan berusaha menyabet kaki kancil itu. Namun Ruci tidak bodoh untuk tetap diam. Ia melompat mundur, dan harus menghindar lagi saat Indra menyerang sisi tubuhnya.

Sebuah lempeng batu jatuh secara vertikal dari langit-langit untuk menghalangi serangan Indra yang berikutnya. Ia melompatinya dan menyerang lagi tanpa lelah, nyaris tanpa jeda. Kalau boleh kukatakan itu hampir tidak bisa dipercaya setelah putaran yang dihadapinya tadi, tapi toh Indra memang menyerbu Ruci seperti kesetanan. Dan dengan gempuran bertubi-tubi tanpa pola secepat itu, Ruci tak punya cukup waktu untuk berkonsentrasi untuk menggerakkan angin. Yang bisa ia lakukan hanya terus bergerak mundur menghindari serangan.

Indra tampak tidak terganggu dengan ini, wajahnya tidak menunjukkan raut kesal baik karena Ruci tidak membalas maupun karena serangannya tidak ada yang kena. Ia punya rencana lain, dan aku baru menyadari bahwa serangan Indra membuat Ruci semakin mendekati Felisa yang sejak tadi siap membidik dengan ketapelnya.

Kemudian terjangan Indra melambat, Ruci ikut berhenti dan menyiapkan serangan angin terbesarnya. Saat Indra bergerak maju dengan teriakkan memekkakan telinga, Ruci tau bahwa kali ini ia tidak perlu menghindar dan Felisa sadar ini adalah bagiannya.


Indra terlempar, tapi tak lama kemudian Ruci terjatuh dan tak bisa bergerak. 

28 Desember 2016

2016 in Review

imgsrc

Sisa 2016 sudah bisa di hitung jari, satu lagi tahun yang ‘mengesankan’ terlewati. Dan ya, jarak saya dengan kematian berkurang satu tahun lagi.

Sepertinya jelas banget bagaimana kesan saya pada tahun ini, ya? Tapi saya gak mau menyalahkan diri sejauh itu, soalnya saya yakin banyak orang yang juga setuju kalau 2016 bukan tahun yang terbaik. Khususnya dengan banyak kebencian dan kehilangan yang tersebar di media.

Bagi saya sendiri, ini tahun yang berkesan. Kehidupan seolah mengejek saya yang akhir tahun lalu berkata saya siap dengan tanggung jawab. Mengejek saya yang tahun lalu bilang menerima sisi menyebalkan masyarakat. Mengejek saya yang mengharapkan tantangan. Rasakan! Serunya, selagi saya mencoba untuk bangkit lagi, menghindari lantai kaca dengan kegelapan tak berujung dibaliknya. (Iya, tau, lebay)

Dan sebab itu saya juga minta maaf untuk semua aura negatif yang saya sebarkan, semua keluha, semua sindiran, juga penggunaan kata depresi atau jenis penyakit mental lainnya yang tidak tepat. Semoga saya tidak menyakiti hati siapa pun, harapan yang egois, memang.

Tapi yah, kalau dipikir-pikir ini gak buruk-buruk amat. Pelatihan olimpiade itu bakal jadi kenangan yang saya inget terus, waktu jalan-jalan ke IPB juga, ato pas saya melawan kebiasaan dengan berangkat dadakan ke obralan Gramedia buat borong buku Agatha bareng Intan, juga waktu ketemu Tere Liye.

Tahun ini juga awal dari banyak hal yang mungkin jadi sesuatu yang berarti buat saya. Saya mulai nonton Dan and Phil, dan ini obsesi paling lama yang pernah saya jalani. Dan sekedar inget dua orang ini, bikin saya bisa senyum pas lagi sedih-sedihnya.

Saya juga mulai belajar gambar digital. Yah, meski awalnya gak mau serius-serius banget, soalnya saya tau bakal gagal. Tapi makasih buat Iis sama Indri yang bikin saya jadi mau nerusin ini. Maksud saya, saya emang suka gambar dari SD, tapi isu kepercayaan-diri saya sering mengganggu jadi makasih kalian.

Dan soal tontonan, tahun ini saya banyak nonton Anime. Dan saya gak nyesel.

Walau ya, hasilnya saya jadi keteteran di menulis dan membaca, tapi selalu ada cara buat memperbaikinya, kan?

Bahkan soal saya yang sering sakit hati tahun ini, itu juga kabar baik. Toh itu artinya candaan saya tentang betapa saya gak punya perasaan itu gak bener. Dan itu juga berarti mungkin saya gak sepengecut yang saya kira dulu.


Saya gak ngerayain tahun baru, tapi setelah ini semuanya bakal terasa aneh. Semester baru, tanggalan baru, dan hey, uang baru! Jadi yah, saya berharap banyak pada 2017. Betapa pun saya tau ekspektasi lebih sering memberikan kekecewaan, saya gak mau memulainya dengan pesimistis. Jadi yah, semoga ini jadi tahun yang baik untuk kita semua.

17 Desember 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 19

Saat Fauzi membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah plafon putih yang sangat ia kenal, lalu hidungnya mencium bau antiseptik yang membuatnya semakin yakin tentang keberadaan dirinya sekarang. Fauzi melihat ke sekitarnya, dan mendapati ibunya meringkuk tidur di sofa. Wajahnya terlihat lelah seperti biasa, dan menyadari bahwa hal itu seringkali dsebabkan olehnya menghantamnya dengan rasa bersalah.

‘Harusnya aku tidak sak—’ Fauzi menghentikkan monolog pikirannya sendiri, ia memang sudah terbiasa sakit untuk terbaring di ranjang rumah sakit, tapi kali ini, ‘aku tidak sedang sakit’. Fauzi menggali memorinya, yang terakhir ia ingat, ah, tentu saja jus jeruk buatan Kak Lily. Lalu ia tertidur, tertidur, apa karena itu mereka membawanya ke mari? Hanya karena ia ketiduran di rumah Profesor Owl?

Fauzi berusaha untuk duduk, kepalanya terasa pening. Apa ini efek tidur terlalu lama? Ia melihat ke jendela, langit memang sudah gelap.  Tapi selama apa ia tidur? Ia mengangkat tangan kanannya, oh, benda itu sudah tak ada di sana. Ia mencari ponsel, tidak ada juga. Akhirnya ia memindai dinding, dan mendapati sepucuk jarum pendek yang mengarah ke angka sembilan.

Tunggu sebentar! Ia punya janji dengan Alya! Astaga, apa yang ia lakukan di tempat seperti ini! Ponsel, ponsel, di mana benda sialan itu. Fauzi menyandarkan punggungnya, ah, tidak mungkin juga Alya menunggu sampai selarut ini, dia pasti pulang, tapi apa yang aan Alya pikirkan tentang dirinya?

Daripada itu, yaampun dia belum melihat Faiza seharian. Ia harus menjenguknya, yaah, meninggalkan ibunya tak akan terlalu masalah. Lagipula, Fauzi mengenal Rumah Sakit Mariana sebagaimana ia mengenal rumahnya sendiri, ibunya tak akan khawatir.

Saat keluar dari ruang inapnya, Fauzi dikejutkan oleh seorang gadis yang mengurut kening di sofa lobi. Dengan cepat ia langsung mengenali tas biola yang tergeletak di sampingnya.

“Alya, aku kira—” Fauzi menghentikkan kalimatnya saat melihat Alya melotot marah padanya.

“Tujuh jam” Alya menggerutu “bagaimana kau bisa sepulas itu sementara ...” Alya menghela nafas keras. “Entah bagaimana keadaan Faiza dan Aldo, dan bahkan kenapa aku peduli?!”

Fauzi tak tau harus bilang apa, dia hendak bertanya banyak hal mengenai pernyataan Alya tadi. Tapi menurut pengalamannya, hal itu akan sulit jika keadaannya sudah begini.

“Kau mau—” Fauzi tak tau apa ini akan berhasil, Faiza biasanya langsung tenang, tapi “es krim?”

“Es krim? Es krim?!” Alya menampakkan raut tak percaya “Zi, kita dalam masalah besar, dan kau menawariku es krim?!”

“Rasa cokelat” lanjutnya “Dan aku jelas-jelas tak tau apa yang sedang kau bicarakan, jadi percuma marah padaku”

Alya menghela nafas panjang lagi untuk ke sekian kalinya. “Aku mau rasa vanilla”

***

“Lalu aku harus membangunkan semua orang satu persatu seorang diri” Alya mengakhiri kisahnya bersamaan dengan tandasnya eskrimnya.

Tak ada kedai es krim yang buka malam-malam begini, lagipula ini rumah sakit. Jadi mereka pergi ke toko swalayan yang letaknya ada di seberang jalan di luar gerbang. Setelah membeli eskrim—dan camilan lainnya—mereka berjalan perlahan kembali ke gedung inap Fauzi.

“Padahal kau bisa saja meminta bantu Profesor Owl dan Dokter Agung, mereka bisa dibangunkan dengan membuka kelopak matanya dengan paksa” Fauzi untuk pertama kalinya berkomentar, mendengar kematian Kak Lily membuatnya tak bisa berkata-kata. Baru beberapa bulan mereka mengenal, sekarang dia sudah pergi lagi, apa yang akan dikatakannya pada Fira? Gadis itu sangat menyukai Kak Lily.

“Kenapa kau baru bilang sekarang?” Alya meringis, usaha sok heroiknya membangunkan semua orang ternyata sama sekali sia-sia.

“Aku tidak tau benda itu akan digunakan lagi. Atau, memasang musik keras-keras,”

“Aku berpikir kesana, tapi nanti mereka berdua bangun”

“Benar juga, di mana mereka sekarang?”

Alya tidak segera menjawab, ponselnya berdering di sakunya. Buru-buru di angkatnya anggila itu, dan benar saja, wajahnya langsung panik begitu melihat nama yang terpampang di sana.

“Halo?” sapanya ragu, sedetik kemudian dia meringis dan menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Setelah menunggu beberapa saat, Alya akhirnya berani membalas “Iya, pak, maaf” ia diam lagi “Iya, pak” kemudian menutup panggilan itu.

Fauzi tanpa basa-basi langsung bertanya “siapa?”

“Polisi,” ungkap Alya “selalu saja begitu ya? Hubungan kita dengan polisi. Padahal mereka saja yang tidak becus” ia mendengus “Sebaiknya kita cepat pergi dari sini, tidak aman, lagipula aku tak bawa biolaku”

“Hah?”

“Kau tadi bertanya di mana mereka kan? Aku mengurung mereka dalam gudang, lalu melapor pada polisi. Tadi polisi menelepon dan berkata untuk tidak main-main dengan polisi” Alya mendesah “Itu artinya ada pekerjaan orang dalam, penguntit tanpa identitas itu mungkin anak buah mereka yang bersembunyi, dan bisa saja ...”

“... sedang mengawasi kita saat ini”

Fauzi dan Alya berjalan lebih cepat, ruang rawat inap Fauzi hanya tinggal beberapa meter lagi ketika Fauzi tiba-tiba teringat sesuatu dan mengungkap tanya “Kalau begitu, Aldo dan Faiza, sekarang, mereka ...”

 “Ayo lebih cepat, kita harus menyusun rencana” kemudian ia melanjutkan “dan tidak, kali ini kita tidak akan mengendap-endap lalu kabur seperti yang kau lakukan dulu. Ini akan jadi rencana sungguhan, paham?”

Es krimnya tidak terlalu efektif rupanya, gumam Fauzi.

“Daripada itu,” Fauzi agak ragu, dia sebenarnya agak tersinggung karena tekanan tadi tapi saat ini mungkin memang lebih baik menyingkirkan egonya untuk sementara. “Alya, setidaknya istirahat dulu malam ini. Maksudku ini hari yang berat untukmu.—Tidak—Dengar, aku tau kau mengkhawatirkan Faiza dan Aldo, aku juga, bahkan mungkin lebih dari dirimu. Tapi percayalah, mereka baik-baik saja saat ini”

“Dan bagaimana kau yakin? Rano mau membunuhku tadi, kau tidak memperhatikan ya?”

“Kalau kau tanya begitu” aku juga tidak tau “Dia bilang agar kau tidak mengganggu rencananya kan? Apa rencananya? Menghabisi kita semua? Itu artinya dia belum menjalankannya kan?”

“Zi” ujar Alya putus asa “itu empat jam yang lalu, dan kita praktis tidak tau apa yang dia rencanakan. Kita tidak tau apa-apa sama sekali. Menunda sama sekali tidak terdengar bagus”

“Percaya padaku, mereka masih hidup saat ini.”

A/N

At this point I feel everything is pointless and getting too complicated. why? WHY?

14 Desember 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 18

Alya tak tahu banyak soal cara menarik perhatian orang yang menguntitnya. Ia pernah membaca soal berjalan melewati jalur yang rumit atau berbentuk lingkaran untuk mengetahui seseorang sedang menguntit kita atau tidak. Tapi keadaannya berbeda, penguntit itu mengawasi mereka dari sini, bersembunyi di antara pedagang kaki lima ini.

Alya menyeruput es cendolnya lagi. Sebenarnya, kalau ia mau, Alya bisa saja benar-benar membuat jalur lingkaran itu, hanya saja ia tidak yakin apa itu cukup aman. Selain itu, ia tidak berniat membuang-buang waktu, Aldo dan Faiza, entah di mana dan bagaimana keadaan mereka sekarang.

Seseorang menepuk bahunya, Alya terkejut bukan main. Tapi ia kembali tenang setelah melihat bahwa itu adalah tukang dawet yang tadi. Pria tua itu mengucapkan sesuatu, tak terlalu jelas di telinga Alya yang sedang mendengarkan musik, tapi ia bisa membaca gerak bibirnya. Alya mengerutkan dahi sejenak, lalu dengan cepat menjawab “Iya!”

Sang kakek menunjuk seorang pria yang berdiri di sebuah persimpangan jalan. Jantung Alya berdebar, ia tidak menyangka bahwa justru penguntit itu sendiri yang menantangnya. Menyampaikan pada kakek ini bahwa orang yang di tunggu Alya sudah datang. Perasaan aneh menyelubungi hatinya, ini diluar antisipasinya, apa jika dia ke sana akan ada jebakan? Alya menggeleng, kalaupun ada, dia sudah siap melawan balik, lagipula senjatanya adalah sesuatu yang tak akan ia sangka.

Alya mengeluarkan biolanya dari dalam tasnya, entah pilihannya untuk ke sana benar atau tidak. Ia mungkin akan mengalami hal yang sama dengan Faiza dan Aldo, tapi berharap semuanya baik-baik saja tanpa mengambil resiko juga terdengar konyol.

Alya menarik nafas panjang, ia siap.

Aneh juga kenapa orang itu memilih persimpangan itu sebagai tempat berkumpul. Alya mengira para penjahat menyukai tempat yang lebih sepi. Persimpangan itu terlalu terbuka, dan banyak orang yang lewat. Persimpangan itu menghubungkan rumah sakit, lapangan parkir serta kompleks perumahan dinas. Tapi entahlah, mungkin dia sangat percaya diri dengan penampilannya yang memang, dari segi manapun tidak mencolok.

“Maaf,” Alya menyapa “Kau siapa?”

Pria itu menoleh, wajahnya di tutupi masker. Tapi melihat ciri fisik lain yang masih bisa terlihat—rambut lurus hitam legam dan mata yang agak kehijauan—Alya bisa bersumpah ia tak pernah melihatnya, baik sebagai tukang rujak maupun tukang sayur, atau apapun yang mungkin menguntit mereka.

Pria itu membuka maskernya, kemudian tersenyum, saat itu lah Alya sadar kalau ia mengenalnya, terlalu mengenalnya.

Alya tidak terkejut, sama sekali. Hanya saja ini tidak masuk akal.

“Aku bahkan tak perlu menjelaskan apapun lagi padamu, kan?” ucap Leon.

“Di mana Aldo dan Faiza?” desisnya. Ini salah, tidak mungkin Leon yang menguntit mereka selama ini. Karena kalaupun iya, untuk apa? Dia sudah sangat dekat dengan mereka. Leon praktis mempunyai jam tangan Fauzi, yang otomatis bisa melacak keberadaan Faiza dan Aldo. Tak perlu ada penguntitan.

“Aku tidak mengerti dengan kalian para wanita” kata-kata Leon terdengar lelah “Faiza, Lily, dan kau. Untuk pertama kalinya ada orang-orang yang sulit aku tangani”

“Aku tidak bodoh” Tapi kalau begitu siapa yang menguntit mereka selama ini?

“Aku tahu itu, itu sebabnya aku mendatangimu seperti ini” Leon nampak tidak sabar “Dengar, Alya, aku tidak menyukai kekerasan—”

“Lain halnya dengan racun” Alya merendahkan kata terakhirnya, ada seseorang yang lewat di belakangnya. Tempat ini terlalu ramai.

“Jangan memotong. Maksudku, kecuali terpaksa aku lebih memilih untuk tidak mendengar jeritan. Kau paham? Jadi—”

Kau memintaku untuk menyerahkan diri? Yang benar saja”

“Memang tidak, aku tidak sebodoh itu mengira kau akan menerimanya, kan? Aku hanya minta agar kau tidak mengganggu renca—”

Alya tau kenapa Leon menghentikkan kalimatnya, alasan yang sama yang membuat bulu ]udu]nya meremang. Di belakangnya, entah siapa, menyampirkan tangan kirinya di pundak Alya. Dan sementara tangan kanannya, memegang sesuatu yang tajam sambil menekannya ke pinggul Alya.

“Tidak Rano, kau tidak akan melakukannya, tidak di tempat seramai ini! Oh Tuhan, Kau selalu mengacaukan segalanya”

“Tapi, Leon, apa yang baru saja kudengar barusan? Kau takut pada gadis kecil ini?” Rano tertawa “aku akan melakukannya, lalu kita lari, oke?”

“Rano!” Leon menegurnya lagi, lalu sambil merendahkan suara “paling tidak, di tempat yang tidak dilihat orang”

Mereka berencana membunuhnya? Alya tau ini akan terjadi, dasar busuk, umpatnya dalam hati. Hampir saja, hampir saja Alya percaya pada omong kosong manis bahwa Leon akan melepaskannya.

Kalian kenal Rio kan?” Retoris Alya penuh kebencian. Ini bukan akhir hidupnya, Alya masih bisa melakukan sesuatu. Diangkatnya biolanya ke dagu, lalu tangan kanannya yang memegang gesekkan. Rano tak akan menyakitinya di keramaian, meskipun ia bergerak. “Ode to Joy, lagu favoritnya” dan nada-nada ceria mulai mengisi kehenigan dalam kebingungan dua pria itu.

Rano yang pertama kali menguap, kemudian Leon, lalu orang-orang yang berlalu lalang. Suara Tiffany Alvord yang berdendang di telinganya mencegah Alya untuk ikut jatuh tertidur, dan saat ia bisa merasakan Rano sudah jatuh, Alya menghentikkan permainannya. Ia berjinjit dengan hati-hati, dan menahan jangan sampai ia memekik tanpa sengaja.

Alya melihat ke sekitarnya, semua orang tertidur, dia benar-benar membuat kekacauan.

A/N

Saya tau ini pendek, tapi biasanya juga pendek