14 Juni 2017

Sua Kafi

(Bingung bikin judul 😪)

Yang pantas untuk di kenang, belum tentu pantas untuk di bagi. Memang. Tapi masalahnya, saya tidak bisa memastikan apa catatan ini akan selamanya berada di ponselku agar bisa kukenang. Atau sebuah kecelakaan terjadi sehingga aku tak bisa membacanya lagi.

Jadi biarpun orang-orang selalu bilang, internet is not you diary, saya tetap akan mempublikasikan ini.

Dibanding sebelum-sebelumnya. Ini adalah bukber bareng TC yang paling singkat perencanaannya. H-1 dong! Awalnya, saya dan Intan berencana pergi pada tanggal 12 Juni, bersamaan dengan jadwal rilis Bintang. Tetapi sesudah dirundingkan, kami memilih tanggal 11. Beruntung Gramedia Botani Square sudah memajang Bintang beberapa hari sebelum jadwal resmi rilisnya.

Dan yang paling spesial dari semuanya. Kali ini Galuh ikut! Beneran deh, terakhir saya ketemu Galuh itu tiga tahun lalu pas perpisahan SMP. Dan jelas kangen banget sama makhluk satu ini.

Jadi ketika itu, saya berangkat jam satu siang. Setelah membeli kuota di kounter depan gang, memasuki angkot dan mengabari Fira dan Hania. Jalanan macet waktu itu, mungkin karena itu hari Minggu. Tapi sejujurnya, kemacetan itu tidak separah macet hari Minggu di hari bukan Ramadan. Ketika Fira naik, kami langsung tertawa dan dia menanyakan kabar Wool, novel yang saya pinjam setahun yang lalu. Akhirnya, saat itu sampai kami menjemput Hania, kami membahas novel fiksi-ilmiah yang buku kedua dan keyiganya tidak diterjemahkan itu. Kemudian Hania naik, lalu kami meneruskan perjalanan sampai Ciawi.

Kami mencari-cari Intan yang katanya menunggu di bawah tugu selamat datang. Ternyata lebih sulit dari yang dibayangkan. Hania sampai berteriak saat berhasil menemukannya. Dan ya lanjutkan lagi perjalanan ke Bogor.

Saat turun di depan Happy Puppy, saya terlalu sibuk dengan kembalian angkot, sehingga agak terlambat menyadari histeria yang lain saat bertemu Galuh. Gadis itu menghalangi wajahnya seperti seorang penjahat, tapi yang jelas kami semua tertawa. Bahasan pertama Galuh adalah bertanya pada Hania apa dia sudah mencetak kartu peserta UTMI. Dan kata-kata pertama saya pada Galuh adalah bilang padanya kalau suaranya terdengar lucu. (Sebenarnya tidak juga, suaranya masih sama persis dengan yang saya ingat tiga tahun lalu, rapi tidak lama mendengarnya jadi terasa aneh)

Mila menyadarkan kami semua dan menunjukkan bahwa Happy Puppy tutup. Kami berjalan kaki ke salah satu tempat karaoke yang lain dan menyadari kenyataan yang sama. Pun ketika berjalan kaki (yang kali ini dipenuhi drama Galuh mau kabur untuk mencetak kartu pesertanya) lagi sampai Lippo. Bioskop XXI menggoda kami untuk mengecek, meski semalam sudah disepakati kalau menonton film di hari Minggu itu terlalu beresiko untuk kantong, kami tetap masuk dengan alasan Fira yang mau memenuhi panggilan alam. Duduk di salah satu lorongnya, Intan mengusulkan supaya kami menunggu saja di sana sampai jam empat, karena kalau menonton pun waktu akan terlalu lama terlewat dan kami mungkin takkan sempat untuk berbuka.

Tapi akhirnya, kami pergi ke Botani Square karena sebentar lagi Ashar. Duduk bersamanya Galuh dan Hania di dalam angkot berarti pemenuhan salah satu janji mereka semalam. Hania meminjamkan ponselnya, agar Galuh bisa menonton video-video komedi yang kami buat waktu SMP. Tawa memenuhi angkot hari itu, selain juga rasa jijik dan malu.

Setelah shalat di Masjid Alumni IPB, kami langsung masuk dan mampir ke FunMart. Rupanya ada sudut karaoke kecil di sana yang bisa kami pakai untuk menghabiskan waktu. Sayang saat kami ke sana seluruh tempat itu sudah penuh, terpaksa kami menunggu sambil sesekali mengutuk seorang mbak-mbak yang tampak sendirian saja dalam sebuah bilik.




Ketika kami akhirnya mendapat sebuah bilik. Semuanya langsung riweuh memilih lagu. Bilik sebelah samar-samar terdengar sedang memainkan Surat Cinta untuk Starla, dan kami bergidik karena rupanya lagu itu ada di Top 100. Agak sulit juga memilih lagu, kebanyakan lagu-lagu di sana hanya lagu lama sehingga kalau di bilang kami memilih berdasarkan keseriusan untuk menikmatinya, ya tidak juga. Lagu-lagu yang agak modern seperti Closer tidak begitu di sambut baik, dan kami malah lebih sibuk berfoto-foto saat itu. Kemudian mengikuti naluri, lagu-lagu berikutnya yang lebih mengundang tawa menghadirkan suasana yang lebih seru. Seperti Chandelier, yang mengizinkan untuk berfals-fals ria, Kambanglah Bungo dan Never Say Never, untuk menghormati masa lalu, juga Surat Cinta untuk Starla dengan alasan ironis. Kadang, kami ikut menyanyikan lagu-lagu bilik sebelah yang lebih normal.

Pukul lima, kami sepakat sudah waktu yang tepat untuk mencari tempat, apalagi jaga-jaga kalau foodcourt Botas sudah penuh. Dan ternyata memang sudah penuh di semua tempat. Belum lagi Galuh yang terus merajuk ingin mencetak kartu peserta. Hampir setengah jam berkeliling tanpa hasil, kami memutuskan pergi ke Giant untuk membeli makanan ringan untuk berbuka. Setelah sebelum mendaftarkan nama Intan di waitinglist sebuah tempat makan.

Setelah riweuh memilah-milah aqua, kami duduk tidak jauh dari pintu masuk. Sekalian sibuk menghubungi GrabExpress untuk mencetak kartu peserta Galuh dan mengenang masa lalu di mana kami adalah sekumpulan anak cupu tukang bully, ckckck. Beberapa saat setelah Adzan Maghrib, kami kembali ke Masjid Alumni IPB. Galuh dan Hania pergi sebentar untuk mengambil hasil cetakan kartu peserta.

Ketika kembali kederetan tempat makan di lantai 2 Botas, kami harus dikecewakan oleh mbak-mbak pencatat reservasi yang justru tidak ingat kami pernah mendaftar. Foodcourt, memang masih ramai, tapi setidaknya ada kepastian orang-orang akan segera pergi. Dan ya, akhirnya kami dapat tempat dan makan dengan damai.

Dan tentu saja, setelah itu kami beli D'crepes wkwkwk. Saya dan Intan pergi duluan ke lantai bawah untuk mampir dan membeli obat di Giant, lalu memutuskan untuk mampir dan membeli Bintang di Gramedia dan langsung ke tempat karaoke mini di Funmart.

Ketika yang lain sampai. Galuh mengusulkan untuk langsung pulang karena saat itu sudah jam 8.30, time sure goues fast. Setelah transfer buku antara saya dan Intan, kami kemudian lekas pulang. 
Bahasan terakhir di angkot hari itu adalah pengalaman UN, dan SBMPTN masing-masing. Serta tentang cita-cita konyol dan hal-hal tentang sekolah.

Another great days has been passed. Saya ketawa banyak banget hari itu, dan jelas bersyukur sekali bisa bertemu mereka lagi.

Tapi toh, bersama kesulitan ada kemudahan. Mungkin karena alasan yang sama keesokkan harinya saya menemukan Si Ekor Pendek terbujur kaku. Tidak ada hubungannya sih, tapi rasanya kok kebahagiaan saya cepat sekali berlalu.

3 Juni 2017

(Review) GOSICK



Titles: GOSICK -ゴシック-
Type: TV
Episodes: 24
Status: Finished Airing
Aired: Jan 8, 2011 to Jul 2, 2011
Premiered: Winter 2011
Producers: TV Tokyo, Kadokawa Shoten, KlockWorx, Memory-Tech, NTT Docomo
Licensors: FUNimation Entertainment
Studios:Bones
Source: Light novel
Genres: Mystery, Historical, Drama, Romance
Duration: 20 min. per ep.
Rating: R - 17+ (violence & profanity)

Setelah perang berakhir, Akademi St. Marguerite akhirnya membuka penerimaan pelajar asing. Dan salah satu dari mereka adalah Kujou Kazuya yang datang dari Jepang. Menjadi satu-satunya orang bermata dan berambut hitam, pada masa-masa awal sekolahnya Kujou sering dikaitkan dengan mitos malaikat maut musim semi yang beredar di sekolahnya. Dan membuatnya dijauhi dan tak punya teman.

Takdir kemudian membawanya pada Victorique, seorang gadis berambut pirang yang selalu berada di lantai teratas perpustakaan, yang juga dijauhi oleh mitos peri emas perpustakaan. Victorique rupanya bukan orang sembarangan, selain adik dari Grevil Blois, seorang Inspektur bergaya nyentrik, ia juga putri dari Marques de Blois, pemimpin kementrian Ilmu Gaib.

Victorique, dengan semua kemisteriusanmya, rupanya mempunyai otak yang cerdas. Sebuah kualitas yang ia dapatkan dari ibunya. Dengan kemampuannya itu, ia dan Kujou menyelesaikan banyak kekacauan di sekitar mereka. Meski begitu, kekacauan yang terlalu pelik pun akhirnya mengacaukan mereka.

Saya ngeberesin Anime ini cuma dua hari dong! Gila gak sih?!

Pertama tau anime ini dari 'Ai, yang bilang kalau genre anime ini itu detektif. Meski udah minta filenya dari lama, baru sempet nonton sekarang-sekarang (setelah hiruk-pikuk ujian berakhir). Itupun sebenernya karena awalnya saya sangsi anime ini seseru yang Ai bilang.

Mungkin karena episode pertamanya yang memberi kesan fantasi? Bukannya saya gak suka fantasi sih, suka banget malah, tapi lagi gak mood aja waktu itu. Dan yah, sekarang saya nonton ke 25 episode nya dalam dua hari. Hahahah.

Gosick berlatarkan di Saubure, sebuah negara fiktif yang terletak diantara Perancis, Swiss, dan Italia. Dengan pilihan waktu di sekitar awal abad ke duapuluh. Anime ini juga menghadirkan suasana Perang Dunia pertama kala itu. Juga bagaimana mulai memudarnya kepercayaan pada ilmu gaib.

Saya sendiri seneng banget sama latarnya ini. Mungkin karena kebanyakan baca novel Agatha Christie, style bangunan, pakaian, dan budayanya kurang lebih sama, dan bikin saya berasa familiar. 

Ngomong-ngomong, sebenernya genre anime ini memang lebih ke misteri (hiyalah) dan drama. Meskipun disebut-sebut bahwa kemampuan Victorique memecahkan kasus itu datang dari darahnya, tapi penjelasan-penjelasannya selalu masuk akal dan berdasarkan petunjuk-petunjuk.

Seperti yang dia bilang, ilmu gaib itu hanya tiruan ilmu pengetahuan saja.

Pada episode 1-10, Victorique dan Kujou masih hanya menyelesaikan kasus-kasus yang berhubungan dengan mitos-mitos di sekeliling mereka, (karena hal-hal gaib masih sangat dipercaya saat itu). Kasus-kasus yang di minta oleh inspektur Blois agar ia bisa mengambil keuntungan dari sana. Dan mitosnya banyak banget, sampe kerasanya, jujur aja kayak maksa.

Lalu di episode 12-25, kasusnya mulai melingkupi hal-hal pelik yang melingkupi Saubure. Dan yang memintanya, bukan lagi Grevil Blois, tapi sang ayah langsung, Marquis Blois. Ini juga mungkin jadi alasan, kenapa latar animenya harus menggunakan negara fiktif alih-alih negera Eropa yang sudah ada. Masalah-masalah yang bersifat politik sangat kental terasa di bagian ini.

Perkembangan karakter dari bagian pertama ke bagian kedua juga terasa. Grevil yang awalnya benar-benar hanya memanfaatkan Victorique, akhirnya sadar dan pindah haluan. Avril, yang belajar untuk merelakan cintanya. Dan tentu saja Victorique dan Kujou akibat kedatangan satu sama lain, mendapatkan alasan untuk hidup mereka masing-masing.

Poin plus lainnya, yah mungkin karena lagi-lagi latarnya dan penampilan Victorique yang loli abis. Berbeda dari kebanyakan anime, anime satu ini gak ada sama sekali adegan 'geuleuh' nya. Jadi yah, buat yang punya kompas moral yang cukup lurus dan sering merasa terganggu, anime ini recommended banget. 

11 Maret 2017

(Review) Kong: Skull Island

9 Maret 2016

Hari ini hari yang berkesan, ya? Menilik betapa hal-hal spesial di masa lalu juga sering terjadi di tanggal ini, saya mulai merasa takut.

Ngomong-ngomong, memang sudah cukup lama semenjak saya menulis. Hal-hal terjadi begitu cepat dan menyeramkan di semester dua. Padahal awal tahun lalu saya sudah bertekad untuk aktif menulis Kuwalaya, tapi meh. Bahkan kegiatan mereview pun sama nasibnya. Dan ini bulan Maret, kalender saya mengatakan saya bakal ujian selama tiga minggu berturut-turut.

Saat ini pun pikiran saya berkecamuk dengan daftar hal yang harus di lakukan. Tugas praktik bahasa Indonesia, ide cerita yang menuntut di eksekusi sejak pagi, komik strip yang harus saya edit lagi. Dan yah, Kuwalaya.

Jadi pagi ini saya awali dengan santai seperti biasa, kebetulan hari itu ketemu Eka yang kemudian mengabarkan bahwa seorang teman SD kami menikah dan saya cuma bisa bilang wow.

Kemudian US. Hari terakhir diisi dengan pelajaran matematika peminatan dan penjaskes. Dan Matematikanya ... Jangan ditanya.

Padahal dua hari lalu saat mengerjakan matematika wajib, saya merasa sangat percaya diri tapi matematika peminatan membuat saya bahkan hampir menangis dan muntah di saat yang bersamaan. Untung setelahnya penjaskes yang tidak terlalu buruk.

Setelahnya, saya dan Hania memenuhi janji kami sejak seminggu lalu. Merehatkan kepala sejenak dengan pergi ke bioskop.

Maksud hati ingin nonton Split, film thriller soal kepribadian ganda. Sayang sepertinya keburu habis masa tayangnya. Pilihan berikutnya jatuh pada Logan. Yang, walau saya bukan penggemar film x-men sepertinya cukup menarik untuk di tonton.
Sayang kami terlambat sampai sana. Dan pada akhirnya memilih Kong: Skull Island, dengan harapan banyak pada Tom Hiddleston.

Saya sempat khawatir kalau film ini tidak lebih dari film remake King Kong sebab premis yang sama tapi ternyata enggak juga.

Film Kong di mulai dengan penampakan orang yang jatuh dari langit. Bersetting tahun 1944 pada masa Perang Dunia Kedua. Dua orang pria, satu orang Amerika dan satu orang Jepang terang-terangan sedang punya masalah yang menyangkut negara mereka.

Sayang pertarungan mereka harus di jeda oleh kemunculan Gorila raksasa.

28 tahun kemudian, banyak hal telah terjadi, perkembangan iptek terutama telah membuat manusia bisa menempatkan satelit buatan untuk menghasilkan foto bumi.

Adalah seorang tua ... , seorang peneliti yang menemukan sebuah pulau misterius di Pasifik Selatan melalui foto satelit. Ia hendak mengajukan ekspedisi untuk menelitinya, herannya ... juga meminta bantuan sepasukan tentara (yang baru saja mundur dari Perang Vietnam) serta suplai senjata yang sangat banyak.

Dan kisah pun berlanjut.

Yang paling nyebelin dari film ini,adalah bagaiman mereka menjatuhkan ekspektasi saya begitu saja. Scriptnya membuat kehadiran Tom Hiddleston gak lebih selain buat promosi aja. Serius deh, situ gunanya apa?

Makin kentara ketika dia sama sekali gak dapet luka berarti setelah adegan kecelakaan pesawat. Beda banget sama tentara-tentaranya yang berdarah di mana-mana. Mentang-mentang ganteng, mukanya gak mau dirusak, hih. Bahkan waktu mereka terpisah pun, Conrad bisa di bilang dapet cobaan yang lebih mudah daripada tentara lainnya. Kalo film ini bermaksud menghadirkan dia sebagai peran utama, yah, mereka gagal. Udah mah karakternya labil dan bisa dibilang nyari aman mulu, hih. Conrad? More like Coward, I bet.

Tapi untuk hal lainnya, ntaps lah. Graphicnya keliatan nyata banget, apalagi kalo nontonnya 3D ya? Kayaknya bakal keren banget.

Hubungan antar tokohnya juga sweet banget. Saya gak ngomongin hubungan romance hero sama heroinnya lo, malah lebih terharu sama hubungan Chapman dan anaknya serta Cole sama temennya itu. Duo ini bikin ngakak mulu :D.

Jadi yah, saya gak mau bahas banyak-banyak. Kong ini lumayan. Banyak hal yang bikin kesel, tapi menghibur juga.

Dan akhirnya bikin saya merasa lebih baik setelah ulangan matematika yang bikin mau nangis itu. Saya jadi lebih tenang dan inget kalo nilai itu gak lebih dari tinta di atas kertas. Gak penting-penting banget, karena banyak hal lain yang lebih luar biasa daripada itu. Intinya, saya gak bakal mati meskipun nilai jelek.

Hal berkesan lainnya yang terjadi adalah, saya pulang di sambut kalau kucing rumah melahirkan. Dia kucing kampung yang jag ujug datang, sering banget berantem sama si emeng, but at least she's more usefull. Ngomong-ngomong kelurga saya bahkan nggak ngasih nama buat kucing ini wkwk.

Udah ah..

21 Januari 2017

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 20

Pukul satu pagi, Alya melirik jam dinding yang ada di lobi. Kepalanya masih terasa berputar mencari informasi tentang apa yang sedang terjadi, meninggalkan ekspresi tidak jelas antara awas dan bingung. Fauzi, jujur saja, selalu ingin tertawa melihat ekspresi itu, ekspresi bangun tidur Alya dalam keterkejutan bisa dikatakan lucu, gadis itu seolah berusaha menipu semua orang bahwa sejak awal ia tidak tidur sama sekali. Yang jelas-jelas gagal.

Tapi itu bukan fokusnya untuk saat ini. Pukul satu pagi, rumah sakit sepi bukan main. Masih terdengar suara kasak-kusuk obolan para perawat yang jaga malam di ruang perawat, tapi selebihnya, hanya suara angin malam dan nyanyian jangkrik yang bisa mereka dengar. Dan Fauzi rasa, empat jam tadi ckup untuk gadis itu tadi beristirahat. Yah, jika mengingat Alya habis menggotong dua pria dewasa, berkeliling rumah sakit membangunkan orang-orang selama enam jam dan tidak lupa jelas-jelas kurang tidur sejak pagi, sepertinya masih kurang, sangat kurang malah. Ia sendiri terkejut, bagaimana gadis ini bisa punya ketahanan fisik sekuat itu?

Dan mengabaikan tatapan kesal Alya—baiklah aku akan tidur satu jam, bangunkan aku, kata Alya empat jam lalu—memberi kode agar mereka segera bergerak. Pukul satu pagi, seharusnya tak akan ada yang sadar kalau mereka pergi. Yah, lagipula, kalau orang seperti Leon dan anak buahnya bisa masuk tanpa kesulitan berarti, kenapa Fauzi dan Alya tak bisa keluar tanpa di curigai?

“Ada rental sepeda sekitar lima puluh meter dari toko swalayan yang kita kunjungi kemarin, kau bawa uang?”

Alya mengangguk,

“Bagus. Kau bisa keluar dengan mudah lewat pintu depan. Lalu cepat pergi ke rental itu dan pinjam dua sepeda, yang ada boncengannya. Sedangkan aku,” Fauzi menghela nafas sebentar “karena statusku saat ini sebagai pasien, tak akan ada yang santai melihatku berjalan malam-malam. Sulitnya, semua orang rumah sakit ini mengenalku, jadi kupikir aku akan ambil rute yang lebih jauh”

“Setelah itu?” Alya bertanya “Aku harap kau ingat kalau aku tak mau ini jadi misi mati konyol”

“Kita akan berusaha sebisa mungkin menipu Leon, tapi aku sendiri tidak yakin” dan hal tersebut terang-terangan terpancar dari wajahnya. Tujuan utama Fauzi saat ini cukup sederhana, ia hanya ingin menyelamatkan Faiza dan Aldo—dan dengan semua nalurinya untuk menghindari bahaya—maka rencananya pun sederhana.

Alya menyadari ini. Tapi kalau mengingat orang-orang ini mengejar mereka terus-menerus, bisa-bisa hidup mereka tak akan pernah tenang sampai kapan pun. Ia juga sadar itu ambisi yang terlalu tinggi, tapi Alya ingin ... setidaknya memastikan kalau mereka tidak akan di buru lagi.

“Soal itu biar aku yang urus” ujar Alya tiba-tiba “pertama-tama kita selamatkan Faiza dan Aldo dulu”

Fauzi mengangguk, dan dengan begitu mereka berdua berpisah.

Hampir semua sudut rumah sakit diberi perlengkapan CCTV. Dan meski kesal jika ia ingat soal penculikkan Faiza yang terkesan sangat mudah akibat pembajakkan frekuensi, Fauzi tetap tidak bisa mengabaikannya. Tujuan utamanya adalah mendapatkan adik dan sahabatnya kembali, tujuan minornya adalah tidak membuat siapapun khawatir, terutama ibunya. Jadi Fauzi memutar otak.

Eh, mereka tak mungkin memasangnya di kamar mandi kan? Fauzi segera memeriksanya, dan mendapati bahwa dirinya benar. Dan senyumnya terkembang ketika melihat jendela kecil di atas dudukkan toilet. Tidak terlalu besar memang, tapi kalau dikira-kira sepertinya ia akan cukup masuk ke sana, lagipula postur tubunhnya juga tidak terlalu besar.

Satu-satunya masalah adalah posisi jendela itu. Fauzi mungkin saja mencapainya dengan berdiri di atas dudukkan toilet dan memanjat. Hanya saja, turun nanti mungkin akan menyakitkan. Dan kalau ia tidak salah ingat, gedung ini dibangun di tanah yang tidak rata. Dengan kata lain ada kemungkinan kalau tanah pijakkannya bisa jadi lebih rendah daripada ruang kamar mandinya.

Fauzi mengurut kening, dia tidak mau ambil resiko tulangnya patah karena jatuh. Setelah ini dia masih harus bersepeda ke rumah Dokter Kamil dan seingatnya medannya sama sekali tidak nyaman untuk dilewati orang patah tulang.

Ia keluar kamar mandi dengan gelisah. Matanya melihat keseliling dan melihat ibunya tidur di sofa tanpa selimut. Perasaan sedih memenuhi dadanya, ia juga bertanya-tanya kenapa hal buruk pada keluarganya. Belum lagi, ayah yang jarang sekali pulang, dalam setahun kepulangannya bisa dihitung jari. Kali ini perasaan bangga menelusup di antara rasa sedihnya. Ibunya wanita yang kuat.

Fauzi berjalan keranjangnya sendiri dan menarik selimut. Ia berniat menyelimuti ibunya, tapi sebuah ide lain tiba-tiba terpikir olehnya. Pelan-pelan diletakkan selimut itu di lantai dan ia mulai menarik spray kasurnya. Selimutnya terlalu tebal untuk ia jadikan tali, tapi spray kasurnya lain.

Fauzi mengendap-endap lagi ke kamar mandi dan mengikat ujung kain itu di selot pengunci jendel yang bentuknya seperti gagang pintu. Ia kemudian kembali untuk menyelimuti ibunya. Saat ia hedak masuk lagi ke kamar mandi, ia mendengar ibunya memanggilnya. Ia menghela nafas, lalu berbalik.

Sebelum ia sempat melontarkan kebohongan, ibunya menyahut.

“Hati-hati”

***

Fauzi meringis, dugaannya benar. Tanahnya tidak rata, dan meski dengan bantuan selimut itu, dia tetap jatuh dengan menyakitkan.

Tapi ia tak bisa berlama-lama berdiri disana sambil mengelus-elus pantatnya. Alya pasti sudah menunggu sekarang, dan begitu juga dengan Aldo dan Faiza. Kata-kata ibunya tadi terdengar aneh, mungkin ia mengigau. Tapi tetap saja ia menjadi lebih tenang setelah mendengarnya. Entah ibunya memang mendukungnya untuk membawa Faiza pulang atau ia sudah lelah dengan semua hal aneh yng menimpa anak-anaknya. Tetap saja, rasanya seolah ibunya bedoa untuk keselamatannya sendiri.

Dan sekarang, ditambah ia sudah tau siapa musuhnya. Fauzi tak akan ragu lagi, ia tidak akan mengabaikan instingnya lagi, ia tak akan mengindahkan rasa takutnya lagi, toh itu membuatnya jadi waspada dan akan menyetirnya pada keberhasilan.

Fauzi berjalan, ia berada di bagian ujung kompleks rumah sakit. Sebuah tembok tinggi berdiri gagah di hadapannya, membatasi dirinya dengan jalanan. Nah, sekarang apa yang harus ia lakukan? Dari arah datangnya, Fauzi tau ia ada di belakang gedung rawat inapnya. Jika ia ke kiri, dan berbelok, ia akan melihat jendela kamarnya sendiri dan jalan utama menuju gerbang. Sama halnya jika ia ke kanan. Dengan kata lain buntu.

Satu-satunya kesempatan adalah tembok di hadapannya ini.  Baiklah, ujarnya dalam hati, tak ada pilihan lain. Fauzi meraba pinggiran tembok itu, cukup kasar dan ada beberapa lekukan yang bisa ia jadikan piakkan. Untung saja bagian atasnya tidak ditempeli benda tajam. Mungkin karena pihak rumah sakit tidak berpikir akan ada pencuri yang memanjat dari sisi lainnya.

Tunggu dulu, Fauzi menelan ludah, mungkin bukan karena tak akan ada yang memanjat, tapi tak ada yang bisa memanjat. Dan sebelum sempat memikirkan alasannya, Fauzi terpaku melihat bagian bawah sisi lain tembok itu. Tentu saja, sama seperti ia mendapati sisi lain kamar mandi lebih rendah dari pada kamar mandinya, bagian lain tembok itu juga begitu.

Dan lebih parah, ada selokan di sana. Fauzi sudah selamat dari kemungkinan patah tulang karena jatuh dari jendela kamar mandi, dan sekarang ia medapat peluang untuk mengerang di selokan. Sungguh tidak elegan.

Persetan! Serunya dalam hati. Fauzi memilih untuk melompat ke depan. Kalau ia beruntung, ia akan sampai di jalanan alih-alih di selokkan. Mungkin rasa sakitnya tidak berbeda, tapi setidaknya ... Fauzi juga tidak tau kenapa berpikir ide itu lebih baik.

Sayang pemilihannya waktunya tidak tepat. Fauzi melompat dan dari sudut lompatanya ia tau ia akan sampai di jalan dengan kaki duluan, hanya saja saat itu sebuah mobil datang dari arah kanannya sambil membunyikan klakson keras-keras.

Fauzi refleks melakukan gerakan berputar begitu sampai di jalan, sehingga ia terduduk di seberang jalan. Pengemudi mobil tadi meneriakkan sumpah serapah sambil bergerak. Sedangkan Fauzi susah payah menenangkan diri. Jantungnya berpacu terlalu cepat sampai ia rasanya lupa caranya bernafas. Tadi itu nyaris sekali.


Tak ada waktu untuk memikirkan bagaimana Fauzi bisa melakukan roll depan sempurna—sementara selama ini selalu gagal dalam tes olahraga—ia harus segera ke Alya.

18 Januari 2017

Kuwalaya (Bagian 11)

“Baiklah tuan dan nyonya!” seru Ruci dengan volume suara yang aku sendiri heran bagaimana dia mengeluarkannya, maksudku matahari baru saja naik, dia pikir apa yang dia lakukan? “Aku harap kalian siap!”

Felisa bangun dengan kebingungan, ia belum sepenuhnya sadar dari mimpi yang baru saja melingkupinya. Sementara Indra sudah sejak tadi menghunuskan pedangnya. Tak ada suara apapun lagi, selain dersik angin yang berembus dengan kencang menerbangkan debu.

“Apa ... apa yang terjadi?” kata Felisa sembari keluar dari reruntuhan rumah itu, ia menutupi wajahnya mencoba menghalangi debu-debu itu.

“Kalian tidak mengira bisa mendapatkan Kuwalaya dengan mudah kan?” Ruci berteriak lagi.

Tanah tiba-tiba berguncang, sangat keras, aku harus terbang bersama merpati lain supaya tidak terganggu. Felisa menoleh ke belakangnya dan melihat rumah itu sudah benar-benar hancur tertabrak angin puyuh yang menari-nari dan kini datang kearahnya. Ia membelalakkan matanya.

“Uh-oh”

“Lari bodoh!” Indra berteriak sambil berlari menjauhi Felisa, menjauhi angin puyuh itu. Dasar pengecut.

“Tunggu!” Felisa berteriak dengan susah payah, nafasnya tersenggal sementara ia berlari “Ada apa ini?!”

“Kau tidak lihat? Kita di serang!” Indra bahkan tidak menoleh saat mengatakkan itu, ia terus saja berlari.

“Tapi kenapa?!”

“Berhenti bertanya!”

Mereka akhirnya berhenti berlari ketika angin itu berhenti berputar dan mengecil hingga menghilang. Felisa langsung jatuh terduduk dan mencoba mengatur nafasnya yang memburu, ia melihat sekelilingnya dan mendapati suasananya sudah lebih kacau dari semalam. Semua bangunan setengah hancur yang kemarin ia lihat kini benar-benar rata dengan tanah, benar-benar hanya tinggal batu-batu besar yang berserakkan.

“Apa-apaan” gumamnya.

“Harusnya aku yang bilang begitu, Yodha macam apa kalian ini?” geram Ruci “Benar-benar menyedihkan” entahlah, tapi aku tersinggung saja mendengar kata-katanya.

“Memangnya aku harus bagaimana?” Felisa berteriak, mencari-cari ke arah langit. “Menghempaskan diri, begitu?”

“Kau tidak sungguh berpikir aku akan memberitahumu, kan?” Suara Ruci tak kalah tinggi.

“Keluar kau, pengecut!”

“Hei” kini Indra yang berbicara, “Aku rasa menghinanya bukan ide yang bagus”

Tanah berguncang lagi, kini lebih keras bahkan mereka berdua tak sanggup berdiri. Felisa melihat ke sekitarnya, masih penasaran siapa yang sejak tadi berteriak padanya. Tapi nihil, tak mungkin ada orang yang bersembunyi di lapangan luas minim pepohonan ini.

“Kita harus kembali ke hutan” seru Indra “tak ada gunanya melawan alam” Indra mencoba berdiri, hendak berlari tapi guncangan itu menjatuhkannya lagi.

“Tapi Bara ada padanya!” Felisa tak mau kalah “Dan dia tak pakai baju semalaman”

“Lantas?” pandangan Indra pada Felisa tak dapat ku artikan, itu seperti gabungan berbagai macam rasa terkejut—toh dia sendiri tidak mengenakkan apapun selain celana dari kulit—

Felisa mendengus kesal “Sungguh? kau tak tau apa artinya itu? Siapa yang menceramahi soal putusnya kepalamu kalau salah satu dari kami mati?”

“Siapa yang sejak kemarin bilang kalau anak itu akan baik-baik saja?”

“Kalian lebih baik tidak mengabaikanku” dan dengan begitu hempasan angin yang keras memukul mereka sampai melesak ke belakang.

Felisa meringis, aku juga.

Aku tidak pernah tau soal rintangan macam apa yang dihadapi para Yodha untuk mengambil Welas. Itu bukan salahku! Maksudku, aku ada di istana, mengurus para Raksa, tak ada waktu untuk mengintip pikiran mereka di sana—bukan berarti jangkauan telepatiku bisa sampai sejauh itu juga—. Lagipula mereka pun tak pernah kembali hidup-hidup untuk menceritakannya. Tapi ini benar-benar konyol, apa Balinda sungguh-sungguh meminta para Pargata untuk membunuh Yodha? Mereka bisa mengakibatkan perang! Dan seingatku itu hal terakhir yang Balinda inginkan. Eh, iya kan?

Sekarang kau paham betapa bodohnya kau memilih mereka, hah? Batin Ruci mengejekku.

Diam!

Aku menarik nafas, posisiku ada di langit saat ini. Dan aku bisa melihat beberapa bongkah batu melayang dengan gerakkan berputar tak jauh dari tempat Indra dan Felisa. Aku tak perlu membaca pikirannya untuk tau apa yang hendak dia lakukan. Gila, Ruci sudah gila!

Ini tidak bisa dibiarkan. Aku tau Raja Manda melarangku melakukan apa pun, tapi dia mengirimku karena khawatir akan hal-hal seperti ini kan? Felisa harus mendapatkan Kuwalaya tidak peduli bagaimana caranya. Di tidak boleh mati karena ini, dia tidak boleh mati sekarang. Benar, aku harus melakukan sesuatu.

Jadi yah, aku melakukan sesuatu. Pusaran angin dengan bongkahan batu itu melambat, dan aku beberapa kali mendengar Ruci mengumpat. Tapi aku tau ini tak akan cukup. Aku harus menghentikkan Ruci, aku harus melumpuh—ASTAGA!

Aku bahkan tak percaya akan mengatakan hal ini, Felisa bodoh! Aku tak mengerti apa yang ia pikirkan, aku bisa membacanya dengan jelas—ia muak, ia ingin menghentikkan angin-angin itu—tapi dia sama sekali tidak berpikir. Ia bangkit dan berlari mendekati pusaran batu itu. Dan dari sakunya, ia mengeluarkan ... apa namanya itu? Sebuah tongkat kayu berbentuk huruf Y dengan karet diantara kepalanya, ia mengambil kerikil dan melontarkannya dengan alat itu. Seolah bongkahan batu yang melayang berputar dihadapannya tak lebih dari buah apel segar yang menanti untuk dipetik.

Indra tidak melakukan apapun. Dia hanya duduk di sana sambil membelalakkan mata sambil membuka mulutnya. Dia sama terkejutnya dengan aku, dia sama tak percayanya denganku.

Ruci tertawa, suara tawanya keras dan jelek. Dia tidak tertawa karena merasa punya kuasa atau berusaha menakut-nakuti, dia tertawa karena merasa apa yang dia saksikan itu lucu. Dia dipenuhi kegelian murni. Kemudian pusaran batu itu berhenti begitu saja.

Felisa berdiri saja di situ. Sama sekali tidak diliputi keraguan, ataupun rasa khawatir tentang apa yang baru saja ia lakukan, tentang apa yang akan terjadi. Dia berdiri di sana, menanti Ruci keluar dari persembunyiannya, dan memang itulah yang terjadi. Sebuah gundukkan batu beberapa puluh meter dari mereka runtuh, dan Ruci melompat dari dalamnya, ia terkekeh.

“Kalian benar-benar kurang persiapan, kan?”

Felisa membungkuk, memungut kerikil lain, lalu memasang kuda-kuda. Dia bersiap kalau ada serangan lain. Aku bisa membaca pikirannya, tapi tidak dapat memahaminya.

“Di mana kau sembunyikan Bara?” desisnya sambil membidik.

“Oh, apa yang akan kau lakukan? Aku takut sekali” Ruci terkekeh lagi. “Aku berlatih bertahun-tahun, dan Yodha yang membalas seranganku adalah gadis kecil dengan ketapel” ia bergumam “omong kosong macam apa ini?”

“Dengar ya, kancil yang bisa bicara” Felisa berucap lagi “Aku sama sekali tidak mengerti kenapa kau begitu ingin membunuhku. Tapi, aku ini cinta damai, jadi bisakah dengan damai kau mengembalikkan Bara?”

Ruci mencebik kesal “Kau tau kali ini aku benar-benar marah dengan Mar” Hey! “Dan kenapa pula kau mau anak itu kembali? Dia sama tidak bergunanya denganmu!”

“Kalau aku sih,” Felisa merendahkan nada suaranya, ia kini lebih santai, meski tidak menurunkan pengawasannya—astaga, untuk apa? Dia takkan menang dengan benda itu—“lebih memilih tidak ditanyai polisi saat pulang nanti”

“Pulang?” Ruci tertawa “Kau sebegitu optimisnya bisa pulang hidup-hidup, ya?” ia melanjutkan. “Kau kira semua ini hanya lelu—”

Ruci memang harus menghentikkan kalimatnya, ia—dan bahkan Felisa juga aku—tidak memperhatikan Indra selama dirinya asik bergosip dengan Felisa. Dan tahu-tahu saja, pria itu sudah ada dibelakang sang kancil sambil melompat mengayunkan pedang. Tak ada gunanya melawan alam, jadi lawan saja penjaga kedamaian alam, eh?

Ruci, tentu saja ia tidak terluka, ia mengalihkan fokusnya tepat waktu dan menghempaskan Indra yang mengancam di belakangnya. Kemudian ia berbalik, dan menampakkan seringai mengerikkan kepada laki-laki itu. Indra bangkit berdiri, memasang wajah sekeras batu lalu menerjang maju. Ruci hendak menunggu sampai ia cukup dekat dengannya sebelum menamparnya dengan kenyataan bahwa pedang tak bisa melawan angin, tapi sebelum Indra memasuki zona itu ia berbelok.

Dan sebelum siapapun sadar, sambil berlari ia menyarungkan pedang dan dengan satu gerakan memanggul Felisa kabur. “Ambil jarum di sakuku” bisiknya pada Felisa sebelum gadis itu protes.

“Kalian pasti bercanda” Ruci tertawa dengan suram, kekecewaannya tak bisa kugambarkan.

Indra kehilangan pijakannya, tapi bukan karena dia tersandung atau menghadapi hempasan angin lainnya. Ia melayang. Dan sesegera ia kehilangan keseimbangan, secepat itu pula ia menjatuhkan Felisa. Untung gadis itu juga turut melayang. Tapi keadaan tidak menjadi lebih baik, mereka mulai berputar seperti halnya batu-batu yang hampir dilemparkan pada mereka tadi. Awalnya memang pelan, tapi kecepatannya mulai naik dan Indra bersyukur ia belum makan apa pun sejak kemarin.

Tak perlu waktu lama hingga akhirnya mereka berdua terlempar dengan kecepatan yang mengerikan. Aku tau Felisa akan mengalami patah tulang jika ia sampai menubruk tanah kalau hal itu dibiarkan, dan jika aku membiarkannya, hal itu malah akan jadi kontradiksi dari niatku untuk menolongnya. Aku membuatnya jatuh dengan lebih manusiawi, tapi Ruci terlalu pelit untuk membiarkanku melakukan penyelamatan begitu saja. Yang aku tau, berikutnya aku berada dalam putaran angin yang memabukkan. Untung saja, aku masih cukup kuat untuk terbang.

Dan jangan khawatirkan Indra, panglima kesayangan Raja itu mendarat dengan mulus dengan gerakkan berputar, dan tak membuang waktu untuk bangkit dan mengayunkan lagi pedangnya. Ruci sudah bersiap untuk menghadapi manuver mendadak yang mungkin akan dilakukannya lagi, ia mengawasi kanan dan kirinya dengan susah payah. Tapi bukan Indra kalau tidak bisa mengecoh Pargata.

Ia melakukan gerakan meluncur, dan berusaha menyabet kaki kancil itu. Namun Ruci tidak bodoh untuk tetap diam. Ia melompat mundur, dan harus menghindar lagi saat Indra menyerang sisi tubuhnya.

Sebuah lempeng batu jatuh secara vertikal dari langit-langit untuk menghalangi serangan Indra yang berikutnya. Ia melompatinya dan menyerang lagi tanpa lelah, nyaris tanpa jeda. Kalau boleh kukatakan itu hampir tidak bisa dipercaya setelah putaran yang dihadapinya tadi, tapi toh Indra memang menyerbu Ruci seperti kesetanan. Dan dengan gempuran bertubi-tubi tanpa pola secepat itu, Ruci tak punya cukup waktu untuk berkonsentrasi untuk menggerakkan angin. Yang bisa ia lakukan hanya terus bergerak mundur menghindari serangan.

Indra tampak tidak terganggu dengan ini, wajahnya tidak menunjukkan raut kesal baik karena Ruci tidak membalas maupun karena serangannya tidak ada yang kena. Ia punya rencana lain, dan aku baru menyadari bahwa serangan Indra membuat Ruci semakin mendekati Felisa yang sejak tadi siap membidik dengan ketapelnya.

Kemudian terjangan Indra melambat, Ruci ikut berhenti dan menyiapkan serangan angin terbesarnya. Saat Indra bergerak maju dengan teriakkan memekkakan telinga, Ruci tau bahwa kali ini ia tidak perlu menghindar dan Felisa sadar ini adalah bagiannya.


Indra terlempar, tapi tak lama kemudian Ruci terjatuh dan tak bisa bergerak.