Postingan

Surat Cinta Cahaya Pagi (Bagian 04)

Gambar
Kakak - Adik Jumat, 17 Maret 2017
Canggung.
Sora sudah terbiasa menghabiskan sorenya sendirian di rumah. Khususnya dua tahun ini. Dan bukannya ia mengeluh, memang siapa sih yang tak suka menguasai rumah? Baginya saat-saat sore di rumah adalah surga. Dia bisa melakukan apapun, secara harfiah. Memainkan musik keras-keras, ikut bernyanyi dengan bebas, bahkan aturan berpakaian juga di hapus.
Tapi hari ini sepertinya memang spesial sekali. Setelah pagi tadi sibuk urusannya dengan Pak Soleh, lalu kakak-kakak kelas yang super kepo, ia juga dibuat merinding dengan kelakuan Genji. Seolah menemukan dia sudah pulang sebelum maghrib itu tidak kurang aneh.
Yah, Sora harus merelakan sorenya yang damai, karena ia juga tak mau mempertanyakan kelakuan kakaknya. Toh percuma, Genji tak akan jujur. Seperti yang selalu dilakukannya setiap Sora bertanya alasan hal-hal tidak biasa yang dilakukannya. Jadi rencananya adalah mengurung diri di kamar sampai pagi.
Rencana yang sayangnya harus gagal.
Ayahnya tiba-…

Surat Cinta Cahaya Pagi (Bagian 03)

Gambar
Kriminal Jumat, 17 Maret
Orang bilang nama adalah doa. Harapan yang diberikan orang tua agar masa depan anaknya sebaik nama yang diberikan pada anak-anaknya. Kalau memang begitu, Satria menanggung beban berat karena harapan orang tuanya. Bahkan sekarang ini beban dipunggungnya bukanlah bagaimana ia memenuhi harapan itu, tapi kekecewaan orang tuanya karena harapannya tak akan tercapai.
Nama lengkap Satria adalah Satria Farad Umar. Meski tidak pernah diberi tau langsung apa maksudnya ia diberi nama begitu, Satria bisa menebak kalau orang tuanya ingin dia jadi orang cerdas yang tegas dan melindungi orang-orang. Dan yang terjadi adalah 180 derajat kebalikannya.
Logika Satria sederhana saja, kalau dia memang cerdas, dia pasti sudah di terima di SMA favorit Kota Bogor tiga tahun lalu. Dan bukannya terjebak di sini, lalu menjadi bulan-bulanan karena ia tidak tegas apalagi bisa melindungi orang lain.
"Motor!"
Meski begitu, Satria menyukai namanya. Toh, itu hadiah pertama yang diber…

Surat Cinta Cahaya Pagi (Bagian 02)

Gambar
Sora Jum’at, 17 Maret 2017
SMA Banjarsari memang bukan sekolah paling elit di Bogor. Malah sering jadi pilihan terakhir bagi lulusan SMP yang gagal di terima ke SMA kota. Meski begitu, fasilitasnya bisa dibilang masih lebih baik di banding SMA pinggiran kota lainnya.
Sekolah yang membanggakan dirinya sebagai sekolah rujukan ini di bangun di pinggir jalan Banjarsari, bersebelahan tepat kandang sapi raksasa milik Balai Penelitian Ternak Kabupaten Bogor. Luasnya tidak seberapa, tapi cukup untuk memiliki dua bangunan besar dan empat bangunan kecil serta dua lapangan.
Gedung utara adalah wajah dari sekolah ini. Kebanyakan isinya berupa ruangan-ruangan non-kelas. Seperti ruang guru, ruang TU, ruang perpustakaan, mushala, ruang multimedia, dan ruang ekskul. Hanya ada tiga kelas saja yang apes mendapatkan kelas mereka di sini. Kelas X-1, X-2, dan X-3.
Sementara itu kelas-kelas lain kebanyakan ada di gedung barat dan gedung-gedung timur. Ketiga gedung ini (dengan gedung barat yang berbentuk h…

Surat Cinta Cahaya Pagi (Bagian 01)

Gambar
Rangkuman-yang-agak-Melankolis Kamis, 16 Maret
Teruntuk, Langit Sore
Hari ini, seperti biasanya, aku melihatmu datang terlambat ke sekolah. Tetap tersenyum tanpa dosa, menebarkan semangat pada anak-anak lain yang juga terlambat. Tapi sama pula seperti biasanya, aku melihatmu berangkat dari rumah terlalu pagi. Mampir ke sebuah gang kecil yang kecil kotor di sisi jalan. Diam di sana beberapa lama, menemani kucing-kucing kelaparan.
Hari ini, seperti biasanya, aku melihatmu tertawa terbahak bersama teman-teman yang lain. Menjadi badut penghibur semua orang. Memecah hening, menciptakan keriangan. Tapi sama pula seperti biasanya, aku melihatmu menatap kosong sendirian ke luar jendela. Seolah ada hal besar yang mengganggumu. Ada hal penting yang kau sembunyikan di balik senyum seterang matahari itu.
Hari ini, seperti biasanya, aku melihatmu latihan. Penuh semangat mengejar bola, mengoper sana-sini, menjadi bintang lapangan. Tapi seperi biasanya pula, aku mendapatimu duduk diam di birai balkon. Kehilangan …