Postingan

Ambisius dalam Konotasi

Gambar
I'm that kind of person who take their hogwart house seriously. Hahahaha
Dan mungkin hal ini jadi lebih parah setelah ketemu temen-temen kuliah yang kebetulan sama-sama geek. Waktu SMA sih, memang cutau aja, gak pernah bisa mengoarkan karena, ya, gak ada yang mau tau juga.
Beberapa waktu lalu, pada suatu akhir pekan di mana aku menghasut seorang teman untuk ikut main dan kabur dari tugasnya, dia, yang adalah seorang Ravenclaw, mengejekku "dasar Slytherin!". Dan aku ngakak sendiri karena gak sadar meski membenci stereotip yang ada, malah memenuhi stereotip itu.
Yap, Slytherin, asrama hogwarts yang di stereotipkan dengan satu kata: jahat. Padahal sistem asrama Hogwart mengacu pada nilai yang dijunjung tinggi tiap pribadi. Dan untuk Slytherin sendiri, mereka menghargai ambisi.
Masih terdengar tidak terlalu baik? Yah wajar saja. Ambisi, ambisius, masih punya sifat konotasi yang simpang siur πŸ˜…. Malah sempat beberapa waktu lalu, aku dicurhati oleh seorang teman yang bilang k…

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 21

Walaupun pada kenyataannya Fauzi dan Alya dapat memacu sepeda mereka dengan kecepatan maksimum karena jalanan yang lengang. Bagi Alya, perjalanan itu terasa seperti selamanya. Suasana sepi yang bagi Fauzi adalah keuntungan mereka sama sekali tidak disambut bahagia oleh Alya.
Sama seperti saat ia menginap di rumah Dokter Kamil—Leon—rasanya semuanya begitu menyeramkan. Langit pucat tanpa bintang, dengan cahaya bulan yang hanya berani mengintip sedikit. Iringan nyanyian jangkrik sama sekali tidak membuat keadaan jadi lebih baik.
Keadaan jadi jauh lebih buruk saat mereka sampai di hutan. Alya mengutuk dalam hati. Kegelapan total dihadapannya bukan sesuatu yang ia harapkan.
"Ayo!" bisikkan penuh ambisi Fauzi disampingnya membuatnya meringis.
"Ayo," balasnya pelan, sambil berusaha menghilangkan keraguan dalam suaranya.
Fauzi mengayuh sepeda didepannya, sama sekali tak terlihat gentar untuk menerobos hutan itu. Baiklah, gumam Alya, aku juga.
Tapi seperti yang diduganya, …

All is New

Gambar
"Out of the shadow The morning is breaking And all is new"
Kutipan yang aku jadikan caption IG itu adalah lirik dalam salah satu lagu dalam musikal Dear Evan Hansen yang berjudul You Will Be Found. Lirik berikutnya adalah, it filling up the empty, and suddenly I realize, all is new, all is new.
Tadinya lirik baru sambungan itu mau aku pakai lagi sebagai caption untuk foto selanjutnya—yang mungkin adalah foto bersama makrab kelas. Karena toh, foto yang saya pakai untuk lirik sebelumnya juga foto pas makrab.
Menghubungkan lagu itu dengan foto , rupanya memberikan efek tersendiri buatku. Kesadaran bahwa, saat ini adalah titik balikku semakin terasa.
Sudah berapa kali aku berkata bahwa aku sangat bersyukur karena aku kuliah, dan lebih dari itu seolah mempunyai kehidupan baru? Seolah mereset kehidupan lama.
Setahun ini, aku lebih fokus pada penerimaan diri. Aku mencari lebih banyak soal apa yang sedang menimpaku dan berusaha mencari tau solusinya. Aku bercerita pada orang-orang tentang …

Surat Cinta Cahaya Pagi: The Gallery

Gambar
STOP AND READBerikut ini aku akan menampilkan gambar-gambar IMAJINASI ku soal tokoh-tokoh di Surat Cinta Cahaya Pagi. Kalian tentu paham aku sangat lemah dalam deskripsi fisik karakter, sehingga seringnya aku menggambar sendiri mereka supaya aku tidak lupa dengan bentuk mereka. Tetapi karena aku jarang menuliskannya, mungkin imajinasi kalian dengan imajinasiku jadi berbeda dan gambar-gambar ini mungkin MERUSAK imajinasi kalian. Jadi, yah, aku cuma mau bilang aku gak terima dihujat gara-gara penggambaranku berbeda dengan imajinasi kalian. Namun, aku tetap menerima kritik membangun kok, selow πŸ˜ƒ




Surat Cinta Cahaya Pagi (Bagian 07)

Gambar
Kalah Jumat, 18 Maret
"Menjauh. Tunggu. Fokuslah pada hal lain."
Sebagian dari diri Genji yakin maksudnya adalah ujian nasional yang kian dekat. Sebagian dari yang lain berusaha merasionalkan bahwa apapun maksudnya, bukanlah itu. Lagi pula, untuk sekarang, ujian nasional—seberapa pun menyeramkan kedengarannya—bukanlah masalah baginya. Bukan berarti dia merasa kelewat pintar hingga yakin bisa menyelesaikannya dengan mudah nanti, pokoknya hal itu tak perlu di khawatirkan. Genji praktis tak punya beban menyoal akademiknya dan dia tak bisa lebih bersyukur lagi.
Nah, kembali, kemana tujuannya setelah ini? Jelas bukan lapangan kosong samping parkiran Pak Haji Wahid. Walau ia tak yakin juga apa akan ada orang di sana. Sekolah? Dia ragu. Tempat itu hanya lima langkah sebrang jalan dari tempatnya berdiri, banyak orang yang ia kenal di sana. Dan mereka semua tak ada hubungannya dengan apa yang baru saja Rangga bicarakan dengannya. Seharusnya ia tak ragu lagi.
Beberapa orang melambaik…

Surat Cinta Cahaya Pagi (Bagian 06)

Gambar
Penunggu Lorong Sabtu, 18 Maret
Tuk.
Ada kepuasaan aneh yang Satria rasakan setelah memelototi jam tangannya sejak tadi. Tiga puluh menit. Sudah tepat setengah jam sejak ia menunggu di sini.
Lorong ruang-ruang ekskul selalu terkenal dengan kemisteriusannya. Mungkin karena tempat ini jarang didatangi, kecuali pada sore hari ketika anak-anak mengambil peralatan yang mereka butuhkan. Selain itu, orang lebih memilih untuk melaksanakan kegiatan ekskul mereka di tempat lain.
Satu-satunya ruangan ekskul yang sering di pakai adalah ruang musik. Dipakai bergilir oleh anak-anak mustra, tari, padus dan teater. Kadang ada keributan kecil soal jadwal, dan karena kebetulan dulu semua ketua ekskul itu sekelas dengannya. Sering ada drama menarik terjadi di kelas.
Anak tari dan teater beralasan mereka butuh dinding cermin yang di pasang di sana. Anak padus beralasan ruangan kedap suara itu sempurna untuk menyanyi. Dan anak mustra selalu bilang kalau empat set angklung dan dua set gambang dan degung t…

Surat Cinta Cahaya Pagi (Bagian 05)

Gambar
Rangga Sabtu, 18 Maret
Ican (kraimmastah) : Kakak ipar, 😘 Ican (kraimmastah) : Ijin mau jemput princess sekolah hari ini πŸ’•
Genji menjatuhkan ponselnya. Pesan yang Ican kirimkan membuatnya ingin muntah. Sayangnya masih terlalu pagi untuk itu, kesadarannya saja belum sepenuhnya terkumpul. Dia baru saja bangun, dan melakukan hal pertama yang dilakukan semua remaja langgas ketika bangun, memeriksa gawai. Notif pesan dari Ikhsan muncul paling pertama, penunjuk waktunya menunjukkan pesan itu dikirim pukul tiga pagi.
Genji menarik nafas dalam-dalam mencoba menenangkan diri. Orang gila itu hanya ingin membuatnya marah saja, jadi lebih baik kalau Genji tidak mengikuti keinginannya. Lagipula, sekolah apanya? Ini kan hari Sabtu! Memangnya Genji bodoh? Dia sudah bersiap menarik selimut lagi dan mengabaikan ancaman Ikhsan. Genji benar-benar mengantuk, kemarin dia baru tidur pukul satu setelah sebelumnya melakukan perjalanan jauh ke Tjimore untuk membeli roti. Pasti itu juga yang jadi alasannya tidak…