4 Januari 2018

Refleksi 2017

Lets write this while I'm feeling happy.

Aku juga gak tau kenapa aku ngerasa bahagia. Mungkin karena aku berhasil menjalani beberapa resolusi tahun baruku? Atau karena ayam goreng hari ini banyak kremesnya? Atau karena aku baca lumayan banyak halaman hari ini? Entahlah, yang penting aku ngerasa bahagia.

2017 sudah berlalu ya? Aku kira keadaan tak akan jadi lebih buruk lagi setelah 2016 dan aku salah besar.

Aku mengalami banyak sekali penurunan tahun ini. Pertama, jumlah buku yang kubaca, ini mengecewakan sekali, bikin aku putus asa aja hahaha. Kedua, aku bahkan gak bisa beralasan kalau hal itu karena aku disibukkan dengan kegiatan akhir sekolah juga karena kuliah. Karena tebak, aku gak lolos snmptn maupun ptn impian.

Nilai kuliahku bikin aku stress, padahal cuma satu aja yang mengerikan angkanya, tetep aja bikin mood berantakan selama beberapa minggu.

Dibeberapa saat di 2017, mood ancur ini bikin aku mengambil keputusan yang bikin aku ngakak sendiri. Kayak waktu perpisahan, di tengah keramaian aku ngerasa sendiri. Aku sedih banget. Dan bukan karena sedih gara-gara mau pisah. Orang bilang masa SMA adalah masa terbaik dalam hidup kan, dan aku ngerasa gagal menghidupkan frasa itu.

Aku benci masa SMA ku. Masa dimana aku gak punya lingkaran pertemanan. Bukan berarti aku di bully atau di jauhi semua orang. Aku cuma ngerasa aku gak punya temen sama sekali.

Perpisahan seolah bikin semuanya jadi jelas. Atau mungkin sekedar memaksa otakku untuk mengenang masa-masa tiga tahun terakhir. Apa keputusan konyol yang kuambil? Aku pulang duluan karena aku ngerasa sedih. Aku bahkan gak foto-foto sama temen-temen sekelas atau semacam itu, foto perpisahan yang kuambil cuma dengan beberapa orang yang kebetulan duduk denganku aja. Sayang banget, padahal jarang-jarang aku pake kebaya.

Duh jadi sedih.

Tapi terlepas dari semua perasaan being worthless, lonely, dan pengen udahan aja. 2017 juga adalah tahun aku belajar.

Aku rasa, semua tekanan yang aku terima ini bikin aku jadi lebih ... tidak menghakimi orang lain. Aku punya aplikasi 'timehop' yang bikin aku bisa liat apa yang aku posting di sosial media beberapa tahun lalu. Dan aku mulai mengerti kenapa sejak dulu temanku sedikit (selain karena aku memang introvert)

Fatiah yang dulu adalah seorang idealis sejati. Ia menghabiskan waktunya untuk mengkoreksi orang lain, tak jarang, dengan nada amarah. Kesombongan melingkupi kepalanya bahwa yang ia sampaikan adalah kebenaran hingga menutup matanya untuk sadar bahwa orang lain punya hati yang bisa terluka.

Terkadang, aku merindukan semangatnya yang super individualis. Dia seratus persen tidak peduli apa yang orang katakan padanya.

Kalau aku bilang aku sudah berubah, mungkin akan ada yang protes. Mungkin sebenarnya aku belum berubah. Tapi aku merasa aku sudah tidak sejahat itu. Dan aku siap untuk menjadi lebih baik lagi.

Hal terbaik lain yang terjadi di 2017 adalah, jelas: aku kuliah.

Aku tak tau memulai sesuatu yang baru akan semenyenangkan ini. Dalam arti, kau bisa bebas melepaskan imej lamamu dan menjadi baru tanpa perlu khawatir omongan orang (Fatiah yang sekarang masih punya kekurangan).

Aku punya banyak teman baru dari berbagai daerah. Aku sudah tidak se awkward dulu ketika berbicara dengan anak laki-laki. Dan aku tidak perlu mendapat tatapan aneh ketika melakukan hal aneh hanya karena aku jarang melakukannya. Aku bisa mulai belajar menjadi diri sendiri.

Ngomong-ngomong soal hal aneh. Obsesi baruku tahun ini adalah kpop, atau spesifiknya: BTS. Aku senang bagaimana lirik-lirik lagu mereka mengangkat banyak isu sosial selain daripada masalah romansa (bahkan dalam interview, ketika terus disudutkan dengan pertanyaan seputar kekasih mereka menanggapi bahwa ada banyak jenis cinta di dunia. Ah, indahnya)

Aku juga senang karena video video klipnya memberikan hal yang selalu aku cintai. Sebuah cerita. Bahkan meski itu adalah cerita yang menyedihkan.

Dan aku sangat senang dengan betapa ucunya mereka. Kebahagian yang sama ketika melihat Dan and Phil. Istilahnya adorkable, dan itu selalu membuat hatiku lebih hangat.

Tahun ini juga pertama kalinya aku bikin kolaborasi sama blogger lain. Level Up Giveaway Hop bareng Bintang dan Putri. Dan itu adalah salah aatu pengalaman paling berkesan selama 2017

Oh ini juga ada tulisan yang kubuat di pertengahan tahun, ketika masuk kuliah. Aku bingung bagaimana meleburkannya dalam tulisan ini jadi biar kukutip saja sebuah penemuan yang patut dibanggakan.

"Kalian adalah generasi penerus bangsa" adalah kalimat yang saya suka sekaligus benci.
Secara keseluruhan, kalimat itu menyiratkan harapan akan masa depan yang lebih baik. Hingga menjadi motivasi bagi diri sendiri untuk bersiap menghadapi beban itu di masa depan.
Tapi di saat yang sama bukankah itu berarti: bahwa kehidupan masa kini belumlah cukup. Dan kalau memang bagitu, kemana 'generasi penerus bangsa' dari masa sebelumnya?
Apalagi melihat dari siapa kalimat-kalimat ini keluar. Sebelum mengatakan hal ini, saya akan meminta maaf terlebih dahulu karena mungkin yang akan kalian baca ini agak menyinggung bahkan terkesan kurang ajar. Tapi tolong baca sampai selesai, karena semuanya murni dari pemikiran naif remaja saya.
Jadi, sepertinya kita setuju kalau kalimat "generasi penerus bangsa" ini banyak diungkapkan oleh orang-orang yang lebih tua, lebih khusus: guru. Ini kadang jadi pikiran saya sendiri tentang apa saya sungguh akan terus menulis guru dikolom cita-cita di setiap kesempatan.
Karena jujur saja, rasanya terdengar (sekali lagi maaf) bodoh. Kita penerus bangsa yang menuntut ilmu untuk mendidik penerus bangsa berikutnya. Lalu kapan kita sendiri membangun bangsa? (tolong jangan marah dulu, saya belum selesai)
Hal yang kurang lebih mirip juga terjadi setiap saya melihat semua postingan soal bagaimana hancurnya generasi milenial dengan semua teknologi dan kurangnya sosialisasi dan bla bla bla. Baiklah, mungkin memang kejadiannya seperti itu, tapi saya sendiri mau tanya, apa yang sudah kalian lakukan untuk mencegah supaya hal itu tidak terjadi? Atau kalian terlalu menikmati mengejeki anak-anak yang hidup dengan teknologi yang lebih maju ini, fokus pada kekurangannya tanpa berusaha membuat perubahan yang kalian bilang lebih baik itu?
Tapi kembali ke topik. Intinya, diri saya yang remaja melihat adanya gap antara masa lalu dan masa depan, dan bertanya-tanya apa yang dilakukan orang-orang di masa kini. Alasan saya bisa mempertanyakan ini mungkin juga sama tidak termaafkan seperti pernyataan sebelumnya: saya, simply, tidak sadar dengan apa yang sedang terjadi di sekitar.
Tahun ini saya mulai kuliah, dan bisa di bilang saya menemukan jawabannya.
Gema teriakan 'Hidup Mahasiswa!' awalnya membuat saya risih. Ada apa dengan orang-orang yang bangga dengan status pendidikannya ini, pikir saya yang clueless itu. Tapi masa orientasi mahasiswa baru rasanya betul-betul berkesan dan saya mulai memahami beberapa hal.
Ngomong-ngomong saya bilang 'berkesan' karena masa orientasi smp dan sma tidak seberkesan itu. Setidaknya ungkapan "kalian bukan anak sd/smp lagi" hanya membuat saya menggerutu sambil menyeru stfu dalam hati. Dan butuh beberapa waktu sebelum akhirnya saya sadar bahwa saya sudah berubah.
Sementara masa orientasi mahasiswa, rasanya seperti dunia jungkir balik. Selain karena tekanannya memang kerasa berat banget buat saya yang lemah fisik dan mental ini. Juga karena saya tiba-tiba diberi jawaban soal pertanyaan yang mengusik saya.
Para pemuda. Sekarang. Konkrit.

Memang masih ada masalah-masalah SMA yang aku alami lagi semasa kuliah. Tapi seharusnya keadaan tidak menjadi lebih buruk, mengingat aku audah pernah mengalaminya selama tiga tahun, aku harusnya bisa bertahan selama tiga tahun lagi. Lagipula keadaan akan berbeda karena sekarang aku tau apa masalahku, dengan begitu aku bisa mencari solusinya.

Semua akan jadi lebih baik, semuanya sudah sangat baik. Terdengar seperti delusi, tapi bukankah kau adalah apa yang kaupikirkan? Atau versi relijiusnya, ucapan adalah do'a.

P.S.
Beberapa dari kalian mungkin merasa postingan ini terlalu personal, atau sejahat menganggapnya terlalu dramatis. Aku sadar tidak bijak membagi semuanya di internet. Tapi bagiku, ini adalah salah satu usahaku untuk merasa lebih baik. Aku tidak tau siapa yang akan membaca tulisanku ini, apakah oleh orang-orang yang mengenalku, apakah teman-teman sekolahku, apakah orang asing yang mengalami masalah yang sama.

Mungkin kedengarannya seperti sebuah surat sakit hati jika aku berharap teman-temanku membaca ini. Tapi yang jelas aku hanya ingin membiarkan orang lain tau. Bukan hanya tentang apa yang aku alami selama ini tapi juga bahwa aku membaik. Kenapa? Sebab tulisanku yang sudah terlanjur ku posting sebenarnya mempunyai aura ini. Dan aku tak bisa menghapus mereka begitu saja karena beberapa berkaitan. Intinya aku ingin akhir yang bahagia.

Jadi kalau kau temanku, dan kau entah bagaimana merasa tersinggung. Aku hanya ingin bilang, ini sama sekali bukan salahmu aku menderita. Aku tidak menyalahkanmu. Tidak. Salahnya ada padaku, pada otakku, jadi jangan khawatir.

Dan untukmu yang mempunyai masalah yang sama. Aku hanya ingin bilang bahwa kau tak seperti apa yang pikiran jahatmu pikirkan. Kau berharga. Orang-orang mencintaimu. Dan aku tau betapa kau merasa kalau kata-kataku barusan tidak berarti. Tapi sungguh, kau berharga, kau bukan sampah. Kau tidak sendirian. Bahkan meski kau melakukan beberapa kesalahan itu bukanlah hal besar. Doing bad thing doesn't makes you bad person. Mulailah bicara dengan orang yang kau percaya, kalau kau tak percaya siapapun tak apa, kau bisa bicara dengan orang asing. Aku mau bicara denganmu. Masalahmu nyata, aku mengerti dan tak akan menghakimimu. Jadi mari sama-sama menjadi lebih baik.

14 Juni 2017

Sua Kafi

(Bingung bikin judul 😪)

Yang pantas untuk di kenang, belum tentu pantas untuk di bagi. Memang. Tapi masalahnya, saya tidak bisa memastikan apa catatan ini akan selamanya berada di ponselku agar bisa kukenang. Atau sebuah kecelakaan terjadi sehingga aku tak bisa membacanya lagi.

Jadi biarpun orang-orang selalu bilang, internet is not you diary, saya tetap akan mempublikasikan ini.

Dibanding sebelum-sebelumnya. Ini adalah bukber bareng TC yang paling singkat perencanaannya. H-1 dong! Awalnya, saya dan Intan berencana pergi pada tanggal 12 Juni, bersamaan dengan jadwal rilis Bintang. Tetapi sesudah dirundingkan, kami memilih tanggal 11. Beruntung Gramedia Botani Square sudah memajang Bintang beberapa hari sebelum jadwal resmi rilisnya.

Dan yang paling spesial dari semuanya. Kali ini Galuh ikut! Beneran deh, terakhir saya ketemu Galuh itu tiga tahun lalu pas perpisahan SMP. Dan jelas kangen banget sama makhluk satu ini.

Jadi ketika itu, saya berangkat jam satu siang. Setelah membeli kuota di kounter depan gang, memasuki angkot dan mengabari Fira dan Hania. Jalanan macet waktu itu, mungkin karena itu hari Minggu. Tapi sejujurnya, kemacetan itu tidak separah macet hari Minggu di hari bukan Ramadan. Ketika Fira naik, kami langsung tertawa dan dia menanyakan kabar Wool, novel yang saya pinjam setahun yang lalu. Akhirnya, saat itu sampai kami menjemput Hania, kami membahas novel fiksi-ilmiah yang buku kedua dan keyiganya tidak diterjemahkan itu. Kemudian Hania naik, lalu kami meneruskan perjalanan sampai Ciawi.

Kami mencari-cari Intan yang katanya menunggu di bawah tugu selamat datang. Ternyata lebih sulit dari yang dibayangkan. Hania sampai berteriak saat berhasil menemukannya. Dan ya lanjutkan lagi perjalanan ke Bogor.

Saat turun di depan Happy Puppy, saya terlalu sibuk dengan kembalian angkot, sehingga agak terlambat menyadari histeria yang lain saat bertemu Galuh. Gadis itu menghalangi wajahnya seperti seorang penjahat, tapi yang jelas kami semua tertawa. Bahasan pertama Galuh adalah bertanya pada Hania apa dia sudah mencetak kartu peserta UTMI. Dan kata-kata pertama saya pada Galuh adalah bilang padanya kalau suaranya terdengar lucu. (Sebenarnya tidak juga, suaranya masih sama persis dengan yang saya ingat tiga tahun lalu, rapi tidak lama mendengarnya jadi terasa aneh)

Mila menyadarkan kami semua dan menunjukkan bahwa Happy Puppy tutup. Kami berjalan kaki ke salah satu tempat karaoke yang lain dan menyadari kenyataan yang sama. Pun ketika berjalan kaki (yang kali ini dipenuhi drama Galuh mau kabur untuk mencetak kartu pesertanya) lagi sampai Lippo. Bioskop XXI menggoda kami untuk mengecek, meski semalam sudah disepakati kalau menonton film di hari Minggu itu terlalu beresiko untuk kantong, kami tetap masuk dengan alasan Fira yang mau memenuhi panggilan alam. Duduk di salah satu lorongnya, Intan mengusulkan supaya kami menunggu saja di sana sampai jam empat, karena kalau menonton pun waktu akan terlalu lama terlewat dan kami mungkin takkan sempat untuk berbuka.

Tapi akhirnya, kami pergi ke Botani Square karena sebentar lagi Ashar. Duduk bersamanya Galuh dan Hania di dalam angkot berarti pemenuhan salah satu janji mereka semalam. Hania meminjamkan ponselnya, agar Galuh bisa menonton video-video komedi yang kami buat waktu SMP. Tawa memenuhi angkot hari itu, selain juga rasa jijik dan malu.

Setelah shalat di Masjid Alumni IPB, kami langsung masuk dan mampir ke FunMart. Rupanya ada sudut karaoke kecil di sana yang bisa kami pakai untuk menghabiskan waktu. Sayang saat kami ke sana seluruh tempat itu sudah penuh, terpaksa kami menunggu sambil sesekali mengutuk seorang mbak-mbak yang tampak sendirian saja dalam sebuah bilik.




Ketika kami akhirnya mendapat sebuah bilik. Semuanya langsung riweuh memilih lagu. Bilik sebelah samar-samar terdengar sedang memainkan Surat Cinta untuk Starla, dan kami bergidik karena rupanya lagu itu ada di Top 100. Agak sulit juga memilih lagu, kebanyakan lagu-lagu di sana hanya lagu lama sehingga kalau di bilang kami memilih berdasarkan keseriusan untuk menikmatinya, ya tidak juga. Lagu-lagu yang agak modern seperti Closer tidak begitu di sambut baik, dan kami malah lebih sibuk berfoto-foto saat itu. Kemudian mengikuti naluri, lagu-lagu berikutnya yang lebih mengundang tawa menghadirkan suasana yang lebih seru. Seperti Chandelier, yang mengizinkan untuk berfals-fals ria, Kambanglah Bungo dan Never Say Never, untuk menghormati masa lalu, juga Surat Cinta untuk Starla dengan alasan ironis. Kadang, kami ikut menyanyikan lagu-lagu bilik sebelah yang lebih normal.

Pukul lima, kami sepakat sudah waktu yang tepat untuk mencari tempat, apalagi jaga-jaga kalau foodcourt Botas sudah penuh. Dan ternyata memang sudah penuh di semua tempat. Belum lagi Galuh yang terus merajuk ingin mencetak kartu peserta. Hampir setengah jam berkeliling tanpa hasil, kami memutuskan pergi ke Giant untuk membeli makanan ringan untuk berbuka. Setelah sebelum mendaftarkan nama Intan di waitinglist sebuah tempat makan.

Setelah riweuh memilah-milah aqua, kami duduk tidak jauh dari pintu masuk. Sekalian sibuk menghubungi GrabExpress untuk mencetak kartu peserta Galuh dan mengenang masa lalu di mana kami adalah sekumpulan anak cupu tukang bully, ckckck. Beberapa saat setelah Adzan Maghrib, kami kembali ke Masjid Alumni IPB. Galuh dan Hania pergi sebentar untuk mengambil hasil cetakan kartu peserta.

Ketika kembali kederetan tempat makan di lantai 2 Botas, kami harus dikecewakan oleh mbak-mbak pencatat reservasi yang justru tidak ingat kami pernah mendaftar. Foodcourt, memang masih ramai, tapi setidaknya ada kepastian orang-orang akan segera pergi. Dan ya, akhirnya kami dapat tempat dan makan dengan damai.

Dan tentu saja, setelah itu kami beli D'crepes wkwkwk. Saya dan Intan pergi duluan ke lantai bawah untuk mampir dan membeli obat di Giant, lalu memutuskan untuk mampir dan membeli Bintang di Gramedia dan langsung ke tempat karaoke mini di Funmart.

Ketika yang lain sampai. Galuh mengusulkan untuk langsung pulang karena saat itu sudah jam 8.30, time sure goues fast. Setelah transfer buku antara saya dan Intan, kami kemudian lekas pulang. 
Bahasan terakhir di angkot hari itu adalah pengalaman UN, dan SBMPTN masing-masing. Serta tentang cita-cita konyol dan hal-hal tentang sekolah.

Another great days has been passed. Saya ketawa banyak banget hari itu, dan jelas bersyukur sekali bisa bertemu mereka lagi.

Tapi toh, bersama kesulitan ada kemudahan. Mungkin karena alasan yang sama keesokkan harinya saya menemukan Si Ekor Pendek terbujur kaku. Tidak ada hubungannya sih, tapi rasanya kok kebahagiaan saya cepat sekali berlalu.

3 Juni 2017

(Review) GOSICK



Titles: GOSICK -ゴシック-
Type: TV
Episodes: 24
Status: Finished Airing
Aired: Jan 8, 2011 to Jul 2, 2011
Premiered: Winter 2011
Producers: TV Tokyo, Kadokawa Shoten, KlockWorx, Memory-Tech, NTT Docomo
Licensors: FUNimation Entertainment
Studios:Bones
Source: Light novel
Genres: Mystery, Historical, Drama, Romance
Duration: 20 min. per ep.
Rating: R - 17+ (violence & profanity)

Setelah perang berakhir, Akademi St. Marguerite akhirnya membuka penerimaan pelajar asing. Dan salah satu dari mereka adalah Kujou Kazuya yang datang dari Jepang. Menjadi satu-satunya orang bermata dan berambut hitam, pada masa-masa awal sekolahnya Kujou sering dikaitkan dengan mitos malaikat maut musim semi yang beredar di sekolahnya. Dan membuatnya dijauhi dan tak punya teman.

Takdir kemudian membawanya pada Victorique, seorang gadis berambut pirang yang selalu berada di lantai teratas perpustakaan, yang juga dijauhi oleh mitos peri emas perpustakaan. Victorique rupanya bukan orang sembarangan, selain adik dari Grevil Blois, seorang Inspektur bergaya nyentrik, ia juga putri dari Marques de Blois, pemimpin kementrian Ilmu Gaib.

Victorique, dengan semua kemisteriusanmya, rupanya mempunyai otak yang cerdas. Sebuah kualitas yang ia dapatkan dari ibunya. Dengan kemampuannya itu, ia dan Kujou menyelesaikan banyak kekacauan di sekitar mereka. Meski begitu, kekacauan yang terlalu pelik pun akhirnya mengacaukan mereka.

Saya ngeberesin Anime ini cuma dua hari dong! Gila gak sih?!

Pertama tau anime ini dari 'Ai, yang bilang kalau genre anime ini itu detektif. Meski udah minta filenya dari lama, baru sempet nonton sekarang-sekarang (setelah hiruk-pikuk ujian berakhir). Itupun sebenernya karena awalnya saya sangsi anime ini seseru yang Ai bilang.

Mungkin karena episode pertamanya yang memberi kesan fantasi? Bukannya saya gak suka fantasi sih, suka banget malah, tapi lagi gak mood aja waktu itu. Dan yah, sekarang saya nonton ke 25 episode nya dalam dua hari. Hahahah.

Gosick berlatarkan di Saubure, sebuah negara fiktif yang terletak diantara Perancis, Swiss, dan Italia. Dengan pilihan waktu di sekitar awal abad ke duapuluh. Anime ini juga menghadirkan suasana Perang Dunia pertama kala itu. Juga bagaimana mulai memudarnya kepercayaan pada ilmu gaib.

Saya sendiri seneng banget sama latarnya ini. Mungkin karena kebanyakan baca novel Agatha Christie, style bangunan, pakaian, dan budayanya kurang lebih sama, dan bikin saya berasa familiar. 

Ngomong-ngomong, sebenernya genre anime ini memang lebih ke misteri (hiyalah) dan drama. Meskipun disebut-sebut bahwa kemampuan Victorique memecahkan kasus itu datang dari darahnya, tapi penjelasan-penjelasannya selalu masuk akal dan berdasarkan petunjuk-petunjuk.

Seperti yang dia bilang, ilmu gaib itu hanya tiruan ilmu pengetahuan saja.

Pada episode 1-10, Victorique dan Kujou masih hanya menyelesaikan kasus-kasus yang berhubungan dengan mitos-mitos di sekeliling mereka, (karena hal-hal gaib masih sangat dipercaya saat itu). Kasus-kasus yang di minta oleh inspektur Blois agar ia bisa mengambil keuntungan dari sana. Dan mitosnya banyak banget, sampe kerasanya, jujur aja kayak maksa.

Lalu di episode 12-25, kasusnya mulai melingkupi hal-hal pelik yang melingkupi Saubure. Dan yang memintanya, bukan lagi Grevil Blois, tapi sang ayah langsung, Marquis Blois. Ini juga mungkin jadi alasan, kenapa latar animenya harus menggunakan negara fiktif alih-alih negera Eropa yang sudah ada. Masalah-masalah yang bersifat politik sangat kental terasa di bagian ini.

Perkembangan karakter dari bagian pertama ke bagian kedua juga terasa. Grevil yang awalnya benar-benar hanya memanfaatkan Victorique, akhirnya sadar dan pindah haluan. Avril, yang belajar untuk merelakan cintanya. Dan tentu saja Victorique dan Kujou akibat kedatangan satu sama lain, mendapatkan alasan untuk hidup mereka masing-masing.

Poin plus lainnya, yah mungkin karena lagi-lagi latarnya dan penampilan Victorique yang loli abis. Berbeda dari kebanyakan anime, anime satu ini gak ada sama sekali adegan 'geuleuh' nya. Jadi yah, buat yang punya kompas moral yang cukup lurus dan sering merasa terganggu, anime ini recommended banget. 

11 Maret 2017

(Review) Kong: Skull Island

9 Maret 2016

Hari ini hari yang berkesan, ya? Menilik betapa hal-hal spesial di masa lalu juga sering terjadi di tanggal ini, saya mulai merasa takut.

Ngomong-ngomong, memang sudah cukup lama semenjak saya menulis. Hal-hal terjadi begitu cepat dan menyeramkan di semester dua. Padahal awal tahun lalu saya sudah bertekad untuk aktif menulis Kuwalaya, tapi meh. Bahkan kegiatan mereview pun sama nasibnya. Dan ini bulan Maret, kalender saya mengatakan saya bakal ujian selama tiga minggu berturut-turut.

Saat ini pun pikiran saya berkecamuk dengan daftar hal yang harus di lakukan. Tugas praktik bahasa Indonesia, ide cerita yang menuntut di eksekusi sejak pagi, komik strip yang harus saya edit lagi. Dan yah, Kuwalaya.

Jadi pagi ini saya awali dengan santai seperti biasa, kebetulan hari itu ketemu Eka yang kemudian mengabarkan bahwa seorang teman SD kami menikah dan saya cuma bisa bilang wow.

Kemudian US. Hari terakhir diisi dengan pelajaran matematika peminatan dan penjaskes. Dan Matematikanya ... Jangan ditanya.

Padahal dua hari lalu saat mengerjakan matematika wajib, saya merasa sangat percaya diri tapi matematika peminatan membuat saya bahkan hampir menangis dan muntah di saat yang bersamaan. Untung setelahnya penjaskes yang tidak terlalu buruk.

Setelahnya, saya dan Hania memenuhi janji kami sejak seminggu lalu. Merehatkan kepala sejenak dengan pergi ke bioskop.

Maksud hati ingin nonton Split, film thriller soal kepribadian ganda. Sayang sepertinya keburu habis masa tayangnya. Pilihan berikutnya jatuh pada Logan. Yang, walau saya bukan penggemar film x-men sepertinya cukup menarik untuk di tonton.
Sayang kami terlambat sampai sana. Dan pada akhirnya memilih Kong: Skull Island, dengan harapan banyak pada Tom Hiddleston.

Saya sempat khawatir kalau film ini tidak lebih dari film remake King Kong sebab premis yang sama tapi ternyata enggak juga.

Film Kong di mulai dengan penampakan orang yang jatuh dari langit. Bersetting tahun 1944 pada masa Perang Dunia Kedua. Dua orang pria, satu orang Amerika dan satu orang Jepang terang-terangan sedang punya masalah yang menyangkut negara mereka.

Sayang pertarungan mereka harus di jeda oleh kemunculan Gorila raksasa.

28 tahun kemudian, banyak hal telah terjadi, perkembangan iptek terutama telah membuat manusia bisa menempatkan satelit buatan untuk menghasilkan foto bumi.

Adalah seorang tua ... , seorang peneliti yang menemukan sebuah pulau misterius di Pasifik Selatan melalui foto satelit. Ia hendak mengajukan ekspedisi untuk menelitinya, herannya ... juga meminta bantuan sepasukan tentara (yang baru saja mundur dari Perang Vietnam) serta suplai senjata yang sangat banyak.

Dan kisah pun berlanjut.

Yang paling nyebelin dari film ini,adalah bagaiman mereka menjatuhkan ekspektasi saya begitu saja. Scriptnya membuat kehadiran Tom Hiddleston gak lebih selain buat promosi aja. Serius deh, situ gunanya apa?

Makin kentara ketika dia sama sekali gak dapet luka berarti setelah adegan kecelakaan pesawat. Beda banget sama tentara-tentaranya yang berdarah di mana-mana. Mentang-mentang ganteng, mukanya gak mau dirusak, hih. Bahkan waktu mereka terpisah pun, Conrad bisa di bilang dapet cobaan yang lebih mudah daripada tentara lainnya. Kalo film ini bermaksud menghadirkan dia sebagai peran utama, yah, mereka gagal. Udah mah karakternya labil dan bisa dibilang nyari aman mulu, hih. Conrad? More like Coward, I bet.

Tapi untuk hal lainnya, ntaps lah. Graphicnya keliatan nyata banget, apalagi kalo nontonnya 3D ya? Kayaknya bakal keren banget.

Hubungan antar tokohnya juga sweet banget. Saya gak ngomongin hubungan romance hero sama heroinnya lo, malah lebih terharu sama hubungan Chapman dan anaknya serta Cole sama temennya itu. Duo ini bikin ngakak mulu :D.

Jadi yah, saya gak mau bahas banyak-banyak. Kong ini lumayan. Banyak hal yang bikin kesel, tapi menghibur juga.

Dan akhirnya bikin saya merasa lebih baik setelah ulangan matematika yang bikin mau nangis itu. Saya jadi lebih tenang dan inget kalo nilai itu gak lebih dari tinta di atas kertas. Gak penting-penting banget, karena banyak hal lain yang lebih luar biasa daripada itu. Intinya, saya gak bakal mati meskipun nilai jelek.

Hal berkesan lainnya yang terjadi adalah, saya pulang di sambut kalau kucing rumah melahirkan. Dia kucing kampung yang jag ujug datang, sering banget berantem sama si emeng, but at least she's more usefull. Ngomong-ngomong kelurga saya bahkan nggak ngasih nama buat kucing ini wkwk.

Udah ah..

21 Januari 2017

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 20

Pukul satu pagi, Alya melirik jam dinding yang ada di lobi. Kepalanya masih terasa berputar mencari informasi tentang apa yang sedang terjadi, meninggalkan ekspresi tidak jelas antara awas dan bingung. Fauzi, jujur saja, selalu ingin tertawa melihat ekspresi itu, ekspresi bangun tidur Alya dalam keterkejutan bisa dikatakan lucu, gadis itu seolah berusaha menipu semua orang bahwa sejak awal ia tidak tidur sama sekali. Yang jelas-jelas gagal.

Tapi itu bukan fokusnya untuk saat ini. Pukul satu pagi, rumah sakit sepi bukan main. Masih terdengar suara kasak-kusuk obolan para perawat yang jaga malam di ruang perawat, tapi selebihnya, hanya suara angin malam dan nyanyian jangkrik yang bisa mereka dengar. Dan Fauzi rasa, empat jam tadi ckup untuk gadis itu tadi beristirahat. Yah, jika mengingat Alya habis menggotong dua pria dewasa, berkeliling rumah sakit membangunkan orang-orang selama enam jam dan tidak lupa jelas-jelas kurang tidur sejak pagi, sepertinya masih kurang, sangat kurang malah. Ia sendiri terkejut, bagaimana gadis ini bisa punya ketahanan fisik sekuat itu?

Dan mengabaikan tatapan kesal Alya—baiklah aku akan tidur satu jam, bangunkan aku, kata Alya empat jam lalu—memberi kode agar mereka segera bergerak. Pukul satu pagi, seharusnya tak akan ada yang sadar kalau mereka pergi. Yah, lagipula, kalau orang seperti Leon dan anak buahnya bisa masuk tanpa kesulitan berarti, kenapa Fauzi dan Alya tak bisa keluar tanpa di curigai?

“Ada rental sepeda sekitar lima puluh meter dari toko swalayan yang kita kunjungi kemarin, kau bawa uang?”

Alya mengangguk,

“Bagus. Kau bisa keluar dengan mudah lewat pintu depan. Lalu cepat pergi ke rental itu dan pinjam dua sepeda, yang ada boncengannya. Sedangkan aku,” Fauzi menghela nafas sebentar “karena statusku saat ini sebagai pasien, tak akan ada yang santai melihatku berjalan malam-malam. Sulitnya, semua orang rumah sakit ini mengenalku, jadi kupikir aku akan ambil rute yang lebih jauh”

“Setelah itu?” Alya bertanya “Aku harap kau ingat kalau aku tak mau ini jadi misi mati konyol”

“Kita akan berusaha sebisa mungkin menipu Leon, tapi aku sendiri tidak yakin” dan hal tersebut terang-terangan terpancar dari wajahnya. Tujuan utama Fauzi saat ini cukup sederhana, ia hanya ingin menyelamatkan Faiza dan Aldo—dan dengan semua nalurinya untuk menghindari bahaya—maka rencananya pun sederhana.

Alya menyadari ini. Tapi kalau mengingat orang-orang ini mengejar mereka terus-menerus, bisa-bisa hidup mereka tak akan pernah tenang sampai kapan pun. Ia juga sadar itu ambisi yang terlalu tinggi, tapi Alya ingin ... setidaknya memastikan kalau mereka tidak akan di buru lagi.

“Soal itu biar aku yang urus” ujar Alya tiba-tiba “pertama-tama kita selamatkan Faiza dan Aldo dulu”

Fauzi mengangguk, dan dengan begitu mereka berdua berpisah.

Hampir semua sudut rumah sakit diberi perlengkapan CCTV. Dan meski kesal jika ia ingat soal penculikkan Faiza yang terkesan sangat mudah akibat pembajakkan frekuensi, Fauzi tetap tidak bisa mengabaikannya. Tujuan utamanya adalah mendapatkan adik dan sahabatnya kembali, tujuan minornya adalah tidak membuat siapapun khawatir, terutama ibunya. Jadi Fauzi memutar otak.

Eh, mereka tak mungkin memasangnya di kamar mandi kan? Fauzi segera memeriksanya, dan mendapati bahwa dirinya benar. Dan senyumnya terkembang ketika melihat jendela kecil di atas dudukkan toilet. Tidak terlalu besar memang, tapi kalau dikira-kira sepertinya ia akan cukup masuk ke sana, lagipula postur tubunhnya juga tidak terlalu besar.

Satu-satunya masalah adalah posisi jendela itu. Fauzi mungkin saja mencapainya dengan berdiri di atas dudukkan toilet dan memanjat. Hanya saja, turun nanti mungkin akan menyakitkan. Dan kalau ia tidak salah ingat, gedung ini dibangun di tanah yang tidak rata. Dengan kata lain ada kemungkinan kalau tanah pijakkannya bisa jadi lebih rendah daripada ruang kamar mandinya.

Fauzi mengurut kening, dia tidak mau ambil resiko tulangnya patah karena jatuh. Setelah ini dia masih harus bersepeda ke rumah Dokter Kamil dan seingatnya medannya sama sekali tidak nyaman untuk dilewati orang patah tulang.

Ia keluar kamar mandi dengan gelisah. Matanya melihat keseliling dan melihat ibunya tidur di sofa tanpa selimut. Perasaan sedih memenuhi dadanya, ia juga bertanya-tanya kenapa hal buruk pada keluarganya. Belum lagi, ayah yang jarang sekali pulang, dalam setahun kepulangannya bisa dihitung jari. Kali ini perasaan bangga menelusup di antara rasa sedihnya. Ibunya wanita yang kuat.

Fauzi berjalan keranjangnya sendiri dan menarik selimut. Ia berniat menyelimuti ibunya, tapi sebuah ide lain tiba-tiba terpikir olehnya. Pelan-pelan diletakkan selimut itu di lantai dan ia mulai menarik spray kasurnya. Selimutnya terlalu tebal untuk ia jadikan tali, tapi spray kasurnya lain.

Fauzi mengendap-endap lagi ke kamar mandi dan mengikat ujung kain itu di selot pengunci jendel yang bentuknya seperti gagang pintu. Ia kemudian kembali untuk menyelimuti ibunya. Saat ia hedak masuk lagi ke kamar mandi, ia mendengar ibunya memanggilnya. Ia menghela nafas, lalu berbalik.

Sebelum ia sempat melontarkan kebohongan, ibunya menyahut.

“Hati-hati”

***

Fauzi meringis, dugaannya benar. Tanahnya tidak rata, dan meski dengan bantuan selimut itu, dia tetap jatuh dengan menyakitkan.

Tapi ia tak bisa berlama-lama berdiri disana sambil mengelus-elus pantatnya. Alya pasti sudah menunggu sekarang, dan begitu juga dengan Aldo dan Faiza. Kata-kata ibunya tadi terdengar aneh, mungkin ia mengigau. Tapi tetap saja ia menjadi lebih tenang setelah mendengarnya. Entah ibunya memang mendukungnya untuk membawa Faiza pulang atau ia sudah lelah dengan semua hal aneh yng menimpa anak-anaknya. Tetap saja, rasanya seolah ibunya bedoa untuk keselamatannya sendiri.

Dan sekarang, ditambah ia sudah tau siapa musuhnya. Fauzi tak akan ragu lagi, ia tidak akan mengabaikan instingnya lagi, ia tak akan mengindahkan rasa takutnya lagi, toh itu membuatnya jadi waspada dan akan menyetirnya pada keberhasilan.

Fauzi berjalan, ia berada di bagian ujung kompleks rumah sakit. Sebuah tembok tinggi berdiri gagah di hadapannya, membatasi dirinya dengan jalanan. Nah, sekarang apa yang harus ia lakukan? Dari arah datangnya, Fauzi tau ia ada di belakang gedung rawat inapnya. Jika ia ke kiri, dan berbelok, ia akan melihat jendela kamarnya sendiri dan jalan utama menuju gerbang. Sama halnya jika ia ke kanan. Dengan kata lain buntu.

Satu-satunya kesempatan adalah tembok di hadapannya ini.  Baiklah, ujarnya dalam hati, tak ada pilihan lain. Fauzi meraba pinggiran tembok itu, cukup kasar dan ada beberapa lekukan yang bisa ia jadikan piakkan. Untung saja bagian atasnya tidak ditempeli benda tajam. Mungkin karena pihak rumah sakit tidak berpikir akan ada pencuri yang memanjat dari sisi lainnya.

Tunggu dulu, Fauzi menelan ludah, mungkin bukan karena tak akan ada yang memanjat, tapi tak ada yang bisa memanjat. Dan sebelum sempat memikirkan alasannya, Fauzi terpaku melihat bagian bawah sisi lain tembok itu. Tentu saja, sama seperti ia mendapati sisi lain kamar mandi lebih rendah dari pada kamar mandinya, bagian lain tembok itu juga begitu.

Dan lebih parah, ada selokan di sana. Fauzi sudah selamat dari kemungkinan patah tulang karena jatuh dari jendela kamar mandi, dan sekarang ia medapat peluang untuk mengerang di selokan. Sungguh tidak elegan.

Persetan! Serunya dalam hati. Fauzi memilih untuk melompat ke depan. Kalau ia beruntung, ia akan sampai di jalanan alih-alih di selokkan. Mungkin rasa sakitnya tidak berbeda, tapi setidaknya ... Fauzi juga tidak tau kenapa berpikir ide itu lebih baik.

Sayang pemilihannya waktunya tidak tepat. Fauzi melompat dan dari sudut lompatanya ia tau ia akan sampai di jalan dengan kaki duluan, hanya saja saat itu sebuah mobil datang dari arah kanannya sambil membunyikan klakson keras-keras.

Fauzi refleks melakukan gerakan berputar begitu sampai di jalan, sehingga ia terduduk di seberang jalan. Pengemudi mobil tadi meneriakkan sumpah serapah sambil bergerak. Sedangkan Fauzi susah payah menenangkan diri. Jantungnya berpacu terlalu cepat sampai ia rasanya lupa caranya bernafas. Tadi itu nyaris sekali.


Tak ada waktu untuk memikirkan bagaimana Fauzi bisa melakukan roll depan sempurna—sementara selama ini selalu gagal dalam tes olahraga—ia harus segera ke Alya.